Surat itu sampai lewat ibu kos, terselip di antara tagihan listrik dan brosur laundry, dilipat dua dengan sudut yang sudah kusut oleh tangan yang tak sabar. Ibu kos menyerahkannya sambil lalu, dari balik meja kayunya yang penuh gelas kopi, tanpa tahu apa yang ia titipkan. "Dari yayasan, katanya," ujar perempuan itu, lalu kembali pada sinetronnya. Arsa menerima amplop itu dengan jari yang kini selalu ia awasi diam-diam, seakan tangannya adalah orang asing yang tinggal serumah dengannya. Kertas di dalamnya tebal, mahal, berkop Yayasan Wreksodiningrat. Ia tak perlu membaca sampai habis. Satu kata di baris ketiga sudah cukup: ditarik.
Ia berjalan ke institut dengan surat itu dalam saku jaket, menempuh Wonokromo yang basah sisa hujan semalam, melewati gang-gang yang mengenalnya sejak kecil. Absolute pitch-nya menangkap bunyi kota tanpa ia minta — klakson yang sedikit sumbang, dentang panci dari warung, seekor burung yang bersiul di nada yang salah. Dulu semua itu adalah musik. Pagi ini semuanya terdengar seperti ejekan kecil yang tak henti.
Koridor marmer institut memantulkan langkahnya, dingin seperti biasa, mengilap seperti biasa. Tapi ada yang berbeda di ujung koridor, di depan Ruang Latihan nomor 7. Pintu yang selama ini menjadi miliknya, tempat ia menghabiskan ratusan malam, kini terbuka lebar. Dua orang berseragam sedang memasang tali pengaman pada roda-roda besi. Dan di sana, di tengah ruangan yang tiba-tiba terasa terlalu terang, berdiri Ibu Widari — tegak, austere, tangannya terlipat di depan mantel abu-abunya, memandangi grand piano warisan itu seolah menghadiri pemakaman yang sudah lama ia perkirakan.
"Kau datang," katanya, tanpa menoleh. "Bagus. Aku tidak suka melakukan ini di belakang punggung orang."
Arsa berhenti di ambang pintu. Ia menatap grand piano itu — tutup atasnya sudah diturunkan, penyangganya dilipat, papan tutsnya dikunci dengan kain flanel yang membungkus gading seperti kain kafan. Kilau hitam kayunya yang biasa memantulkan wajahnya kini memantulkan langit-langit kosong.
"Ibu Widari," suaranya keluar lebih serak dari yang ia mau. "Peringkat saya masih—"
"Peringkatmu turun tiga tingkat semester ini." Kini ia berbalik. Matanya tidak keras. Justru itu yang paling menyakitkan; tidak ada kemarahan di sana, hanya sesuatu yang lebih tua dan lebih letih. "Tapi bukan itu klausanya, Arsa. Kau tahu klausanya."
Ia tahu. Ia sudah menandatanganinya dengan tangan gembira yang bodoh, di Bab awal hidupnya di sini, ketika grand piano ini masih terasa seperti mukjizat yang dipinjamkan langit. Ditarik seketika bila prestasi turun atau bila ia cedera. Dua pintu menuju kehilangan, dan ia telah membuka keduanya sekaligus.
"Saya tidak cedera," katanya. Kebohongan itu terasa busuk di lidahnya bahkan sebelum selesai diucapkan.
Ibu Widari memandangnya lama. Di ruangan itu hanya ada bunyi tali yang dikencangkan, decit roda yang diminyaki, napas Arsa sendiri yang tak beraturan. Lalu perempuan tua itu berjalan mendekat, dan untuk pertama kalinya sejak Arsa mengenalnya, ia menurunkan suaranya sampai hampir tak terdengar oleh dua pekerja itu.
"Aku sudah menua di sekitar pianis, Nak. Aku tahu bagaimana rupa tangan yang berbohong." Ia menunduk sedikit, menatap jari-jari Arsa yang tanpa sadar telah mengepal di dalam saku. "Aku melihatmu di masterclass. Semua orang melihatnya. Aku hanya menunggu sampai kau siap berhenti berpura-pura."
Arsa membuka mulut, tapi tidak ada apa pun di sana. Salah satu pekerja mendorong grand piano itu, dan roda-rodanya berderit pelan, bergerak beberapa senti dari tempatnya berdiri selama entah berapa tahun. Bunyi itu — gesekan besi pada marmer — masuk ke dalam absolute pitch-nya dan tinggal di sana, sebuah nada yang tak akan pernah bisa ia lupakan. Bukan B fals. Sesuatu yang lebih rendah. Nada perpisahan yang tak ada dalam tangga nada mana pun.
"Tolong," katanya, dan ia benci betapa kecilnya kata itu terdengar. "Sebentar saja. Biar saya sentuh dulu."
Ibu Widari mengangkat tangan, dan kedua pekerja berhenti. Ia mengangguk sekali.
Arsa melangkah maju. Ia membuka kunci flanel dengan tangan kiri — hanya tangan kiri, kebiasaan baru yang licik yang tumbuh dari rahasianya — dan menekan satu tuts. C tengah. Nada itu mengisi ruangan dengan kehangatan gelap yang hanya dimiliki instrumen ini, warna yang tak pernah ia temukan di piano mana pun, warna yang telah mengubah permainannya menjadi sesuatu yang tak lagi ia kenali sebagai miliknya sendiri. Ia menekannya sekali lagi, membiarkannya membusuk perlahan di udara sampai habis.
Lalu ia menutup papan tuts. Sendiri. Ia tidak ingin tangan orang lain yang melakukannya.
"Eyang membeli piano ini di tahun ia berhenti bermain," kata Ibu Widari tiba-tiba, seakan kalimat itu lolos tanpa izinnya. Ia segera mengatupkan bibir, seolah menyesal telah membuka sedikit pintu itu. "Sudah. Bawa."
Roda-roda berderit lagi. Grand piano itu bergerak melewati ambang pintu Ruang Latihan nomor 7, keluar ke koridor marmer, memantul-mantulkan cahaya sepanjang jalan seperti benda yang terlalu agung untuk lorong sesempit ini. Arsa berdiri di ruangan yang mendadak kosong, di lantai tempat kaki-kaki besi itu meninggalkan empat lekuk pucat pada parket — bekas berat yang selama ini tak pernah ia lihat karena selalu tertutup.
Ia mendengar piano itu semakin jauh. Deritnya mengecil, lalu hilang di ujung koridor, ditelan pintu lift. Dan kemudian tidak ada apa-apa lagi. Hanya keheningan institut yang mahal, keheningan yang selalu ia kira sebagai kemewahan, dan kini ia tahu adalah bunyi paling sepi di dunia.
Ibu Widari sudah pergi entah sejak kapan. Arsa berdiri sendiri di tengah ruangan itu, memandangi empat bekas pucat di lantai, membuka telapak tangan kanannya dan menatap jari-jari yang telah mengkhianatinya — jari-jari yang telah kehilangan bukan hanya kemampuannya, tapi juga satu-satunya piano yang pernah membuatnya percaya bahwa anak pembantu dari Wonokromo bisa menjadi lebih dari sekadar tamu di dunia ini.
Ia tidak menangis. Air mata butuh tenaga, dan tenaganya sudah habis. Ia hanya mengangkat suratnya dari saku, melipatnya kembali di sepanjang garis kusut yang sudah ada, dan berjalan keluar dari ruangan yang tak lagi menyimpan apa pun untuk dipinjamkan.