Kunci kamar kos itu berputar dengan bunyi yang sama seperti dua tahun terakhir, tetapi malam ini bunyinya terdengar asing, seolah pintu itu membuka ruang milik orang lain. Arsa masuk, menutupnya pelan, dan membiarkan tasnya jatuh di lantai. Ia tidak menyalakan lampu. Dari jendela sempit, cahaya lampu gang menyusup, menggambar garis-garis kuning di dinding yang mengelupas.
Ruang Latihan 7 sudah tidak lagi miliknya. Kartu akses yang biasa ia gesek tiap subuh kini cuma sepotong plastik di dompet yang tak membuka apa-apa. Grand piano warisan Eyang Wreksodiningrat masih berdiri di sana, di institut, di balik pintu yang tak boleh lagi ia sentuh — di ruang yang sama, di lantai marmer yang sama, hanya kini dipisahkan oleh satu tanda tangan Ibu Widari di atas surat resmi. Arsa membayangkan penutup tuts gading itu diturunkan, kain flanel dibentangkan, dan ruangan dikunci untuk menunggu tangan lain yang lebih layak. Ia tak pernah membawa pulang piano itu; piano itu tak pernah bisa dibawa ke mana pun. Yang ia bawa pulang cuma tubuh yang mengkhianatinya dan telinga yang masih terlalu tajam untuk kebaikannya sendiri.
Di sudut kamar, keyboard tua bekas pengiring acara-acara itu tergeletak miring di atas dua tumpuk buku. Enam puluh satu tuts plastik yang timbre-nya palsu, yang selama ini ia benci diam-diam. Arsa menatapnya lama. Ia berpikir tentang harganya. Mungkin dua ratus ribu kalau ada yang mau. Metronom kuningan pemberian Renjana bisa laku lebih tinggi. Partitur-partitur bekas fotokopi tak ada harganya, tapi bisa dikilokan. Ia menghitung dalam kepala seperti ayahnya menghitung onderdil kulkas yang masih bisa dijual dari mesin yang sudah mati — memilah mana yang berguna, mana yang cuma beban di gudang.
Ia duduk di tepi kasur tipis. Absolute pitch-nya, anugerah yang dulu membuat Pak Pendeta menyebutnya berkat, kini bekerja sendirian di ruang gelap: mendengung E dari kulkas tetangga, F kereta yang lewat jauh di rel Wonokromo dalam ingatannya, dan — selalu — nada B fals dari upright gereja itu, sepersekian koma di bawah tempat seharusnya, menggantung seperti pertanyaan yang tak pernah dijawab. Dulu ia berlatih siang malam supaya bisa lari dari nada itu. Sekarang nada itu satu-satunya suara yang terasa jujur di seluruh dunianya yang runtuh.
Ponselnya bergetar. Nama Renjana muncul di layar, lalu padam, lalu muncul lagi. Arsa membiarkannya. Ia tahu apa yang akan Renjana katakan — kata-kata baik tentang tangan kiri, tentang jalan lain, tentang bertahan. Semua benar, dan justru karena benar, semua terasa mustahil ia dengar sekarang. Ia menaruh ponsel telungkup di lantai supaya cahayanya tak lagi memanggil.
Ia mengangkat tangan kanannya ke arah cahaya jendela. Kelihatannya biasa saja. Jari-jari itu tampak seperti jari siapa pun. Tapi ia sudah tak percaya lagi pada penampilan mereka. Ia menyuruh jari manisnya diam, hanya diam, dan untuk beberapa detik jari itu menurut, lalu ada denyut kecil, tarikan tak kasat mata di tendon, dan Arsa menurunkan tangannya sebelum tubuhnya sempat mempermalukannya lagi di depan tak seorang pun.
Untuk pertama kalinya sejak berumur enam tahun, terlintas pikiran yang selama ini tak berani ia ucapkan bahkan dalam hati: berhenti. Bukan istirahat, bukan menunda audisi seperti dalih-dalih lamanya. Berhenti sungguhan. Melepas beasiswa sebelum dikeluarkan, mengembalikan sisa martabat yang masih bisa dikembalikan, pulang ke gang permukiman itu, mencari kerja yang tak butuh sepuluh jari sempurna, dan berhenti berpura-pura bahwa anak pembantu gereja dan teknisi kulkas berhak bermimpi setinggi grand piano warisan seorang maestro. Pikiran itu tidak datang seperti badai. Ia datang tenang, hampir melegakan, seperti tawaran untuk meletakkan beban yang terlalu lama dipanggul.
Ia menyeret keyboard tua itu ke pangkuannya. Debu di celah tuts terasa di ujung jari. Ia menekan satu tuts — C tengah — dan bunyi plastik yang murah itu memenuhi kamar. Telinganya langsung mengukurnya, membandingkannya dengan C sejati yang ia simpan di kepala sejak kecil, dan bunyi itu terdengar seperti ejekan. Ia menekan lagi. Jari manisnya menekuk sendiri sebelum menyentuh tuts kedua, menabrak nada yang salah, dan Arsa menarik kedua tangannya menjauh seolah papan tuts itu panas.
Ia tak sanggup. Bukan tak mampu — tak sanggup. Ada perbedaan yang baru ia pahami malam itu. Selama bertahun-tahun tuts adalah tempat ia paling utuh; kini tuts adalah cermin yang menunjukkan tepat di mana ia retak. Ia menutup penutup keyboard yang murah itu pelan-pelan, seakan menidurkan sesuatu, dan mendorongnya kembali ke sudut.
Di luar, azan subuh masih jauh. Suara kota tidur — anjing, motor tunggal, tetesan keran entah dari mana. Arsa berbaring tanpa melepas sepatunya, sepatu usang yang pernah dilirik Bramantyo di koridor marmer itu, dan menatap langit-langit yang bernoda air. Ia memikirkan ibunya yang sedang berlutut di gereja dengan atap bocor, ayahnya yang tangannya juga sudah tak bisa diandalkan, uang yang ia kirim yang sebenarnya tak pernah ia punya. Ia memikirkan grand piano yang berdiri sendirian di institut, dingin dan mengilap, menunggu tangan yang bukan tangannya.
Ia tidak menangis. Ia sudah melewati tempat di mana air mata masih berguna. Ia hanya berbaring dalam sunyi yang paling penuh yang pernah ia kenal — sunyi bukan karena tak ada suara, sebab telinganya tak pernah benar-benar sunyi, melainkan karena untuk pertama kalinya ia tak tahu suara apa yang ingin ia buat. Dan di dalam kepalanya, tanpa ia panggil, nada B fals gereja itu berbunyi sekali lagi, lirih, fals, dan setia, menunggu di ambang malam seperti sesuatu yang belum selesai mengatakan maksudnya.