Amplop cokelat itu sudah terselip di bawah pintu ketika Arsa pulang, dijejalkan seseorang ke celah antara daun pintu dan lantai kamar kos yang dingin. Kop Institut Musik Wreksodiningrat timbul di sudut kiri, huruf-huruf yang dulu membuat dadanya membuncah kini terasa seperti cap sebuah vonis. Ia berdiri lama sebelum memungutnya, seakan kertas itu bisa menahan isinya selama ia tak menyentuhnya. Di luar, hujan gerimis menepuk-nepuk seng, dan dari kamar sebelah terdengar seseorang menyetel radio dangdut pelan.
Ia membuka amplop dengan hati-hati, seperti membedah sesuatu yang bisa menggigit. Kertasnya tebal, resmi, ditandatangani bagian kemahasiswaan. Diberitahukan dengan hormat. Sehubungan dengan ketentuan beasiswa penuh. Bahwa penerima wajib memenuhi tonggak penampilan yang ditetapkan tiap semester — evaluasi juri, resital wajib, peringkat minimum. Bahwa mengingat ketidakhadiran Saudara pada dua evaluasi terakhir dan kemunduran peringkat yang signifikan, status kepesertaan Saudara akan ditinjau oleh komite dalam sidang yang akan dijadwalkan. Saudara diharap mempersiapkan diri.
Ditinjau. Kata yang begitu sopan, begitu bersih, seperti pisau yang diasah pelan-pelan agar tak terasa sakit saat memotong. Arsa membaca sekali lagi, lalu sekali lagi, sebab matanya menolak menerima. Ia tahu apa arti sebenarnya. Beasiswa itu bukan hadiah; ia pinjaman bersyarat, seperti segala hal lain dalam hidupnya. Grand piano warisan sudah ditarik. Sekarang lantai tempat ia berdiri pun mulai retak.
Ia duduk di tepi ranjang, kertas itu masih di tangan. Jari manis kanannya, tanpa diperintah, menekuk sedikit ke arah telapak — gerakan kecil, nyaris tak kelihatan, tetapi ia merasakannya seperti orang merasakan gigi yang goyang dengan lidahnya, berulang, tak bisa berhenti. Tubuh yang mengkhianati. Ia mengepalkan tangan itu agar diam. Tanpa piano di kamar, tanpa tuts untuk disentuh, tangan itu jadi benda asing yang menggantung dari pergelangannya, tak ada gunanya, hanya pengingat.
Tonggak penampilan. Ia hampir tertawa getir. Bagaimana ia harus tampil di depan juri kalau di tengah pasase cepat jari-jarinya bisa membeku dan meringkuk seperti akar yang mengering? Bagaimana ia menjelaskan pada komite bahwa alat yang mereka nilai — tangannya — sudah rusak dengan cara yang tak bisa ia perbaiki, tak bisa ia bayar untuk diperbaiki? Kalau ia mengaku, klausa cedera itu — sudah bekerja sekali, dan ia belajar apa artinya. Kalau ia diam, ia hanya menunda hari ketika kebohongan itu roboh sendiri di atas panggung.
Ketukan di pintu memutus lamunannya. Pelan, dua kali, khas Ibu kos. Arsa menyelipkan surat itu ke bawah bantal seakan malu.
"Arsa," suara perempuan itu dari balik daun pintu, tak keras, tetapi tak bisa diabaikan. "Ini sudah lewat tanggal lima belas, Nak. Ibu bukannya mau menagih-nagih, tapi kamu tahu sendiri, listrik, air—"
"Iya, Bu." Ia bangkit, membuka pintu setengah. Wajah Ibu kos tidak marah, hanya lelah, wajah orang yang juga sedang berhitung. "Maaf, Bu. Minggu ini. Saya usahakan minggu ini."
Perempuan itu menatapnya sebentar, seakan hendak berkata sesuatu yang lebih lembut, lalu memilih mengangguk saja dan pergi. Arsa menutup pintu dan bersandar padanya. Uang kos. Ia bahkan tak berani menghitung berapa sisa di dompetnya, sebab ia tahu angkanya, dan angka itu tak berubah hanya karena ia mengabaikannya. Kerja malam di warnet sudah dilarang Ibu Widari demi tangannya, walau tangan itu toh sudah telanjur rusak. Ironi yang begitu rapi hingga terasa seperti lelucon yang sengaja disusun untuknya.
Ia teringat Wonokromo. Ibunya yang mengelap bangku gereja tiap Sabtu, ayahnya yang tangannya sendiri kini gemetar setelah cedera, atap gereja yang bocor dan tak juga diperbaiki. Mereka mengira anak mereka sedang menaklukkan kota, sedang duduk di depan grand piano mengilap, sedang menjadi seseorang. Mereka mengumpulkan doa dan recehan agar ia bisa bertahan di institut ini. Kalau beasiswanya dicabut, bukan hanya ia yang jatuh. Seluruh pengorbanan itu — setiap malam ibunya berlutut, setiap kulkas yang diperbaiki ayahnya dengan tangan yang kini tak bisa lagi — akan runtuh bersamanya, sia-sia, seperti nada yang ditekan tetapi tak berbunyi.
Ia membayangkan pulang. Turun dari bus di Wonokromo, berjalan di gang permukiman yang sempit, menaiki teras gereja, dan tak punya apa-apa untuk dikatakan. Wajah ibunya yang akan mencoba tidak menunjukkan kecewa dan justru karena itu menjadi lebih menyakitkan. Membayangkannya saja membuat sesuatu di dadanya mengejang lebih parah daripada tangannya.
Di sudut ingatan, tanpa diundang, nada B fals dari upright tua gereja itu mengambang naik — sumbang, akrab, menempel pada absolute pitch-nya seperti selalu. Dulu nada itu menghantuinya di antara kesempurnaan piano-piano institut. Kini ia hampir merindukannya, sebab setidaknya nada itu jujur tentang cacatnya. Tidak seperti surat di bawah bantal yang menyebut ketidakhadiran, kemunduran, dan tinjauan dengan bahasa sesopan pembunuh bayaran.
Ponselnya bergetar di meja. Nama Renjana menyala di layar. Ia menatapnya berdering sampai berhenti, lalu berdering lagi. Ia tahu perempuan itu akan tahu, cepat atau lambat; kabar seperti ini menjalar di institut secepat air di lantai marmer. Ia belum siap mendengar Renjana berkata jangan menyerah, belum siap mendengar kata-kata baik yang tak sanggup ia percaya. Ia membiarkannya berdering hingga diam.
Arsa menarik surat itu keluar lagi. Membacanya untuk kesekian kali di bawah lampu neon yang berkedip lelah. Sidang yang akan dijadwalkan. Sebuah kalimat yang menggantung, tanpa tanggal, seperti pisau yang belum jatuh tetapi sudah tergantung tepat di atas ubun-ubun. Ia melipat kertas itu perlahan, mengikuti garis lipatannya yang sudah ada, dan meletakkannya di meja, di samping partitur-partitur yang tak lagi ia buka.
Di luar, hujan menebal. Ia duduk memandangi tangan kanannya di pangkuan, tangan yang pernah dijanjikan segalanya, dan menunggu jari manis itu menekuk sendiri lagi — seakan menyaksikan sesuatu yang bukan lagi miliknya bergerak sesuka hatinya. Ia tidak menangis. Ia hanya duduk, sangat lama, sampai lampu di kamar sebelah padam dan radio dangdut itu akhirnya bungkam, menyisakan suara hujan dan detak jam yang tak peduli.