Bus dari Terminal Bungurasih berhenti dua ratus meter dari mulut gang, dan Arsa Pradipta turun dengan tas ransel yang terasa lebih berat dari biasanya, meski isinya sama saja seperti pulang-pulang yang lain: dua kemeja, buku partitur yang sudah tak ia buka sejak tiga minggu, dan tangan kanan yang ia jaga seperti membawa gelas berisi air sampai penuh ke bibir.
Wonokromo menyambutnya dengan bau yang sama seperti delapan belas tahun terakhir—got yang tak pernah benar-benar kering, minyak jelantah dari warung tenda, asap knalpot becak yang mengetuk-ngetuk di jalan berbatu. Ia biasa merindukan bau itu ketika berada di Institut, di antara marmer yang mengilap dan grand piano yang berbaris seperti gigi-gigi putih yang rapi. Kali ini ia hanya berjalan cepat, kepala menunduk, seolah kalau ia menunduk cukup dalam, tak ada yang akan bertanya kenapa ia pulang di tengah semester, tanpa kabar, tanpa alasan yang jelas.
Ibunya sudah di depan pintu sebelum ia sampai gerbang kecil rumah petak itu. Ia tak pernah tahu bagaimana ibunya selalu tahu—mungkin dari suara langkah, mungkin dari sesuatu yang lebih tua dari pendengaran. Perempuan itu mengenakan daster yang sama yang ia kenakan sejak Arsa kecil, rambutnya diikat asal, dan di tangannya ada kain lap yang tak berhenti diperas meski sudah kering.
"Kok nggak bilang-bilang," kata ibunya, bukan pertanyaan, lebih seperti menyentuh luka untuk memastikan masih ada.
"Libur mendadak, Bu." Kalimat itu keluar terlalu lancar, dan ia membenci dirinya sendiri karena betapa mudahnya kebohongan itu sudah menjadi kebiasaan.
Ibunya menatapnya lebih lama daripada yang dibutuhkan untuk mempercayai jawaban itu, lalu mengangguk, seperti orang yang memilih untuk tidak membuka pintu yang tahu di baliknya ada sesuatu yang lebih berat daripada yang sanggup ia tampung sore itu. Ia menyingkir dari ambang, membiarkan Arsa masuk.
Di dalam, ayahnya sedang berjongkok di depan kulkas tetangga yang setengah terbongkar, obeng terselip di antara gigi, tangannya kotor oleh gemuk kompresor. Ia hanya mendongak sebentar. "Arsa," katanya, seperti menyapa cuaca. Bukan karena tak peduli—Arsa tahu itu—tapi karena bagi ayahnya, kata-kata adalah sesuatu yang dihemat, seperti listrik, seperti bensin, seperti segala yang harganya naik tiap bulan.
"Ayah," Arsa membalas, dan untuk sesaat ia ingin duduk di lantai semen di samping ayahnya dan mengaku semuanya—tentang jari manis yang menekuk sendiri, tentang dokter yang menyebut sebuah nama penyakit yang tak bisa ia lafalkan tanpa dadanya sesak, tentang piano yang sudah tak lagi ada di sana untuk ditarik karena sudah ditarik, tentang beasiswa yang kini digantung seperti kulkas rusak yang menunggu diputuskan: diperbaiki atau dibuang.
Ia tidak duduk. Ia hanya berdiri, menonton ayahnya bekerja, sampai ibunya memanggil untuk makan.
Makan malam itu sederhana—nasi, tempe goreng, sayur bening—dan lebih hangat daripada apa pun yang pernah Arsa makan di kos. Ia makan pelan, menggunakan tangan kirinya lebih banyak dari biasa tanpa sadar, sampai ia menangkap ibunya memperhatikan itu, memperhatikan bagaimana ia memotong tempe dengan sendok di tangan kiri sementara tangan kanannya diam di pangkuan seperti benda pinjaman yang tak ingin ia rusak.
"Tanganmu kenapa?" tanya ibunya, pelan, seolah pertanyaan itu bisa ia bungkus supaya tidak terlalu tajam.
"Cuma pegal, Bu. Kebanyakan latihan." Lagi-lagi kalimat itu keluar terlalu mulus.
Ibunya tidak membalas. Ia hanya menambahkan sesendok sayur ke piring Arsa, seolah itu jawabannya sendiri: aku tahu kau bohong, tapi aku akan menunggu sampai kau siap.
Setelah makan, Arsa keluar sendirian, menyusuri gang menuju gereja kecil tempat Pak Pendeta tinggal, tempat ia dulu menghabiskan sore-sore kecilnya di bawah piano upright yang temboknya sudah mengelupas di sudut-sudut. Ia tidak mencari Pak Pendeta. Ia hanya ingin melihat piano itu.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi lampu neon yang berdengung di sudut. Piano upright itu masih di tempatnya, tuts-tutsnya sedikit menguning, dan ia tahu—tanpa perlu menyentuh—bahwa nada B di oktaf tengah masih fals, seperti selalu, seperti nada yang mengejarnya sampai ke kamar kos, sampai ke ruang latihan Institut, sampai ke dalam mimpi-mimpinya yang paling sunyi.
Ia berdiri di depannya lama sekali. Tangan kanannya terangkat sedikit, ragu-ragu, seperti hendak menyentuh sesuatu yang panas.
Ia tidak jadi membuka penutup tuts.
Bukan karena lelah. Bukan karena malam sudah larut. Tapi karena ia tahu, kalau ia menekan tuts itu sekarang, kalau jari manisnya menekuk lagi tanpa perintah di depan piano yang telah menyaksikan seluruh masa kecilnya, sesuatu di dalam dirinya akan pecah dengan cara yang tak bisa ia rekatkan kembali dengan kebohongan-kebohongan kecil yang selama ini menjaga rumah ini tetap tenang.
Ia menutup mata, membiarkan bayangan nada B fals itu berbunyi hanya di kepalanya—satu-satunya tempat yang masih aman untuk memainkannya.
Ketika ia kembali ke rumah, lampu di kamar orang tuanya masih menyala. Melewati celah pintu yang tak tertutup rapat, ia melihat ibunya duduk di tepi ranjang, tidak tidur, tangannya terlipat di pangkuan seperti sedang berdoa atau seperti sedang menahan diri untuk tidak mengetuk pintu kamar Arsa dan bertanya lagi, lebih keras, sampai kebenaran keluar.
Arsa berhenti sebentar di depan pintunya sendiri, punggung menyandar ke kayu yang dingin, dan untuk pertama kalinya sejak grand piano itu diambil darinya, ia merasa betapa sunyinya berbohong kepada orang-orang yang mencintainya cukup untuk tidak memaksa.
Ia masuk kamar, merebahkan diri tanpa mengganti baju, dan membiarkan tangan kanannya tergeletak di atas seprai seperti sesuatu yang bukan lagi miliknya.