Gereja itu tak pernah benar-benar sunyi, bahkan di jam-jam ketika tak ada kebaktian. Ada derit bangku kayu yang menyusut oleh usia, ada angin yang menyelinap lewat celah jendela kaca patri, dan ada, sore itu, suara koor kecil yang berlatih untuk Minggu depan—delapan orang, kebanyakan ibu-ibu setengah baya dan dua remaja yang suaranya masih mencari tempat berlabuh. Arsa duduk di bangku paling belakang, jaket kumal menutupi tangan kanannya yang sejak beberapa minggu terakhir selalu ia sembunyikan, seolah kalau tak terlihat maka tak benar-benar ada.
Ia tidak berniat mendengarkan latihan itu. Ia hanya tidak punya tempat lain untuk pergi. Kamar kosnya di Surabaya sekarang terasa seperti kuburan kecil berisi partitur yang tak lagi ia sentuh, dan rumah—rumah yang sebenarnya, di gang sempit Wonokromo ini—penuh dengan mata ibunya yang terlalu sering mengawasi, terlalu sering bertanya tanpa bertanya. Gereja adalah satu-satunya tempat yang tidak menuntutnya menjelaskan apa pun.
Piano upright tua itu berdiri di sudut, dekat mimbar, catnya yang cokelat tua mengelupas di sudut-sudut seperti kulit yang terkupas panas. Salah satu ibu koor duduk di depannya, memainkan iringan dengan jari-jari yang kaku tapi bersemangat, dan setiap kali sampai pada nada B di bar kelima, suara itu meleset—terlalu tinggi seperempat nada, gemanya menggantung sedikit sumbang di udara sebelum tenggelam oleh suara koor yang menutupinya.
Arsa merasakannya sebelum ia sempat menahan diri untuk tidak merasakannya. Pendengarannya yang sempurna—absolute pitch yang dulu ia banggakan, yang dulu membuatnya berbeda dari semua orang di Institut Musik Wreksodiningrat—menangkap nada fals itu seperti duri kecil yang menusuk telinga. Ia meringis. Berapa kali pun ia dengar, telinganya tak pernah bisa membiasakan diri.
Latihan selesai lebih cepat dari yang ia duga. Para ibu berpamitan sambil membawa map berisi lirik yang difotokopi, dan tak lama kemudian ruangan itu kosong kecuali dirinya dan Pak Pendeta, yang berjalan pelan dari sakristi sambil membawa dua gelas teh hangat.
"Kau dengar tadi?" tanya Pak Pendeta, duduk di bangku sebelah Arsa tanpa basa-basi, menyerahkan satu gelas.
"Dengar apa?"
"Nadanya." Pak Pendeta tersenyum tipis, seperti orang yang tahu jawabannya sebelum bertanya. "Kau selalu bisa dengar itu, kan. Sejak kecil. Ibumu pernah cerita, waktu kau umur enam tahun kau menangis di tengah kebaktian karena bilang piano ini 'sakit'."
Arsa memutar gelas di tangannya yang sehat, menghindari menatap yang satunya. "Nada B-nya fals. Seperempat nada lebih tinggi dari yang seharusnya."
"Empat puluh tahun," kata Pak Pendeta, seolah itu jawaban atas sesuatu. "Piano ini sudah empat puluh tahun berdiri di sini, dan seingatku nada itu sudah fals sejak sebelum aku jadi pendeta di gereja ini. Ada yang bilang senarnya yang aus, ada yang bilang badan kayunya sudah melengkung karena lembap. Sudah dua kali orang menawarkan tukang stem datang dari kota, tapi biayanya selalu kalah sama atap yang bocor, atau lampu yang putus, atau apa saja yang lebih mendesak."
"Kenapa Bapak tidak pernah cerita itu ke saya?"
"Karena kau tidak pernah bertanya. Kau cuma selalu meringis tiap kali sampai bar itu." Pak Pendeta menyesap tehnya, lalu menatap ke arah piano, ke arah tuts-tuts yang sudah menguning seperti gigi orang tua. "Aku sudah berkhotbah di depan piano itu empat puluh tahun, Arsa. Kau tahu berapa banyak orang yang menangis di bangku-bangku itu waktu kidung dimainkan? Berapa banyak yang bilang ke aku, selesai kebaktian, bahwa lagu tadi menolong mereka melewati minggu paling berat dalam hidup mereka?"
Arsa tidak menjawab. Ia tahu ke mana arah pertanyaan itu, dan justru karena itu ia takut mendengarnya.
"Tak ada satu pun dari mereka yang pernah komplain soal nada B," lanjut Pak Pendeta. "Tak ada satu pun. Karena bagi mereka, itu bukan piano yang sempurna secara teknis yang mereka butuhkan. Itu piano yang ada, yang berbunyi, yang menemani mereka menyanyi meski suara sendiri juga sumbang, meski hidup mereka juga penuh nada yang meleset dari yang seharusnya."
"Tapi itu tetap salah," kata Arsa akhirnya, suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan. "Itu tetap fals. Bapak bisa bilang itu tidak masalah karena Bapak tidak dengar bedanya. Saya dengar. Saya selalu dengar."
Pak Pendeta tidak tersinggung. Ia hanya mengangguk, seperti menerima pukulan yang memang ia duga akan datang. "Kau benar. Aku tidak dengar bedanya seperti kau dengar. Tapi coba kau pikirkan ini, Nak—kalau nada itu diperbaiki besok, dibuat sempurna, apakah kidung yang dinyanyikan jemaat jadi lebih bermakna? Apakah air mata yang jatuh di bangku-bangku itu jadi lebih tulus?"
Arsa membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
"Yang menggerakkan orang bukan kesempurnaan nadanya," kata Pak Pendeta pelan, "tapi kejujuran dari apa yang dimainkan. Piano itu cacat, tapi tidak pernah berhenti bersuara. Empat puluh tahun ia bertahan begitu, dan tak sekali pun aku dengar orang berhenti bernyanyi karena nadanya sumbang."
Ia menepuk lutut Arsa sekali, ringan, lalu bangkit untuk mengambil gelasnya yang sudah kosong. "Kau selalu berpikir kesempurnaan itu syarat supaya musik berarti. Tapi aku sudah empat puluh tahun berdiri di depan piano yang tidak sempurna itu, dan aku bisa bilang padamu—yang cacat pun bisa jadi jalan rahmat. Bukan meski cacatnya, tapi kadang justru karena cacatnya."
Arsa menatap piano itu lama setelah Pak Pendeta berlalu ke sakristi, meninggalkan gemanya sendiri di ruangan yang mulai temaram. Untuk pertama kalinya sejak nada itu mulai menghantuinya bertahun-tahun lalu—sejak malam-malam di institut ketika kesempurnaan grand piano justru membuatnya rindu pada kefalsan ini—ia tidak mendengarnya sebagai luka.
Ia mendengarnya, untuk sesaat, seperti sesuatu yang masih bisa dicintai.