Renjana datang ke Wonokromo tanpa memberi kabar, dan Arsa tahu ia datang bahkan sebelum melihatnya—dari cara langkah asing itu ragu menapaki gang, dari suara sepatu yang tak tahu di mana harus menghindari genangan. Ia sedang duduk di ambang pintu, memandangi seng atap yang berkarat, ketika bayangan Renjana jatuh di tanah becek depan rumah.
"Susah nyarinya," kata Renjana. Ia menjinjing tas kanvas yang terlalu penuh. Untuk pertama kalinya Arsa melihatnya tanpa cello di punggung, dan ketiadaan itu membuat sosoknya terasa ganjil, seolah ia meninggalkan separuh diri di stasiun. "Tiga kali aku salah gang. Semua orang di sini kenal ibumu."
Arsa tidak berdiri. Ia takut kalau berdiri, tangan kanannya akan terlihat—kebiasaan menyembunyikannya di lipatan lengan sudah jadi refleks, walau di sini, di rumah, tak ada yang perlu ia bohongi lagi. "Kamu jauh-jauh cuma buat lihat aku jadi apa," katanya. Nadanya lebih pahit dari yang ia niatkan.
Renjana tidak tersinggung. Ia duduk di bangku kayu reyot di samping pintu, membuka tas, dan mengeluarkan setumpuk map plastik yang sudut-sudutnya sudah lecek karena dibawa naik-turun bus. "Aku bawa ini," katanya. Ia menaruhnya di pangkuan Arsa tanpa minta izin. "Fotokopian. Dari perpustakaan institut, sebagian dari kenalan dosen cello. Aku kumpulin dua minggu."
Arsa membuka lembar teratas. Notasinya aneh di matanya—paranada bawah padat oleh nada, sementara paranada atas sering kosong, membisu. Ia butuh sesaat untuk mengerti apa yang salah, lalu mengerti bahwa tidak ada yang salah. Musik itu memang ditulis untuk satu tangan. Tangan kiri.
"Scriabin," kata Renjana pelan, seakan menyebut nama yang bisa pecah. "Prelude sama Nocturne, Opus sembilan. Dia nulis itu waktu tangan kanannya sendiri cedera—kebanyakan latihan, sama kayak—" Ia berhenti.
"Sama kayak aku." Arsa menutup map itu. "Kamu nggak usah hati-hati ngomongnya."
"Ada Ravel juga," Renjana meneruskan, cepat, seakan takut jeda akan menelan keberaniannya. "Konserto untuk tangan kiri. Ditulis buat pianis yang kehilangan tangan kanannya di perang. Ada Godowsky, ada transkripsi Bach. Arsa, ini bukan latihan pengganti. Ini repertoar. Utuh. Orang-orang menghabiskan seumur hidup cuma main ini."
Arsa merasakan sesuatu mengeras di dadanya, sesuatu yang lebih tua dari kesedihan. "Kamu tahu kenapa musik-musik ini ada?" Ia mendorong map itu kembali ke pangkuan Renjana, terlalu keras, hingga satu lembar terlepas dan melayang ke tanah becek. Tak ada yang memungutnya. "Karena ada orang-orang yang tangannya buntung. Yang lengannya diamputasi. Yang cacat. Ini musik buat orang cacat, Ren."
"Ya," kata Renjana. Ia tidak menyangkal, dan justru ketenangannya itu yang membuat Arsa ingin membentak. "Ini memang buat mereka."
"Aku bukan mereka." Suaranya gemetar. "Tanganku masih di sini. Lima jarinya masih lengkap. Cuma—" Ia mengangkat tangan kanannya, di sini, di depan rumahnya sendiri, untuk pertama kalinya tanpa menyembunyikannya. Jari manisnya menekuk perlahan ke dalam, seperti didorong tali tak kasatmata, tanpa ia perintahkan. Ia menatapnya dengan benci yang sudah ia kenal luar-dalam. "Cuma nggak mau dengar aku. Itu lebih buruk dari buntung, tahu nggak? Kalau buntung, setidaknya kamu tahu tanganmu nggak ada. Ini—ini masih ada, tiap hari, ngejek."
Renjana memungut lembar yang jatuh, mengelapnya di roknya walau nodanya tak hilang. "Waktu Eyang Wreksodiningrat kehilangan tangannya," katanya lambat, "dia juga bilang gitu ke Ibu Widari. Katanya lebih baik amputasi sekalian."
Nama itu mendarat di antara mereka dan tinggal di sana. Arsa tidak menjawab. Dari dalam rumah terdengar ibunya menuang air ke ceret, bunyi domestik yang terus berjalan seolah dunia tidak sedang runtuh pelan-pelan di ambang pintu.
"Aku nggak minta kamu main sekarang," kata Renjana akhirnya. Ia berdiri, menyusun map-map itu kembali ke tas, tapi menyisakan satu—yang Scriabin—di bangku, di antara mereka. "Aku cuma minta kamu simpan yang ini. Nggak usah dibuka. Taruh aja di kamar."
"Buat apa?"
"Buat kalau suatu malam kamu nggak bisa tidur." Renjana mengangkat tasnya yang kini lebih ringan. "Dan kamu bosan benci tanganmu."
Ia pergi seperti ia datang, ragu di gang yang salah, menghindari genangan yang sama dua kali. Arsa memandanginya sampai bayangannya hilang di tikungan menuju jalan besar, lalu memandangi map yang ditinggalkannya. Ia tidak menyentuhnya. Ia masuk, makan malam bersama ibu dan ayahnya, membicarakan atap gereja dan harga beras, dan tidur.
Tapi pukul dua, ketika rumah sudah tenggelam dalam gelap dan hanya jangkrik yang bicara, Arsa terbangun. Ia berbaring lama menatap langit-langit. Lalu, seperti dituntun tali tak kasatmata yang sama yang menekuk jarinya, ia bangkit, menyalakan lampu belajar yang redup, dan mengambil map itu dari atas meja tempat ia sengaja tak menaruhnya.
Ia membuka lembar pertama Nocturne. Ia membacanya seperti orang membaca surat dari negeri yang belum pernah ia kunjungi. Absolute pitch-nya, yang selama berminggu-minggu hanya membisikkan teror, mulai bekerja tanpa ia minta: nada demi nada terangkat dari kertas dan berbunyi di dalam kepalanya, jernih, penuh. Ia menutup mata dan mendengar sebuah melodi mengalir di paranada atas—dimainkan oleh ibu jari dan kelingking dari tangan yang sama yang juga harus menahan bas dan mengisi harmoni di tengah. Satu tangan melakukan pekerjaan dua. Mustahil, pikirnya. Dan toh bunyinya utuh. Lebih dari utuh—ada kesyahduan aneh dalam keterbatasan itu, seperti suara seorang yang bicara pelan justru karena tahu ia hanya punya sedikit napas.
Ia tidak menyadari jari tangan kirinya sudah bergerak di atas selimut, menekan tuts yang tidak ada. Ketika ia sadar, ia berhenti, seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang memalukan.
Ia menutup map itu. Ia mematikan lampu. Tapi ia tidak mengembalikannya ke meja. Ia menaruhnya di bawah bantal, di tempat orang menaruh benda yang belum berani ia akui diinginkannya, dan berbaring di atas rahasia kecil itu sampai fajar mengetuk seng atap dengan cahaya yang tipis dan fals seperti nada B.