Partitur itu masih tergeletak di meja kosnya tiga hari setelah Renjana meninggalkannya, tak tersentuh, seperti benda asing yang datang dari rumah orang lain. Arsa sudah menghitung sampulnya berkali-kali tanpa membukanya—kertas fotokopi yang menipis di lipatannya, judul yang diketik dengan mesin tik tua: *Konserto untuk Tangan Kiri*. Ia tahu isinya akan menyakitinya lebih dari sekadar menatapnya, karena membuka partitur berarti mengakui bahwa tangan kanannya sungguh sudah tak terhitung lagi.
Tapi rasa penasaran, seperti nada yang menggantung tanpa resolusi, tak bisa dibiarkan begitu saja oleh telinga yang terlatih mendengar setiap ketidaksempurnaan. Malam itu ia berjalan ke warnet di ujung gang, tempat yang dulu jadi ladangnya mengetik tugas kuliah orang lain demi bayaran recehan, sebelum Ibu Widari melarangnya bekerja sama sekali. Sekarang, tanpa uang untuk disetorkan pun tanpa pekerjaan yang boleh ia ambil, ia hanya duduk di bilik paling pojok, membayar dengan recehan terakhir yang tersisa di saku celananya, dan mengetik namanya sendiri di kolom pencarian: *musisi kehilangan tangan*.
Halaman-halaman bermunculan pelan, satu per satu, sesuai kecepatan koneksi warnet yang tak pernah berubah sejak ia SMA. Nama pertama yang muncul adalah milik seorang pianis Austria bernama Paul Wittgenstein—Arsa mengeja namanya dalam hati beberapa kali, mencocokkan bunyinya dengan huruf di layar. Wittgenstein kehilangan lengan kanannya di medan perang, bukan karena penyakit yang diam-diam menggerogoti seperti miliknya, melainkan oleh peluru dan amputasi darurat di sebuah rumah sakit lapangan. Namun yang membuat dada Arsa sesak bukan cara ia kehilangan, melainkan apa yang ia lakukan sesudahnya: pianis itu memesan karya-karya baru dari komponis-komponis besar, memaksa dunia menulis ulang definisi tentang apa yang bisa dimainkan sebuah tangan kiri sendirian. Ravel menulis untuknya sebuah konserto penuh yang tak pernah terdengar seperti kekurangan, melainkan seperti kelimpahan yang disamarkan.
Arsa membaca itu berulang-ulang, mencatat di kertas bekas struk warnet yang ia balik: *satu tangan, bukan setengah musik*. Ia teringat bagaimana ia sendiri, bertahun-tahun, mengukur dirinya dari berapa banyak nada yang bisa ia jangkau dalam satu rentang oktaf, dari kecepatan sepuluh jarinya melintasi tuts. Tak pernah terpikir olehnya bahwa ada tradisi utuh, sejarah yang mengalir sejak lama sebelum ia lahir, tentang tangan-tangan yang dipaksa berbicara sendirian dan tetap didengarkan.
Ia mengeklik tautan lain, dan nama kedua muncul: Alexander Scriabin. Berbeda dari Wittgenstein, komponis ini tak kehilangan apa pun secara fisik—tangan kanannya cedera justru karena ia berlatih terlalu keras, memaksakan repertoar yang melampaui batas ototnya sendiri, sampai jari-jarinya menolak bekerja sama seperti yang ia perintahkan. Arsa membaca kalimat itu dua kali, lalu berhenti sejenak, jantungnya berdegup aneh. Bukan perang. Bukan kecelakaan. Hanya latihan yang kelewat batas, disiplin yang berbalik jadi hukuman—persis seperti yang terjadi pada jari manisnya sendiri di Ruang Latihan 7, malam demi malam, ketika ia mengira semakin keras ia memaksa semakin cepat ia akan sembuh.
Scriabin, kata layar itu, kemudian menulis prelude dan nokturn khusus untuk tangan kiri seorang diri—bukan sebagai tambal sulam, melainkan sebagai karya yang berdiri sendiri, yang tak meminta maaf atas ketiadaan tangan kanan di dalamnya.
Arsa menyandarkan punggung ke kursi plastik warnet yang reyot, menatap layar yang berkedip pelan karena resolusi lawas. Untuk pertama kalinya sejak grand piano itu ditarik dari hidupnya, ia merasakan sesuatu yang bukan rasa malu atau rasa hilang, melainkan sebuah pengakuan yang datang dari jauh: bahwa dirinya bukan satu-satunya tubuh yang pernah dikhianati oleh bakatnya sendiri. Ada garis keturunan diam-diam yang menyambungnya ke orang-orang yang tak pernah ia dengar namanya sampai malam ini—orang-orang yang kehilangan, lalu memilih untuk tetap bersuara dengan apa yang tersisa.
Ia mengetik lagi, mencari nama-nama lain, dan menemukan Géza Zichy, pianis Hungaria yang kehilangan lengan kanannya dalam kecelakaan berburu jauh sebelum perang, yang tetap tampil di panggung-panggung Eropa dengan tangan kiri saja, ditertawakan mula-mula sebagai keanehan, lalu dihormati sebagai keniscayaan. Setiap nama baru terasa seperti nada tambahan dalam sebuah akor yang perlahan menemukan bentuknya—akor yang selama ini Arsa kira hanya berisi satu nada sumbang: dirinya sendiri.
Ia tak mencetak apa pun—uangnya tak cukup untuk itu—hanya menyalin beberapa kalimat ke struk bekas dengan pena pinjaman dari operator warnet, tulisannya kecil dan rapat karena kertasnya sempit. Ketika jam operasional hampir habis dan operator mengetuk kaca bilik memberi tanda, Arsa mematikan layar dengan tangan kirinya, dan untuk sesaat ia membiarkan tangan kanannya tergeletak di atas meja, diam, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang baru saja dikatakan kepadanya.
Ia berjalan pulang menembus gang yang mulai basah oleh embun dini hari, struk-struk kertas itu terselip di saku, hangat oleh keringat telapak tangannya sendiri. Di kamar kos, ia menyalakan lampu redup dan akhirnya membuka partitur pemberian Renjana—bukan untuk memainkannya, sebab ia tahu belum ada piano yang menunggu jarinya, melainkan untuk membaca notasinya seperti membaca surat dari seseorang yang mengerti. Matanya menelusuri garis-garis nada yang hanya ditulis untuk lima jari, dan untuk pertama kalinya sejak Bramantyo tahu, sejak Ibu Widari menarik piano itu dari hidupnya, sejak malam-malam tanpa nada yang membuatnya takut pada dirinya sendiri, Arsa tidak merasa sendirian.
Ia tidak sembuh. Jari manisnya tetap menekuk sendiri kalau ia memaksanya, dan tak ada satu pun kalimat di layar warnet malam itu yang bisa mengembalikan apa yang telah hilang. Tapi untuk pertama kalinya, kehilangan itu terasa punya nama, punya sejarah, punya orang-orang lain yang pernah berdiri di titik yang sama dan memilih untuk tetap mendengarkan musik, meski dengan cara yang berbeda dari yang pernah mereka bayangkan.