Ruang Latihan 7 tidak lagi menyimpan grand piano warisan itu—hanya upright tua kayu yang dulu jadi ejekan sunyi para mahasiswa lain, dipindahkan ke sana entah oleh siapa, seolah pihak institut pun tahu Arsa Pradipta kini harus turun kelas. Ia duduk di lantai, punggung bersandar pada dinding, dikelilingi tumpukan partitur yang ia fotokopi diam-diam dari perpustakaan: karya-karya untuk tangan kiri saja, yang ditulis berpuluh tahun lalu bagi pianis-pianis yang kehilangan penggunaan tangan kanan mereka—perang, kecelakaan, dan entah berapa banyak yang tak pernah tercatat sebabnya, sebagaimana miliknya sendiri.
Ia sedang membaca notasi Scriabin ketika pintu berderit dan bayangan Profesor Danupraja jatuh di lantai marmer.
Arsa buru-buru mengumpulkan kertas-kertas itu, seperti tertangkap melakukan sesuatu yang memalukan, meski ia sendiri tak yakin kenapa.
"Jangan disembunyikan," kata Danupraja. Suaranya datar seperti biasa, tapi matanya sudah membaca sampul-sampul itu satu per satu sebelum Arsa sempat menumpuknya rapi. "Kau mencarinya sendiri, atau Larasati yang memberi?"
"Renjana yang bawa. Saya yang—" Arsa berhenti, tak tahu kata apa yang pantas. Mencari? Bersembunyi di dalamnya? "—yang membacanya."
Danupraja menarik satu kursi kayu, duduk berhadapan dengannya, sesuatu yang tak pernah dilakukannya sebelum ini—biasanya ia berdiri, mengawasi dari ketinggian podium yang tak kasat mata. Kini posisi mereka sejajar, dan itu sendiri terasa seperti kalimat yang belum diucapkan.
"Kau tahu siapa yang memesan sebagian besar karya-karya itu," katanya. Bukan pertanyaan.
"Pianis yang kehilangan lengan kanannya. Karena perang."
"Dan komponis-komponis besar menulis untuknya, bukan karena kasihan, tapi karena mereka penasaran—apa yang bisa dilakukan satu tangan yang dipaksa menanggung pekerjaan dua." Danupraja mengambil salah satu lembar dari tumpukan, membaliknya, membaca notasi seolah bisa mendengarnya hanya dari tinta. "Aku tidak pernah mengajarkan ini pada siapa pun. Selama dua puluh tahun aku mengajar di institut ini, tak ada murid yang membutuhkannya."
"Saya bukan murid yang Bapak inginkan lagi." Kalimat itu keluar lebih pahit dari yang Arsa rencanakan.
Danupraja menatapnya lama, dan untuk sesaat Arsa menunggu kalimat lama yang biasa menyusul—tentang standar, tentang kompetisi, tentang betapa institut ini tak punya tempat bagi kegagalan. Tapi yang datang bukan itu.
"Aku pernah bilang padamu, aku dulu punya tangan yang gagal juga." Suara Danupraja turun, nyaris seperti mengaku dosa. "Yang tak pernah kuceritakan: setelah itu, tak ada seorang pun yang menawarkan aku jalan lain. Guru-guruku menyerah begitu tanganku menyerah. Mereka bilang aku sudah selesai, dan aku percaya, karena tak ada yang membantahnya." Ia meletakkan lembar partitur itu kembali ke tumpukan, pelan-pelan, seperti meletakkan sesuatu yang rapuh. "Aku menjadi guru seperti sekarang karena aku pikir, kalau aku cukup keras, tak ada muridku yang akan sampai ke titik itu. Aku salah. Kekerasanku tak mencegah apa pun. Ia hanya membuatmu menyembunyikan tanganmu dariku lebih lama daripada seharusnya."
Arsa menunduk. Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu kecil untuk menampung pengakuan itu.
"Jadi aku mau menawarkan sesuatu yang tak pernah kutawarkan pada siapa pun," lanjut Danupraja. "Bukan kelas biasa. Bukan jam yang tercatat di jadwal institut. Kau datang ke sini, atau ke ruang kerjaku, dan kita mulai dari nol—jarimu, pergelanganmu, cara bahumu menopang beban yang dulu dibagi dua tangan. Itu akan lambat. Lebih lambat dari yang pernah kau alami seumur hidupmu. Kau akan terdengar seperti pemula selama berbulan-bulan, mungkin lebih, dan tak ada seorang pun di institut ini yang akan tahu selain kita berdua, sampai kau siap mereka tahu."
"Kenapa?" Arsa akhirnya bertanya, karena pertanyaan itu satu-satunya yang tersisa di kepalanya. "Kenapa Bapak mau melakukan itu untuk saya?"
Untuk pertama kalinya sejak Arsa mengenalnya, sesuatu di wajah Danupraja retak—bukan kemarahan, bukan kekecewaan yang selama ini jadi bahasa satu-satunya di antara mereka, tapi sesuatu yang lebih dekat pada penyesalan yang sudah terlalu lama dipendam.
"Karena tak ada yang melakukannya untukku," katanya. "Dan aku sudah lelah membiarkan itu jadi alasan untuk tidak melakukannya bagi orang lain."
Ia berdiri, mengambil metronom kecil dari saku jasnya—benda yang sama yang dulu ia letakkan di atas piano Arsa pada pelajaran pertama mereka, dulu sebagai alat penghukum, mengetuk tiap kesalahan seperti hakim. Kali ini ia meletakkannya di lantai, di antara mereka berdua, dan menyalakannya. Ketukannya pelan, hampir malas, tempo yang tak pernah Danupraja izinkan sebelumnya.
"Ini bukan lagi tentang seberapa cepat kau bisa memainkan sesuatu," katanya. "Ini tentang apakah kau mau memulai lagi dari ketukan paling lambat yang bisa ditahan telinga manusia, dan tidak menganggapnya sebagai kekalahan."
Arsa memandang metronom itu berayun, teratur, sabar, seperti detak jantung yang belum tahu ke mana ia akan membawa pemiliknya. Ia memikirkan grand piano yang sudah tak lagi miliknya, peringkat yang runtuh, Bramantyo yang menagih, Ibu Widari yang mungkin sedang menghitung berapa lama lagi ia harus menunggu sebelum benar-benar menyerah padanya. Semua itu terasa jauh, untuk sesaat, kalah oleh satu tawaran sederhana dari orang yang selama tiga tahun terakhir hanya pernah membuatnya merasa tak cukup.
"Saya mau," katanya, dan suaranya lebih mantap daripada yang ia sangka mampu ia keluarkan. "Mulai dari mana?"
Danupraja hampir tersenyum—hampir, karena senyum penuh masih bukan bahasa yang ia kuasai. Ia menunjuk kursi kosong di depan upright tua itu.
"Dari duduk yang benar," katanya. "Sebelum kita bicara nada, kita bicara bagaimana tubuhmu menopang dirinya sendiri. Itu yang selama ini kau lompati, karena kau selalu terburu-buru menjadi hebat."
Arsa duduk. Untuk pertama kalinya sejak piano itu ditarik dari hidupnya, ia merasa punya alasan untuk berada di ruangan itu lagi—bukan sebagai bintang yang sedang jatuh, tapi sebagai murid yang bersedia mulai dari bawah, dengan guru yang, akhirnya, bersedia turun bersamanya.