Ruang latihan tujuh sudah gelap ketika Arsa mendengar pintu berderit di belakangnya. Ia tak menoleh. Tangan kirinya masih di atas tuts, mengulang delapan bar yang sama untuk—ia sudah kehilangan hitungan—entah keberapa kali malam itu.
"Berhenti," kata Profesor Danupraja.
Arsa berhenti, tapi napasnya tidak. Jantungnya masih berdebar seperti habis berlari, padahal yang berlari cuma lima jari.
"Tangan kanan," Danupraja melangkah masuk, meletakkan map partitur di atas piano. "Di mana dia?"
"Di pangkuan. Seperti yang Bapak minta."
"Bagus." Danupraja duduk di kursi sebelah, bukan berdiri mengawasi seperti biasa. Itu hal baru—dalam sebulan terakhir sejak Ibu Widari mengizinkan Arsa kembali menyentuh piano di institut, sang profesor lebih sering duduk sejajar daripada berdiri di atas. "Sekarang mainkan lagi. Tapi jangan kejar not-nya. Kejar garis liriknya."
Arsa menahan jari kirinya sejenak di udara. Partitur di depannya bukan lagi karya-karya yang pernah ia mainkan dengan dua tangan gemilang—Chopin, Liszt, yang menuntut oktaf dan pasase yang kini mustahil. Ini dunia lain: Nocturne untuk Tangan Kiri karya Scriabin, disusun untuk seorang komposer yang dulu juga kehilangan penggunaan tangan kanannya. Di halaman berikutnya, transkripsi dari Godowsky, yang menulis lusinan etude tangan kiri seolah tahu suatu hari akan ada pianis yang membutuhkannya seratus tahun kemudian.
Ia memainkan delapan bar itu lagi. Melodi harus dibawa oleh ibu jari dan telunjuk, sementara jari kelingking dan manis menahan bas yang bergerak, dan di tengahnya harus ada ilusi bahwa ada tangan kedua yang sebenarnya tak ada di sana. Bukan sekadar memainkan not dengan satu tangan—itu mudah. Yang sulit adalah membuat pendengar lupa bahwa hanya ada satu tangan.
"Lebih lambat," kata Danupraja saat Arsa mulai terburu di bar kelima. "Kau bukan sedang balapan melawan dirimu yang dulu."
"Saya tahu."
"Kalau kau tahu, kenapa masih mengejar tempo Chopin di kepalamu?"
Arsa berhenti. Ia tidak menjawab, karena jawabannya memalukan: karena di kepalanya, absolute pitch-nya yang dulu membanggakan kini juga mengingat persis bagaimana bunyi dua tangan yang sempurna. Ia mendengar bayangan tangan kanannya sendiri, hantu yang ikut bermain meski jarinya sudah lama menekuk dan menolak.
Danupraja tidak menunggu jawaban itu. Ia hanya berkata, "Lupakan hantu itu. Mainkan yang ada."
Malam-malam berikutnya berjalan dengan pola yang sama, dan pola itu sendiri adalah bentuk penyiksaan baru: bangun sebelum subuh untuk peregangan yang diajarkan Dr. Prasetya, dua jam teori penjarian di siang hari dengan Danupraja membedah tiap not seakan itu operasi, lalu larut malam sendirian di ruang latihan tujuh, mengulang apa yang sudah diulang. Kadang jari manisnya masih menekuk sendiri tanpa diminta, tiba-tiba, di tengah frasa yang sudah ia kuasai kemarin. Kadang seluruh lengan kirinya kram karena dipaksa menanggung beban yang dulu dibagi dua tangan. Ia belajar mengistirahatkan lengan di antara frasa seperti pelari belajar mengatur napas, belajar bahwa pedal kaki kanan kini harus menggantikan sustain yang dulu dijaga jari-jari kanannya sendiri.
Suatu malam ia membanting tutup piano—bukan keras, tapi cukup untuk membuat suara kayu berdenting di ruang kosong itu.
"Tidak bisa," katanya, lebih ke dirinya sendiri daripada ke siapa pun.
Danupraja, yang rupanya belum juga pulang meski jam sudah menunjukkan hampir sebelas malam, muncul di ambang pintu dengan dua gelas teh di tangan. Ia meletakkan satu di dekat Arsa tanpa berkata apa-apa, lalu duduk.
"Tahu apa bedanya kau dengan murid-muridku yang lain?" katanya akhirnya.
Arsa menggeleng, terlalu lelah untuk berpura-pura ingin tahu.
"Mereka semua ingin cepat pintar. Kau—" Danupraja menatap partitur yang tergeletak terbuka, "kau ingin cepat sembuh. Itu beda. Dan yang kedua itu tidak bisa dipercepat dengan cara yang sama."
"Lalu bagaimana caranya?"
"Dengan cara yang paling kau benci: pelan-pelan, dari nol, seperti murid tahun pertama." Ia mengambil pensil dari sakunya, membuka partitur Godowsky, dan mulai menandai penjarian di atas not-not yang selama ini Arsa mainkan dengan caranya sendiri. "Kau bermain seperti orang yang masih menyimpan kebiasaan tangan kanan di kepala. Buang. Tulis ulang. Bukan permainan yang kau kurangi—permainan yang kau bangun dari awal, dengan tangan yang kau punya sekarang."
Arsa menatap coretan pensil itu—garis-garis kecil di atas kepala not, seperti peta jalan yang belum pernah ia lalui. Untuk pertama kalinya sejak grand piano warisan ditarik, ia merasa ada seseorang yang tidak sedang menunggunya kembali menjadi yang dulu, melainkan menunjukkan jalan menjadi yang baru.
"Sekarang," kata Danupraja, mendorong gelas teh lebih dekat, "minum dulu. Lalu ulangi dari bar satu. Pelan. Dan kali ini, dengarkan liriknya, bukan bekas ingatanmu."
Arsa meminum tehnya, masih hangat, lalu meletakkan jari kirinya kembali ke tuts. Ia memulai dari not pertama, seperti yang diminta—pelan, terlalu pelan menurut telinga lamanya, tapi untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, frasa itu terdengar seperti sesuatu yang utuh, bukan sesuatu yang kurang. Danupraja tidak berkomentar. Ia hanya menutup mata, mendengarkan, dan membiarkan jam berlalu tanpa menghitungnya.