Ruang Latihan 7 kosong seperti biasa selepas pukul sepuluh malam, dan grand piano di sudutnya berdiri mengilap di bawah satu lampu yang masih menyala, seolah menunggu diperlakukan dengan benar. Arsa duduk di depannya dengan kertas manuskrip yang sudah penuh coretan, tinta yang dihapus lalu ditulis ulang sampai kertas itu nyaris berlubang di beberapa titik. Tangan kanannya diam di pangkuan, seperti biasa sejak berbulan-bulan terakhir, dan tangan kirinya yang bekerja sendirian di atas tuts terasa aneh setiap kali harus memikul melodi sekaligus mengiring dirinya sendiri.
Ia sudah menulis delapan birama yang, di atas kertas, tampak benar. Progresi akordnya rapi, garis melodinya mengalir sebagaimana mestinya diajarkan Profesor Danupraja tentang repertoar tangan kiri — bagaimana ibu jari harus menopang bass sambil jari-jari lain menari di register tengah, menipu telinga agar mendengar dua tangan padahal cuma satu. Tapi ketika ia memainkannya, sesuatu terasa kosong. Terlalu sopan. Terlalu berhati-hati, seperti seseorang yang belajar berjalan lagi dan takut tersandung sendiri.
Ia berhenti di birama kesembilan, tempat melodinya seharusnya menyentuh nada B — B natural, bersih, seperti yang tertulis di partitur mana pun di dunia ini. Tapi begitu jarinya menekan tuts itu di grand piano institut yang disetel sempurna, kepalanya justru mendengar nada lain: B yang sedikit merosot, agak longgar di ujungnya, seperti suara yang lelah menahan diri terlalu lama. Nada B fals dari upright gereja, yang sudah delapan tahun tinggal di telinganya seperti penumpang gelap yang tak pernah turun.
Dulu nada itu adalah teror. Ia mengingat malam-malam di kos ketika absolute pitch-nya — pendengaran yang katanya anugerah — justru menyiksanya, membuatnya terjaga karena mendengar setiap ketidaksempurnaan yang orang lain lewatkan begitu saja. Ia ingat bagaimana ia berusaha keras melupakan nada itu begitu menginjak institut, seolah nada B fals adalah aib yang harus ia kubur bersama sepatu usangnya, bersama logat Wonokromo yang ia coba haluskan.
Tapi Pak Pendeta pernah bilang, di suatu sore ketika Arsa pulang dalam kekalahan yang tak sanggup ia ceritakan seutuhnya: nada itu sudah fals empat puluh tahun, dan jemaat tetap menyanyi, dan entah kenapa Tuhan tetap terasa dekat meski nadanya meleset. Ketidaksempurnaan itu, kata Pak Pendeta, tidak pernah membunuh makna kidung. Ia cuma membuatnya jujur.
Arsa menatap birama kesembilan lama sekali. Lalu, alih-alih menghapusnya seperti biasa, ia meraih pensil dan menulis sesuatu yang tak lazim: ia menandai not B itu dengan tanda kurung kecil, lalu di bawahnya menuliskan angka delapan sen ke bawah — bukan seperempat nada, bukan mol penuh, hanya kemerosotan tipis yang cuma bisa ia dengar karena telinganya yang terlatih terlalu tajam untuk kebaikannya sendiri. Ia tahu persis besarnya, sudah tahu sejak kecil, sejak nada itu pertama kali menempel di kepalanya seperti luka yang tak pernah benar-benar menutup.
Masalahnya, grand piano tak bisa ditekuk nadanya di tengah permainan seperti biola atau cello. Sebuah B akan selalu jadi B, disetel presisi oleh teknisi piano yang dibayar mahal justru supaya tak ada yang meleset. Arsa duduk diam, memikirkan ini, sebelum teringat sesuatu yang pernah diajarkan Danupraja sambil lalu — tentang resonansi simpatik, tentang bagaimana menekan sebuah tuts tanpa memukulnya bisa membuat senar itu bergetar diam-diam, ikut bernyanyi setiap kali not lain dibunyikan di dekatnya.
Ia mencobanya. Tangan kirinya menekan tuts B-flat di oktaf bawah, perlahan, tanpa suara — hanya membuka senarnya, membiarkannya siap bergetar tapi tak dipukul palu. Lalu ia memainkan B natural di atasnya, sekuat yang diminta partitur.
Yang keluar bukan B yang bersih.
Ada sesuatu yang mengambang di bawahnya, getaran tipis dari senar B-flat yang ikut menyahut, membuat nada itu terasa berat sebelah, seperti mendengar dua orang menyanyikan nada sama namun salah satu dari mereka sedikit lelah. Bukan fals, bukan salah nada dalam pengertian yang bisa ditunjuk teknisi piano mana pun — tapi telinga tetap menangkap keraguan kecil di dalamnya, sebuah goyah yang jujur.
Itu dia. Persis itu.
Arsa memainkannya berulang-ulang, mencari takaran yang pas — berapa lama tuts bawah ditahan, seberapa keras B di atasnya dipukul, agar getaran itu muncul cukup untuk didengar tapi tak berlebihan hingga terdengar seperti kesalahan sungguhan. Ia menulis instruksi kecil di partitur, istilah yang ia karang sendiri karena tak ada notasi baku untuknya: tahan diam, biarkan bergetar. Tangan kirinya, yang dulu hanya alat pengiring yang dianggap remeh dalam dunia yang mengagungkan kelincahan tangan kanan, kini justru menjadi satu-satunya tangan yang mampu menciptakan hantu nada itu — memegang dua peran sekaligus, seperti dulu ia sendiri memegang dua dunia yang tak pernah benar-benar berdamai.
Ia meneruskan birama demi birama, dan setiap kali melodi menyentuh B itu, ia sengaja membiarkan getaran kecil itu muncul, seperti tanda tangan yang diselipkan di sudut sebuah lukisan. Bukan cacat yang disembunyikan lagi. Cacat yang, untuk pertama kalinya, sengaja ia tulis sendiri, dengan tangannya sendiri, atas kemauannya sendiri — bukan sesuatu yang menimpanya, melainkan sesuatu yang ia pilih.
Ketika akhirnya ia berhenti, jam di dinding menunjukkan hampir tengah malam, dan telapak tangan kirinya berdenyut lelah yang menyenangkan, bukan lelah yang menakutkan seperti dulu. Ia menatap kertas penuh coretan itu, sembilan birama yang kini punya nyawa berbeda dari saat ia mulai menulisnya malam itu, dan untuk sesaat ia tidak lagi mendengar nada B fals sebagai bayang yang mengejarnya dari Wonokromo.
Ia membayangkan reaksi Profesor Danupraja besok pagi — mungkin diam lama sebelum berkomentar, seperti kebiasaannya bila mendengar sesuatu yang tak bisa langsung ia beri nilai. Arsa tidak takut lagi pada keheningan semacam itu. Ia juga membayangkan bagaimana kalau suatu hari Renjana mendengarnya dari balik pintu, cello di pangkuannya, dan menebak-nebak nada apa yang sengaja dibuat goyah itu. Ia ingin melihat wajahnya saat menyadarinya.
Ia menyalin ulang sembilan birama itu ke lembar bersih, kali ini tanpa coretan, dan menulis satu kata kecil di pojok kanan atas sebagai judul sementara — bukan nama karya penuh, hanya penanda untuk dirinya sendiri, sesuatu yang bisa ia ubah nanti. Yang penting bukan judulnya. Yang penting nada itu, untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan Wonokromo, terdengar seperti rumah dan bukan seperti aib yang harus disembunyikan dari telinga orang lain.
Ia mendengarnya sebagai miliknya sendiri.