Ruang uji itu lebih kecil dari yang Arsa Pradipta bayangkan—hanya aula latihan sayap timur Institut Musik Wreksodiningrat, dengan tiga puluh kursi lipat dan sebuah panggung rendah yang tidak lebih tinggi dari sejengkal. Tetapi kesunyiannya lebih berat daripada panggung nasional mana pun yang pernah ia injak. Di kursi paling depan, Profesor Danupraja duduk dengan tangan terlipat, wajahnya tak terbaca seperti biasa. Di sampingnya, dua penguji dari komite institut membuka map berisi lembar penilaian. Di sudut belakang, tak jauh dari pintu, Renjana Larasati memeluk kotak cellonya seolah instrumen itu bisa meredam degup jantungnya sendiri.
Arsa duduk di depan grand piano latihan. Ia meletakkan tangan kanannya di pangkuan, terkatup, seakan dengan menyembunyikannya ia bisa menipu apa yang bersemayam di dalam otot-otot itu. Pagi ini jari manisnya sudah menekuk dua kali di kamar kos, tanpa diperintah, seperti seekor binatang kecil yang menolak dijinakkan. Ia tahu apa artinya. Ia memilih tidak memikirkannya.
"Kapan pun Anda siap," kata salah satu penguji.
Program yang ia bawa bukan lagi program lama. Danupraja dan ia telah merombaknya berminggu-minggu: sebagian besar untuk tangan kiri, dengan tangan kanan hanya diberi tugas yang paling ringan, paling jujur—dawai-dawai penopang yang tak menuntut kelincahan. Dan di jantung program itu, sebuah aransemen yang ia tulis sendiri, disusun mengelilingi satu nada: B yang fals, B yang selama empat puluh tahun mengganjal di piano upright gereja Wonokromo, B yang dulu menghantui pendengaran sempurnanya seperti duri.
Ia mulai.
Tangan kirinya turun ke tuts, dan aula itu terisi. Bukan dengan keperkasaan, melainkan dengan sesuatu yang lebih rendah dan lebih dalam—garis bas yang bergerak seperti orang berjalan menembus hujan. Absolute pitch-nya, yang bertahun-tahun menuntut kebersihan mutlak, kini justru menuntunnya ke arah lain: ia menaruh nada B itu di tempat yang seharusnya menyakitkan, lalu membiarkannya beresonansi, membiarkan telinga pendengar merasakan ada yang miring, sebelum tangan kirinya membungkusnya dengan harmoni yang menerima kemiringan itu. Fals yang disengaja. Cacat yang dipilih.
Ia merasakan Danupraja mencondongkan badan. Sedikit saja.
Bagian pertama berlalu bersih. Tangan kirinya menari dengan disiplin baru yang ditempa berbulan-bulan latih-ulang—lambat dulu, memalukan dulu, sampai kecepatan datang bukan sebagai paksaan melainkan sebagai buah kesabaran. Untuk sesaat Arsa lupa pada tangan kanannya. Untuk sesaat ia hanya musik.
Lalu tiba bagian tengah, tempat tangan kanan harus masuk.
Hanya empat birama. Tugas sederhana: menahan akor, menopang, tak lebih. Ia mengangkat tangan kanannya dari pangkuan dan meletakkannya di tuts. Kulitnya sendiri terasa asing. Ia menekan—
—dan jari manisnya menekuk.
Bukan tekukan halus kali ini. Otot itu mengunci, menarik jari ketiga ke bawah telapak dengan kekukuhan yang bukan miliknya, dan seluruh akor runtuh menjadi bunyi yang salah, sebuah cluster kotor yang menggema di aula kecil itu seperti piring pecah di ruang hening. Arsa merasakan darah menghilang dari wajahnya. Salah satu penguji mengangkat kepala dari lembar penilaian.
Waktu melambat. Ia bisa merasakan panik naik dari dadanya ke tenggorokan, familiar dan mematikan—dorongan lama untuk berhenti, untuk meminta maaf, untuk lari dari ruangan. Di panggung amal dulu ia menutupinya dengan improvisasi. Tapi improvisasi adalah kebohongan, dan ia sudah lelah berbohong.
Ia menarik tangan kanannya kembali.
Dan tangan kirinya melanjutkan.
Ia membiarkan tangan kanan yang gagal itu jatuh ke pangkuan tanpa drama, seolah memang begitu partiturnya, seolah ketiadaan itu adalah pilihan komposer. Tangan kirinya mengambil beban yang seharusnya dipikul dua tangan—melipat garis bas dan melodi ke dalam satu aliran yang tak terputus, mengisi ruang kosong yang ditinggalkan tangan kanan dengan gema motif B yang fals. Ia tidak menutupi kegagalan itu. Ia membiarkannya menjadi bagian dari cerita: di sinilah tangan yang satu tak sanggup, dan di sinilah tangan yang lain memikul.
Ia mendengar napasnya sendiri. Ia mendengar—benar-benar mendengar, dengan telinga yang tak pernah bisa berdusta padanya—bahwa musik itu tidak hancur. Ia goyah. Ia pincang. Tapi ia hidup.
Bagian penutup datang, dan Arsa membawanya pulang dengan tangan kiri saja, menaruh nada B fals sebagai kata terakhir, membiarkannya menggantung di udara, tidak diselesaikan menjadi nada yang "benar", karena memang tidak ada nada yang benar—hanya nada yang jujur. Ia mengangkat tangannya dari tuts. Dengung terakhir memudar perlahan ke dalam sunyi.
Untuk beberapa detik tidak ada yang bergerak.
Penguji pertama menulis sesuatu. Yang kedua menatap Arsa lama, lalu berkata pelan, hampir pada dirinya sendiri, "Bagian tengah itu—cacat teknis yang serius." Ia berhenti. "Tapi saya tidak bisa berhenti mendengarkan."
Danupraja tidak berkata apa-apa. Ia bangkit, mendekat ke panggung rendah itu, dan berdiri di hadapan muridnya. Wajahnya masih keras, garis-garis di sekitar matanya masih garis seorang lelaki yang tak mudah memuji. Tapi ada sesuatu di sana yang belum pernah Arsa lihat sepanjang tahun-tahun penghinaan dan metronom yang kejam.
"Empat birama itu gagal," kata Danupraja. Suaranya datar. "Menurut ukuran lama, kau tidak lulus."
Arsa menunduk.
"Tapi kita tidak sedang memakai ukuran lama." Profesor itu berhenti, dan untuk sekejap Arsa melihat kilas dari lelaki muda yang tangannya juga pernah mengkhianatinya, dari karier yang terkubur diam-diam. "Kau tidak lari tadi. Kau membiarkannya terdengar, lalu kau memikulnya. Itu—" ia mencari kata, dan tidak menemukan yang cukup, "—itu yang tidak bisa diajarkan."
Ia menoleh pada komite. "Rekomendasi saya: ia maju ke resital."
Di sudut belakang, Renjana menutup mulutnya dengan tangan. Arsa menangkap matanya, dan di sana ia melihat bukan kasihan—tak pernah kasihan—melainkan sesuatu yang lebih dekat pada kebanggaan.
Ia turun dari panggung dengan lutut yang gemetar. Kemenangan ini pincang, sepincang tangan kanannya, sebuah kemenangan yang tak utuh dan tak murni. Ia belum lolos dari apa pun. Jarinya masih akan menekuk esok pagi, dan besok, dan setiap pagi setelah itu. Grand piano warisan masih di gudang, terkunci di balik klausa dan kehilangan. Resital yang sesungguhnya masih menanti seperti tebing di ujung jalan.
Tapi ia sudah diberi izin untuk mendaki. Dan untuk pertama kalinya sejak tangannya mulai berkhianat, Arsa Pradipta membiarkan dirinya percaya bahwa mungkin—hanya mungkin—musik yang cacat dan jujur itu adalah musik yang paling sanggup ia berikan pada dunia.