Tepuk tangan itu datang terlambat setengah detik—jeda yang bagi orang lain mungkin tak berarti apa-apa, tapi bagi telinga Arsa yang mendengar segala sesuatu dalam nada dan jarak, jeda itu terasa seperti napas tertahan seluruh gedung. Ia masih duduk di depan grand piano warisan, tangan kanannya gemetar di atas pangkuan, tangan kirinya masih terangkat sedikit dari tuts terakhir yang ia tekan—nada B, sengaja dibiarkan sumbang, seperti upright gereja yang telah empat puluh tahun tak pernah benar.
Lalu tepuk itu pecah.
Bukan tepuk sopan yang mengiringi kepulangan seorang penampil ke balik layar. Ini berbeda—orang-orang berdiri, dan ada suara yang tak biasa terdengar di aula konser: isak. Bukan satu, tapi beberapa, tersebar di antara barisan kursi, seperti hujan yang turun sebentar-sebentar sebelum benar-benar deras.
Arsa berdiri, membungkuk kaku, tangan kanannya ia sembunyikan sedikit di balik jasnya tanpa sadar—kebiasaan lama yang belum juga hilang. Ketika ia mengangkat wajah, yang pertama ia cari bukan barisan kritikus di depan, melainkan satu titik di baris kelima: ibunya, dengan kerudung yang sama yang ia pakai ke gereja tiap Minggu, menutup mulut dengan kedua tangan. Di sebelahnya ayahnya duduk tegak, tak bertepuk—hanya mengangguk, sekali, seperti mengesahkan sebuah mesin yang akhirnya menyala setelah diperbaiki dengan tangan sendiri. Pak Pendeta berdiri paling belakang, bertepuk dengan telapak yang kasar karena bertahun memegang lonceng dan palu perbaikan atap.
Renjana tidak bertepuk. Ia berdiri diam, cello tak dibawanya malam itu, dan tangannya menutupi dada seperti menahan sesuatu agar tak keluar terlalu cepat.
Arsa membungkuk sekali lagi, lalu mundur ke balik layar, dan di situlah kakinya nyaris tak sanggup lagi menopang.
Danupraja sudah menunggu di sana, berdiri di sisi tirai gelap, dengan sikap yang selama dua tahun terakhir selalu sama—punggung lurus, rahang terkatup, mata yang menilai sebelum memuji. Tapi malam itu berbeda. Cahaya panggung yang bocor lewat celah tirai jatuh di wajahnya, dan Arsa melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sepanjang mengenal profesornya: air mata, dua garis tipis yang belum sempat dihapus, mengalir tanpa suara.
"Saya tidak—" Arsa mulai bicara, lalu berhenti, tak tahu harus meminta maaf atau bersyukur.
"Diam," kata Danupraja, tapi suaranya tak keras seperti biasa. "Biarkan aku berdiri di sini dulu."
Mereka berdiri begitu saja, guru dan murid, di antara kabel dan rak kostum, sementara dari balik tirai masih terdengar gemuruh tepuk yang tak juga reda. Seorang panitia lewat tergesa membawa clipboard, menyebut nama beberapa wartawan yang menunggu di lobi, tapi Danupraja mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka menunggu sebentar.
"Waktu aku kehilangan tanganku," katanya akhirnya, pelan, seolah kalimat itu telah tersimpan bertahun-tahun menunggu momen yang tepat untuk keluar, "tidak ada satu pun orang yang bertepuk tangan seperti ini untukku. Mereka hanya diam-diam memindahkan namaku dari daftar penampil ke daftar pengajar, seperti memindahkan barang rusak ke gudang." Ia menghela napas, menyeka pipinya dengan punggung tangan, cepat, seolah malu. "Kau baru saja membuat mereka menangis bukan karena kau sempurna. Kau membuat mereka menangis karena kau jujur. Itu—" ia berhenti, mencari kata yang selama ini tak pernah perlu ia cari, "—itu lebih sulit dari teknik mana pun yang pernah kuajarkan."
Dari arah lobi, seorang perempuan berjas abu-abu—Arsa mengenalinya sebagai salah satu kritikus musik yang biasa duduk di baris kedua dengan buku catatan kecil—menerobos masuk lebih dulu daripada wartawan lain, seakan tak sabar. Ia tidak bertanya soal repertoar atau interpretasi. Yang ia tanyakan hanya satu: "Kenapa kau tidak menyembunyikan tangan kananmu di balik aransemen yang lebih aman? Semua orang bisa dengar kau membiarkan keterbatasan itu ada di sana, telanjang."
Arsa terdiam sejenak, memikirkan bagaimana menjawab tanpa berbohong dan tanpa menjelaskan lebih dari yang perlu. "Karena kalau saya sembunyikan," katanya akhirnya, "musiknya jadi tentang menipu Ibu. Kalau saya biarkan ada, musiknya jadi tentang saya."
Perempuan itu menulis sesuatu di buku catatannya, cepat, lalu menatapnya lama sebelum pergi tanpa kata lagi—seolah jawaban itu sudah cukup, lebih dari cukup, untuk apa pun yang akan ia tulis nanti.
Di sudut lain, Arsa melihat Bramantyo berdiri agak menjauh dari kerumunan, bersandar pada dinding, tangan di saku. Mata mereka bertemu sebentar. Bramantyo tidak tersenyum, tidak juga memberi tanda permusuhan seperti dulu—hanya anggukan kecil, nyaris tak kentara, sebelum ia berbalik dan menghilang di antara orang-orang yang masih mengalir keluar dari aula.
Ibu Widari muncul terakhir, berjalan tenang seperti biasa, tapi ketika ia berhenti di depan Arsa, tangannya yang biasanya kaku terlipat di depan dada kini terulur, menyentuh lengannya sebentar—sentuhan singkat yang bagi perempuan seaustere itu terasa seperti pelukan penuh.
"Eyang akan bangga," katanya, hanya itu, lalu melangkah pergi menuju grand piano yang masih berdiri di tengah panggung kosong, seolah ingin memastikan sendiri bahwa instrumen itu baik-baik saja setelah malam yang begitu berat menimpanya.
Arsa berdiri di antara mereka semua—ibunya yang menangis, ayahnya yang mengangguk, Renjana yang menahan diri, Danupraja yang basah matanya, kritikus yang menulis dengan cepat, Bramantyo yang pergi tanpa dendam—dan untuk pertama kalinya sejak jari manisnya menekuk di ruang latihan tujuh, ia merasa tangannya, kedua-duanya, cukup.