Tiga hari setelah resital, telepon genggam Arsa yang murah—layarnya sudah retak di sudut kiri sejak jatuh dari saku celana bulan lalu—tak pernah benar-benar diam. Ia belum terbiasa dengan itu. Selama bertahun-tahun benda itu hanya berdering untuk kabar rumah: ibu menanyakan kapan pulang, atau nomor tak dikenal yang ternyata tawaran mengiringi orang kawinan. Sekarang notifikasi datang dari alamat surel yang tak pernah ia dengar, dari akun-akun dengan foto profil formal dan tanda tangan penuh gelar.
Ia membaca satu per satu di kamar kosnya yang sempit, duduk di lantai karena kursi satu-satunya penuh partitur. Sebuah ansambel kamar kecil di Surabaya menanyakan apakah ia bersedia menuliskan aransemen untuk formasi trio—biola, cello, dan piano tangan kiri—berdasarkan apa yang mereka dengar dari rekaman video resital yang beredar. Sebuah klinik rehabilitasi menyebut nama Dr. Prasetya sebagai perantara, bertanya apakah Arsa bersedia berbagi cerita di hadapan pasien yang kehilangan fungsi motorik halus. Institut sendiri, lewat surel resmi dari sekretariat, memintanya menjadi asisten pengajar kelas dasar semester depan.
Arsa menutup layar itu dan menatap dinding kosnya yang masih sama—cat mengelupas di sudut, kalender gereja tahun lalu yang belum ia ganti. Ia tidak tahu harus merasa apa. Bagian dari dirinya, bagian yang dulu berlatih sampai fajar demi peringkat tertinggi, membaca semua itu sebagai konsolasi hadiah hiburan bagi orang yang gagal jadi virtuoso.
Danupraja memanggilnya ke ruang kerja pada hari keempat. Meja profesor itu, seperti biasa, hampir kosong—hanya metronom tua, satu tumpuk partitur bertanda pensil, dan sekarang map cokelat yang belum pernah Arsa lihat sebelumnya.
"Duduk," kata Danupraja, tanpa basa-basi seperti biasa. Ia mendorong map itu ke seberang meja. "Ini semua masuk lewat sekretariat. Aku menyaring yang serius dari yang basa-basi."
Arsa membukanya. Isinya print-out surel yang sama, ditambah satu lagi yang belum ia lihat: sebuah yayasan di Jakarta, bergerak di bidang pendidikan musik bagi anak-anak dari keluarga tak mampu, menawarkan kerja sama merancang kurikulum kecil—termasuk, tertulis eksplisit, "modul bagi murid dengan keterbatasan fisik pada tangan."
"Saya tidak tahu harus jawab apa untuk semua ini," kata Arsa akhirnya. "Saya bukan—" ia berhenti, mencari kata yang tak menyakiti dirinya sendiri. "Saya bukan pianis yang bisa mereka pertunjukkan lagi. Bukan yang seperti dulu."
Danupraja menyandarkan punggung ke kursi. Wajahnya, yang tiga hari lalu basah di kursi penonton—hal yang tak pernah Arsa saksikan sebelumnya dan tak akan ia sebut lagi kecuali profesor itu sendiri yang membukanya—kini kembali datar, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya.
"Kau pikir aku memanggilmu ke ruangan ini selama tiga tahun karena aku butuh solois lain?" katanya. "Institut punya lusinan anak berbakat yang tangannya masih utuh. Yang tidak mereka punya adalah orang yang tahu rasanya kehilangan itu dan tetap memilih duduk di depan tuts." Ia mengetuk map cokelat itu dengan jari telunjuk. "Ini bukan hadiah hiburan. Ini pekerjaan yang hanya bisa dilakukan orang sepertimu."
Kata-kata itu tak langsung meresap. Arsa membawa pulang map itu, membiarkannya tergeletak di atas partitur selama dua hari, sampai Renjana datang membawa mi instan dan duduk di lantai bersamanya seperti dulu.
"Kau baca yang dari trio itu?" tanyanya, sambil menyeruput kuah dari mangkuk plastik. "Mereka minta aransemen, bukan penampilan. Kau yang menulis, orang lain yang mainkan bagian tangan kanan sungguhan." Ia diam sebentar. "Itu bukan penurunan kelas, Arsa. Itu peran lain."
"Aku tidak pernah membayangkan diriku jadi orang yang menulis untuk orang lain memainkan," katanya pelan. "Aku selalu membayangkan diriku di panggung."
"Dan sekarang?"
Arsa tidak menjawab segera. Ia memandang map itu, lalu ke jarinya sendiri—jari manis kanan yang masih, sesekali, menekuk tanpa ia minta, pengingat yang tak pernah benar-benar pergi. Ia memikirkan nada B fals di gereja, bagaimana ketidaksempurnaan itu justru yang membuat orang menangis mendengarnya bermain, bukan meski cacat itu ada, tapi karena cacat itu ada.
Yang paling mengejutkannya datang lewat pesan singkat tanpa nama pengirim yang ia kenali, sampai ia membacanya dua kali: Bramantyo. Pesan itu pendek, kaku, seolah ditulis dan dihapus berkali-kali sebelum akhirnya dikirim. Ayahku kenal orang di yayasan musik untuk anak difabel. Aku kasih tahu mereka soal resitalmu. Semoga tidak keberatan. Tidak ada tanda tangan, tidak ada permintaan maaf, tapi Arsa mengerti itu sebagai bahasanya sendiri—bahasa orang yang tak pernah belajar mengucap kata sederhana.
Malam itu Arsa duduk kembali di lantai kamarnya, membuka map cokelat itu untuk ketiga kalinya, dan mulai membalas satu per satu. Ia tidak menjawab yang menawarkannya kembali sebagai solois; ia tahu tubuhnya tak bisa menanggung itu lagi, dan untuk pertama kalinya kejujuran itu tak terasa seperti kekalahan. Ia menjawab ya pada asistensi mengajar. Ya pada aransemen trio, dengan syarat ia boleh menulis bagian tangan kiri untuk dirinya sendiri jika suatu hari ingin ikut tampil. Dan pada klinik rehabilitasi, ia menulis satu kalimat yang butuh waktu lama untuk berani ia ketik: Saya belum sembuh, tapi saya bisa cerita bagaimana caranya tetap main meski begitu.
Ia menutup laptop pinjaman itu larut malam, dan untuk pertama kalinya sejak grand piano ditarik dari hidupnya, ia tidur tanpa memimpikan panggung—hanya memimpikan ruang kelas kecil, penuh anak-anak, dan sebuah tuts yang menunggu disentuh oleh tangan siapa pun yang mau mencoba.