Pagi itu Ibu Widari memanggilnya bukan lewat sekretaris, bukan lewat amplop bersegel yayasan seperti biasa, melainkan lewat secarik kertas yang ditulis tangan dan diselipkan di bawah pintu kamar kos Arsa: Datang ke ruang warisan, pukul sepuluh. Sendiri.
Arsa berdiri di depan pintu ruang itu lebih lama dari yang ia sadari. Ruang yang dulu terkunci rapat untuknya, lalu terbuka bersyarat, lalu tertutup lagi ketika grand piano ditarik, dan minggu lalu terbuka sekali lagi—cuma-cuma—untuk resital. Kini daun pintu itu setengah menganga, dan dari dalam terdengar bukan nada, melainkan gemerisik kertas tua yang dibalik satu per satu.
Ibu Widari duduk di kursi tinggi di samping grand piano, punggung tetap tegak seperti selalu, tetapi di pangkuannya tergeletak setumpuk map kulit yang sudah pudar warnanya. Ia tidak menoleh ketika Arsa masuk. "Duduklah," katanya. "Bukan di bangku piano. Di sini."
Arsa menarik kursi kayu dan duduk. Sinar dari jendela tinggi jatuh miring, menerangi debu yang mengambang, dan di bawahnya tuts gading grand piano itu berkilau seperti barisan gigi yang sabar. Ia sadar jari manis kanannya menekuk pelan di atas paha, tanpa ia perintahkan. Ia tidak lagi menyembunyikannya. Tubuh yang mengkhianati itu kini ikut duduk bersamanya, seperti tamu yang tak bisa diusir.
"Kau tahu apa isi map ini?" Ibu Widari akhirnya menoleh. Wajahnya, yang selama bertahun-tahun Arsa kenal sebagai wajah yang dipahat dari batu, hari ini tampak lebih tipis, lebih tua. "Ini partitur yang tidak pernah selesai. Karya-karya terakhir Eyang Wreksodiningrat. Ditulis setelah tangannya tak bisa lagi memainkan apa yang ditulisnya."
Ia membuka map paling atas. Kertas manuskrip menguning, garis-garis paranada digambar tangan, dan not-notnya—Arsa mencondongkan tubuh—not-notnya penuh coretan, penuh keraguan yang dibekukan tinta. Di margin, tulisan tangan kecil yang gemetar: untuk tangan yang lain.
"Empat puluh tahun ini tak seorang pun kuizinkan menyentuhnya," kata Ibu Widari. "Aku menjaganya seperti orang menjaga makam. Kupikir menjaga berarti mengunci. Kupikir warisan adalah sesuatu yang dimiliki, lalu dijaga agar tak ternoda tangan orang lain."
Arsa tidak berkata apa-apa. Ia belajar, sepanjang tahun ini, bahwa ada diam yang harus dihormati sampai selesai.
"Malam resitalmu," lanjut Ibu Widari, dan suaranya sedikit tersendat di kata itu, "aku duduk di baris ketiga. Kau memainkan nada B yang fals itu, sengaja, di tengah karyamu sendiri—dan aku mendengar sesuatu yang tidak pernah kudengar selama empat puluh tahun menjaga piano ini. Aku mendengar Eyang. Bukan Eyang yang perkasa di rekaman lama. Eyang yang menulis di margin ini, dengan tangan yang sudah tak menurut. Kau memainkan apa yang tak sempat ia selesaikan."
"Saya tidak bermaksud—" Arsa berhenti. "Saya cuma bermain dengan yang masih saya punya."
"Justru itu." Ibu Widari menutup map, lalu meletakkannya di atas tuts gading itu, di atas piano yang selama ini menjadi taruhan, hukuman, dan monumen sekaligus. "Aku salah selama ini, Arsa. Aku mengira aku menjaga warisan Eyang. Yang kujaga hanya kayunya. Senarnya. Harganya. Bukan yang sesungguhnya ia wariskan."
Ia mendorong tumpukan map itu pelan ke arah Arsa.
"Ambil. Bukan dipinjamkan kali ini. Bukan dengan klausa. Grand piano ini dan naskah-naskah ini menjadi tanggunganmu—amanah, bukan hadiah. Selesaikan yang bisa kauselesaikan. Ajarkan yang bisa kauajarkan. Kalau ada bagian yang tak bisa, biarkan tak selesai; ketidaksempurnaan pun bagian dari yang ia titipkan."
Arsa menatap map itu tanpa menyentuhnya. Tangannya—kedua tangannya—terasa berat. Ia teringat malam ia menandatangani kontrak pertama di ruangan ini, gembira sekaligus terjerat, betapa mudanya ia waktu itu, betapa ia mengira memiliki adalah kemenangan.
"Kenapa saya?" tanyanya akhirnya. Suaranya rendah. "Peringkat saya jatuh. Tangan saya tidak akan pernah sama. Ada mahasiswa lain yang jarinya masih utuh—yang bisa membawakan karya ini sebagaimana mestinya."
"Sebagaimana mestinya." Ibu Widari mengulang kata itu dengan getir tipis yang nyaris seperti tawa. "Eyang menulis ini bukan untuk tangan yang utuh. Ia menulisnya justru setelah kehilangan. Yang bisa membawakan ini 'sebagaimana mestinya' adalah orang yang tahu rasanya tuts menolak jari. Bukan yang paling perkasa. Yang paling jujur." Ia berhenti. "Aku sudah terlalu tua untuk keliru dua kali soal ini."
Arsa mengulurkan tangan. Jari manisnya menekuk lagi di tengah gerak, dan untuk sekali ini ia membiarkannya, membiarkan tangan itu meraih dengan caranya yang cacat, dan tetap sampai. Ujung jarinya menyentuh kulit map yang dingin dan halus. Ia menariknya ke pangkuan.
Di dalam dadanya sesuatu yang selama bertahun-tahun mengeras—rasa asing, rasa ikan di darat, rasa terjerat—terasa longgar sedikit. Bukan hilang. Longgar.
"Saya akan mengajarkannya," kata Arsa. "Kepada yang tidak mampu membelinya. Kepada yang tangannya juga mengkhianati mereka. Kalau itu diperbolehkan."
Untuk pertama kali sejak Arsa mengenalnya, Ibu Widari tersenyum—senyum kecil, austere, tetapi sungguh. "Eyang akan menyukai gagasan itu lebih dari apa pun yang pernah kupikirkan untuk menghormatinya."
Ia bangkit, merapikan roknya, kembali menjadi perempuan tegak yang selalu Arsa kenal. Di pintu ia berhenti sejenak, tanpa menoleh.
"Ruangan ini tidak akan kukunci lagi. Datang kapan pun. Ini rumah untuk piano itu sekarang—rumah untuk musik yang belum selesai." Lalu ia pergi, langkahnya menggema di koridor marmer, lalu senyap.
Arsa duduk sendiri di ruang yang tiba-tiba terasa lebih luas. Ia meletakkan map di atas tutup piano dan membuka lembar pertama. Ia tidak memainkannya—belum. Ia hanya membaca not-not yang ditulis tangan gemetar itu, mendengarnya di dalam kepalanya, dan di suatu tempat di frasa keempat, absolute pitch-nya menangkap sebuah nada B yang oleh Eyang sengaja dituliskan sedikit meleset, ditandai dengan tanda tanya kecil di margin. Arsa tersenyum. Ia mengambil pensil dari saku, dan di sebelah tanda tanya itu, dengan hati-hati, ia menuliskan satu kata: benar.