Bus kota menurunkannya di ujung gang seperti biasa, mengempaskan debu tipis ke sandal-sandal yang berjajar di depan warung Bu Ratmi. Arsa berdiri sebentar dengan tas berisi partitur yang lebih tebal dari terakhir kali ia pulang, membiarkan bau minyak goreng dan knalpot bercampur di hidungnya seperti aroma yang baru saja ia sadari betapa ia rindukan. Kabel-kabel listrik masih melintang rendah di atas kepala. Anak-anak masih berlarian dengan sandal jepit kebesaran. Yang berbeda hanya caranya berjalan di gang itu sekarang — dulu ia menunduk, seolah gang ini adalah sesuatu yang harus dilewati secepat mungkin menuju tempat lain yang lebih layak. Sekarang ia menoleh ke kanan-kiri, mengenali kembali cara sesuatu bisa dicintai tanpa perlu ditinggalkan dulu.
Ibunya sedang menjemur seprai gereja di tali yang membentang antara dua jendela ketika ia muncul di ujung gang, dan untuk sepersekian detik perempuan itu berdiri diam dengan jepitan jemuran di tangan, seakan tak yakin matanya benar. Lalu ia berjalan cepat, hampir berlari, dan memeluk Arsa dengan tangan yang masih basah, tangan yang selama bertahun-tahun mengepel lantai gereja dan memeras kain pel orang lain agar anaknya bisa punya sepatu yang tidak robek. Arsa merasakan tangan itu di punggungnya, kasar di telapak, gemetar bukan karena lemah tapi karena menahan sesuatu yang terlalu penuh untuk kata-kata.
"Kamu kurus," ibunya berkata, seperti selalu, dan Arsa tertawa kecil karena kalimat itu tidak pernah berubah walau segalanya lain sudah berubah.
Ayahnya keluar dari rumah petak dengan langkah yang masih hati-hati sejak pinggangnya cedera, tapi lebih tegak dari yang Arsa ingat terakhir kali. Ada obeng terselip di saku celananya — tanda ia sudah kembali menerima order kecil-kecilan, memperbaiki kulkas tetangga yang berdenging aneh atau kompresor yang mogok. Ia tidak memeluk Arsa; itu bukan caranya. Ia hanya menepuk bahu anaknya dua kali, keras, seperti mengetuk sesuatu untuk memastikan masih kokoh, lalu berkata, "Piano itu masih di gereja. Pendeta bilang jangan disentuh siapa-siapa sampai kau pulang."
Mereka berjalan bertiga ke gereja sore itu, melewati jalan yang sama yang dulu ditempuh Arsa dengan sepatu yang sobek di ujung jempol, dulu dengan kepala penuh angka — ongkos bus, harga senar piano, selisih rupiah antara bertahan dan menyerah. Sekarang kepalanya penuh nada, dan itu, ia sadari, adalah kemewahan yang tidak pernah ia bayangkan bisa ia miliki: berjalan tanpa menghitung.
Pak Pendeta sudah menunggu di depan pintu gereja, lebih ringkih dari terakhir kali tapi matanya masih tajam seperti dulu, mengawasi Arsa turun dari trotoar dengan senyum yang menahan diri agar tidak terlalu lebar. Di dalam, upright tua itu masih berdiri di sudut yang sama, catnya makin mengelupas, satu kakinya masih diganjal potongan kayu supaya tidak goyah. Arsa mendekat dan membuka tutup tutsnya sendiri, seperti dulu, tanpa perlu diminta.
Ia menekan B itu lebih dulu — nada yang sudah empat puluh tahun fals, menurut Pak Pendeta, dan mungkin akan tetap fals empat puluh tahun lagi. Dulu nada itu mengejarnya sampai ke ranjang kos, sampai ke telinga absolutnya yang tak bisa berhenti mendengar cacat itu bahkan di tengah gedung konser paling megah. Sekarang bunyinya masuk ke tubuhnya seperti sebuah nama yang sudah lama tidak ia panggil dengan benar.
Ia mulai memainkan aransemennya sendiri — karya yang lahir dari bulan-bulan paling gelap, ketika tangan kanannya menolak perintah dan ia harus mengarang ulang seluruh cara ia berbicara lewat piano. Tangan kirinya membawa melodi yang dulu ditulis untuk pianis-pianis yang kehilangan tangan kanan mereka, dan di tengah-tengahnya, sengaja, ia biarkan B itu berbunyi fals, berulang, seperti jahitan yang tidak disembunyikan tapi dipamerkan. Di gedung konser ia memainkannya di grand piano warisan Eyang Wreksodiningrat, di depan kritikus yang menangkap tiap nuansa. Di sini ia memainkannya di upright yang catnya mengelupas, di depan tiga orang yang tidak tahu istilah task-specific dystonia, yang tidak tahu apa itu voicing atau weight transfer, tapi tahu persis kapan sebuah lagu jujur.
Ibunya duduk di bangku depan dengan kedua tangan terlipat di pangkuan, dan air matanya jatuh tanpa suara, tanpa isak, seperti sesuatu yang sudah lama ia simpan dan akhirnya diberi izin keluar. Ayahnya berdiri bersandar di tiang dekat pintu, rahangnya mengeras menahan sesuatu, tapi matanya tidak berkedip sekali pun selama Arsa bermain. Pak Pendeta memejamkan mata, seperti biasa ia lakukan saat mendengarkan kidung yang ia tahu setiap cacatnya, dan bibirnya bergerak pelan, entah berdoa atau sekadar mengikuti nada.
Ketika lagu itu selesai, tak ada tepuk tangan seperti di gedung konser, tak ada kilat kamera, tak ada resensi yang akan ditulis esok hari. Hanya keheningan gereja yang biasa, kipas angin yang berputar lambat di langit-langit, dan suara kendaraan jauh di luar. Tapi keheningan itu terasa penuh, bukan kosong.
"Empat puluh tahun aku dengar nada itu fals," kata Pak Pendeta akhirnya, suaranya lirih, "dan baru sekarang aku dengar dia benar."
Arsa tidak menjawab. Ia hanya membiarkan tangannya tetap di atas tuts, merasakan kayu yang dingin dan familiar itu, piano yang tidak pernah bisa bersaing dengan grand mana pun dalam kesempurnaan, yang justru karena itu ia cintai tanpa syarat. Rumahnya masih rumah petak dengan atap yang menunggu diperbaiki, ayahnya masih pulih pelan-pelan, ibunya masih akan kembali mengepel esok pagi. Kemiskinan tidak pergi begitu saja hanya karena namanya pernah disebut di sebuah panggung nasional. Tapi untuk pertama kalinya, Arsa tidak merasa mimpinya dan kemiskinannya sedang berperang. Keduanya sudah belajar hidup berdampingan, membentuk satu sama lain menjadi sesuatu yang tidak sempurna — dan, seperti nada B itu, tetap layak dinyanyikan.