Angkot itu berhenti di ujung gang seperti biasa, tapi kali ini Arsa turun dengan amplop cokelat terselip di tas ranselnya, di antara partitur-partitur yang sudah lecek pinggirnya. Ia berjalan melewati got kecil yang airnya keruh, melewati jemuran yang bersilangan di atas kepala, dan baru berhenti ketika melihat gereja dari kejauhan: ada bambu-bambu penyangga menempel di atapnya, seperti perban pada tubuh yang lama sakit.
Ia sudah mendengar dari ibunya lewat telepon bahwa perbaikan sudah mulai, tapi mendengar berbeda dengan melihat. Ada dua orang tukang di atas, memasang seng baru yang masih berkilau, belum sempat kusam oleh hujan.
Ayahnya duduk di teras rumah, di kursi kayu yang sama sejak Arsa kecil, memperhatikan atap gereja dari kejauhan seperti orang menonton pertandingan yang hasilnya sudah ia tunggu bertahun-tahun. Tangan kanannya — tangan yang dulu berhenti bekerja setelah cedera itu, yang membuat penghasilan keluarga runtuh dalam semalam — kini terlipat tenang di pangkuan, tidak gemetar, tidak dilindungi seperti dulu.
"Sudah bisa angkat apa saja sekarang?" tanya Arsa, duduk di sebelahnya, tidak langsung menyerahkan amplop itu. Ia belajar dari pengalamannya sendiri: uang yang diberikan terlalu cepat bisa terasa seperti sedekah, dan ayahnya bukan orang yang sudi menerima sedekah dari anaknya sendiri.
"Kulkas kecil, ya. Yang besar masih kupikir dua kali." Ayahnya tersenyum tipis, lalu menoleh. "Pak Broto minta tolong benerin kulkasnya minggu lalu. Aku bilang, coba dulu, kalau tak sanggup kupanggil orang lain. Tapi sanggup."
Ada sesuatu dalam caranya mengucapkan kata "sanggup" yang membuat dada Arsa terasa penuh — bukan karena kulkas itu penting, tapi karena kepercayaan itu penting. Orang-orang di gang sudah lama berhenti memanggil ayahnya untuk memperbaiki apa pun, sejak tangannya gagal dan reputasinya ikut runtuh bersama penghasilannya. Sekarang seseorang memanggilnya lagi, bukan karena kasihan, tapi karena percaya tangannya masih bisa dipakai.
"Aku ada perlu tangan tukang," kata Arsa akhirnya, memancing. "Pedal upright gereja bunyi berdecit. Aku sudah coba, tapi tak paham mekanismenya."
Ayahnya berdiri lebih cepat dari yang diperkirakan Arsa, mengambil kotak perkakas dari bawah bangku yang sudah bertahun-tahun tak dibuka penuh. Di dalam gereja, di bawah mimbar, Pak Pendeta sedang menghitung sisa uang perbaikan di buku catatan usang miliknya, dan berhenti begitu melihat mereka berdua masuk.
"Piano yang ini juga sudah lama minta diperbaiki," kata Pak Pendeta, setengah bercanda, setengah tidak. "Tapi aku tak berani sentuh. Dia sudah cukup rewel dengan nada B-nya."
Ayah Arsa berlutut di depan upright itu, membuka penutup bawah dengan gerakan yang tampak asing di awal — kaku, ragu, seperti otot yang lupa jalan pulang — lalu perlahan menemukan iramanya sendiri. Ia menekan pedal beberapa kali, mendengarkan bunyi berdecit itu dengan telinga yang bukan telinga musisi, melainkan telinga tukang: mencari sumber gesekan, bukan sumber nada.
"Engselnya kering," katanya. "Bukan rusak. Cuma butuh minyak dan sedikit sabar."
Arsa duduk di bangku jemaat, menonton ayahnya bekerja dengan cara yang tak pernah benar-benar ia perhatikan sebelum ini — teliti, tenang, tanpa terburu-buru membuktikan apa pun kepada siapa pun. Ia teringat kata-kata ayahnya bertahun-tahun lalu, tentang mesin rusak dan apa yang masih bisa diperbaiki. Ia baru sekarang mengerti bahwa kata-kata itu bukan hanya tentang kulkas.
Ibunya datang membawa air teh untuk mereka bertiga, lalu berdiri agak lama di ambang pintu gereja, memandangi atap yang setengah selesai itu dari dalam. Arsa memperhatikan wajahnya — bukan wajah perayaan, melainkan wajah orang yang sudah lama berdoa untuk sesuatu dan hampir lupa rasanya doa itu dijawab.
"Empat tahun aku minta ini pada Tuhan tiap malam," katanya pelan, tidak benar-benar berbicara kepada siapa pun. "Aku kira Dia sudah lupa alamat kami."
"Bu—" Arsa mau membantah, tapi ibunya menggeleng, tersenyum, tidak sedih.
"Bukan mengeluh, Nak. Cuma bilang, kadang jawaban datang lewat jalan yang tak pernah kita duga." Ia menatap Arsa lama sekali. "Aku dulu minta kau jadi apa saja yang membuatmu bisa makan tiga kali sehari. Tak pernah kubayangkan jawabannya lewat piano."
Malam itu mereka makan bertiga di meja yang sama, dengan lauk yang sama sederhananya seperti sepuluh tahun lalu — tempe, sayur bening, nasi yang cukup untuk semua orang tanpa perlu dibagi hati-hati lagi. Arsa akhirnya menyerahkan amplop itu, dan kali ini ayahnya menerimanya tanpa menolak, tanpa juga berlebihan berterima kasih, hanya membuka lipatannya, menghitung sebentar dengan mata seorang teknisi yang terbiasa menghitung suku cadang, lalu mengangguk.
"Cukup untuk material atap sisanya, dan sisa sedikit untuk kau simpan sendiri di kos," katanya. "Jangan kirim semua. Kau juga harus makan di sana."
Bukan rumah baru. Bukan mobil. Bukan cerita dermawan yang mengubah nasib semalam. Hanya atap yang tidak lagi bocor saat hujan, kulkas tetangga yang kembali dipercayakan pada tangan ayahnya, dan seorang ibu yang bisa berhenti menghitung berapa lama lagi ia sanggup menahan sebelum semuanya runtuh.
Selepas makan, ayahnya duduk lagi di kursi terasnya, memandangi gereja yang sudah mulai gelap, atapnya masih berbau seng baru. Arsa berdiri di sampingnya, tidak mengatakan apa-apa, karena beberapa hal memang lebih baik dibiarkan diam — dua tangan yang sama-sama pernah gagal, kini duduk bersisian, sama-sama tahu berapa harga sebuah martabat yang dikembalikan pelan-pelan, bukan dihadiahkan sekaligus.