Laki laki tua terhormat dengan rambut beruban dan wajah menyenangkan itu tak terlihat layaknya orang yang mudah gusar, namun matanya yang tajam memelototiku dengan marah dan bibirnya bergetar murka.
‘Tristin, aku ke sini untuk memberitahumu beberapa keluhan. Aku menolak keras sikapmu yang tanpa perasaan itu sampai membuat anjingku menderita secara tidak wajar.”
“Menderita? Menderita kayak apa?” tanyaku kebingungan, pasalnya dia tiba tiba berkata seperti itu.
“Aku rasa kau pasti tahu, Tristin. Beberapa hari yang lalu, aku membawa anjingku ke sini. Saat itu dia sangat pincang dan aku meminta kau untuk menanganinya,”
Aku mengangguk. “Ya, aku ingat itu. Tapi penderitaan apa yang kau maksud?”
“Anjing malang itu berjalan dengan satu kaki tergantung dan aku tidak berhak untuk bilang kalau