Sudah jam sembilan malam dan aku masih bekerja di tengah cuaca basah dan lingkungan kotor itu. Aku mencengkeram roda kemudi lebih erat dan beringsut di tempat dudukku sambil mengerang lirih karena setiap ruas otot di tubuhku terasa pegal.
Mengapa gerangan aku menekuni profesi ini? Bukankah aku bisa memilih sesuatu yang lebih mudah dan ramah—seperti misalnya menambang batu bara atau menebang pohon. Aku mulai mengasihani diri sejak tiga jam yang lalu, sementara mengendarai mobil di seberang pasar Sorachi, menuju pertanian untuk menangani kelahiran anak lembu. Toko-toko sudah tutup, dan bahkan di balik hujan rintik-rintik musim dingin, masih terasa suasana yang menyiratkan waktu istirahat, pekerjaan yang telah rampung, perapian, buku-buku, dan asap tembakau yang mengepul. Aku memiliki semua