Laki laki itu kelihatan putus asa dan bernapas tersengal-sengal di anak tangga ruang bedah. "Percuma saja, aku tidak bisa membawanya masuk. Dia kaku seperti papan!”
Perutku langsung melilit. Satu korban lagi. "Maksudmu Junichi?'
"Ya, dia di bak mobilku.”
Aku berlari melintasi trotoar dan membuka pintu mobil. Kekhawatiranku terbukti: seekor anjing Dalmatian tampan terbujur kaku dengan badan kejang-kejang, tulang punggung melengkung, kepala tertekuk ke belakang, dan keempat kakinya mengais-ngais tidak keruan.
Aku tidak membuang-buang waktu dan langsung berlari masuk untuk mengambil alat suntik dan obat-obatan.
Setelah itu aku membungkuk ke dalam mobil, menyelipkan kertas koran di bawah kepala anjing itu, lalu menyuntikkan apomorfin dan menunggu.
Laki-laki itu menatapku cemas. "Kenapa