Atsushi dan aku sedang sarapan di ruang makan yang luas. Kolegaku ini mendongak dari surat yang sedang dibacanya.
“Tristin, kau masih ingat Saito Takumi?"
Aku tersenyum. "Mana bisa aku lupa. Kejadian di pacuan itu memang istimewa." Aku akan selalu mengingat teman kuliah Atsushi itu.
"Ya... ya, memang istimewa." Atsushi mengangguk singkat. "Dan ya, aku baru menerima suratnya. Sekarang dia sudah punya enam anak, dan meskipun dia tidak mengeluh, menurutku bekerja di tempat muram pasti kurang nyaman. Terutama kalau penghasilannya kecil sekali." Atsushi menarik-narik daun telinganya sambil merenung. "Kau tahu, Tristin, alangkah baiknya kalau dia bisa istirahat sejenak. Maukah kau ke sana dan menggantikan tempatnya selama beberapa minggu, supaya dia bisa berlibur bersama keluarganya?"
"Ten