Aku memegang pisauku di atas telinga yang bengkak. Arashi yang bersandar dengan satu siku di meja, sedang memegangi masker anestesi di hidung anjing yang sudah terbius itu ketika Atsushi masuk.
Dia menoleh sekilas kepada pasienku. "Ah ya, kau sedang menangani hematom yang pernah kau ceritakan itu, Tristin." Kemudian dia menoleh ke adiknya. "Astaga, pagi ini kau terlihat Oke sekali! Jam berapa kau pulang semalam?"
Arashi mendongak. Wajahnya pucat, matanya merah dan sembap. "Oh, entahlah. Cukup malam, kurasa.”
"Cukup malam! Aku pulang dari membantu kelahiran anak babi jam empat pagi dan kau belum pulang. Ke mana saja kau?”
"Aku ke pesta dansa. Acaranya hebat."
"Sudah pasti!" dengus Atsushi. "Kau tidak pernah ketinggalan ya? Setiap ada acara minum di mana pun, kau pasti menemukannya.”