Buruh tani itu berjalan di antara sapi-sapi dan menangkap ekor pasienku. Saat melihat potongan rambutnya, aku langsung tahu Izaki Anderson telah beraksi lagi. Ketika itu hari Minggu pagi dan semuanya menjadi jelas. Aku sebenarnya tidak perlu lagi bertanya.
"Apa semalam kau berada di Penang?" tanyaku sambil lalu, sementara menyusupkan termometerku.
Dengan murung dia mengusap kepalanya. "Aye, sialan, memang betul. Kau langsung bisa melihatnya, kan? Sejak itu istriku marah marah terus."
"Kurasa Izaki kembali mabuk, eh?"
Aye, memang benar. Seharusnya aku tahu untuk tidak datang pada hari Sabtu malam. Jadi, salahku sendiri."
Izaki Anderson salah satu pemangkas rambut lokal. Dia begitu menyukai pekerjaannya, tapi juga menggemari bir. Yang jelas dia begitu menyukainya sampai-sampai dia mem