”Ini Ato,” kata Suster Rinko. ”Anjing yang mau kau periksa.”
Aku memandang bulu telinga dan sisi anjing yang berwarna pucat mirip madu itu. ”Aku bisa melihat alasan mengapa kau menamai dia dengan nama itu. Aku yakin dia akan bercahaya di bawah sinar matahari.”
Perawat itu tertawa. ”Ya, lucunya, cuaca memang cerah waktu aku pertama kali melihat dia, dan nama itu muncul begitu saja di benakku.” Dia lalu melirikku. ”Aku memang ahli memberi nama, kau tahu.”
“Oh ya, itu sudah pasti,” kataku tersenyum. Ini memang lelucon kecil di antara kami. Suster Rinko memang harus piawai memberi nama kepada hewan-hewan yang tidak diinginkan dan terus berdatangan ke penampungan anjing di belakang rumahnya itu. Dia mengelola tempat ini dengan cara mengadakan pameran kecil-kecilan, obralan, dan sebagainya,