Aku meringis ketika sosok Ino Manabu yang ramping itu membentur rusuk sapinya, tapi sepertinya Ino sendiri tidak tampak terganggu. Kedua matanya terbelalak sesaat dan topinya melesak menutupi satu telinga, tapi dia kembali mencengkeram ekor lembu itu, bertahan dengan sepatu botnya, dan siap beraksi lagi.
Aku sedang berusaha membilas rahim lembu itu dengan iodine Lugol. Ini memang perawatan yang lazim digunakan pada masa sesudah perang untuk menangani kemandulan pada ternak akibat endometritis. Tapi untuk iłu aku harus memasukkan kateter Nielsen berupa tabung logam panjang melalui leher rahimnya, dan hewan ini sepertinya tidak menyukainya. Setiap kali aku mencoba memasukkan kateter itu, dia akan memberontak dengan keras. Karena bobot petani itu hanya sekitar lima puluh kilogram, dia berkal