Sepertinya aku bakal berhasil mencapai jalan lagi. Aku benar benar lega karena pada pukul tujuh pagi di musim dingin, saat jajar baru membentang di ujuk timur tanah tandus, benar benar tak nyaman untuk mengeluarkan mobilku dari timbunan salju.
Jalan sempit tanpa pagar ini mengitari dataran tinggi, menuju beberapa peternakan terpencil di ujung jalan jalan setapak yang bahkan lebih sempit lagi. Ketika keluar memenuhi panggilan—untuk menangani pendarahan yang terjadi pada anak sapi—pada dini hari tadi, salju belum pernah turun lebat. Tapi tiupan angina semakin keras dan menerpa lapisan atas salju yang menyelimuti puncak puncak bukit selama berminggu minggu. Lampu besar mobilku menyoroti salju yang terbawa angina, bagaikan jemari lentik yang merayapi jalan aspal sempit.
Semua jalan buntuk