Aku duduk tegak di ranjang untuk dapat melihat langsung ke arah balik bukit Sorachi. Aku berdiri dan melangkah perlahan ke jendela. Pagi ini bakal terlihat cerah, dan matahari yang baru saja terbit menyingsing dari balik atap genting tua berwarna merah dan kelabu. Ada yang sudah melesak menahan beban genting kuno yang berat itu. Di sela sela cerobong asap, rumah rumah menyembul dedaunan hijau pepohonan yang tumbuh di pekarangan, dan di balik semuanya itu terlihat sebuah daerah perbukitan yang terhampar luas.
Aku merasa kalau diriku benar benar beruntung, sebab pemandangan ini yang pertama aku lihat setiap pagi, setelah Kiyoshi tentu saja, yang jauh lebih sedap dipandang mata. Cerita yang sederhana, mengapa aku bisa dengan Kiyoshi, meskipun awalnya aku sedikit memiliki ketertarikan kepada