Rudy masuk rumah, menemui Ibunya di kamar. Ia harus menyampaikan pada Ibunya kabar pernikahannya. Diketuknya kamar Ibunya pelan.
"Masuk saja!" perintah Ibunya.
Rudy perlahan membuka pintu.
"Ibu kok belum tidur?" tanyanya sambil menghampiri Ibu.
"Ibu sedih mikir soal Farhan. Kenapa dia bisa begitu," ucapnya nampak berduka.
"Aku malah baru tahu, kemarin balik langsung ke apartment ga sempat ke rumah. Eh mampir kesana aku baru tahu ceritanya," sahut Rudy sambil memeluk dan mencium Ibunya.
"Kasihan gadis itu, Ibu ketemu sekali. Anaknya baik, halus," kenangnya.
"Jadiin mantu aja gimana Bu?" pancing Rudy.
"Halah, Ibu mah yakin dia ga bakalan mau," jawab Ibu sambil terkekeh.
"Mau kok tadi waktu aku tanya," pancing Rudy memberi info.
Ibunya terdiam dan menatapnya dengan serius.
"Yakin anaknya mau?" gantian Ibunya tidak percaya.
"Yakinlah, sebagai anak Ibu yang ganteng, aku tersinggung lho dibilang gitu," protes Rudy sambil cemberut.
Ibunya mengelus pipi Rudy sebentar. Anak bungsunya yang tidak direncanakan kelahirannya. Hadir saat usia ibunya menjelang menopause. Bersyukur ia dan almarhum suaminya bisa mengantarkannya hingga lulus kuliah. Ia berharap bisa melihat anak Rudy nantinya karena ini menjadi pikirannya saat sedang sendiri. Ia berharap Rudy sudah menikah dan punya anak saat ajal menjemputnya, sehingga tunai sudah tugasnya. Ibu menatap Rudy serius.
"Kamu sudah mantap dengan gadis itu?" tanyanya lagi.
Rudy mengangguk yakin. Ibunya langsung memeluknya erat.
"Semoga hadir cinta diantara kalian, dan terus dibangun sampai nanti ajal tiba," bisik ibunya.
Rudy tersenyum, demi wanita ini ia rela melakukan apapun. Satu-satunya wanita paling ia cinta.
"Besok aku ke Jakarta Bu menemui Dira dan keluarganya. Ibu ikut kan?" ucapnya sambil membelai pipi keriput Ibunya.
Ibunya terkekeh ringan.
"Ibu nanti minggu depan saja, takut Ibu kelelahan," bisiknya sambil mencium pipi Rudy.
"Lagian kamu sudah besar ke sana sini berani sendiri, menemui Dira ga berani sendiri," goda Ibunya.
"Ya sudah kalau gitu, Ibu doakan ya biar lancar semuanya," balas Rudy.
Ibunya segera mengangguk memberikan restu.
***
Penerbangan siang yang diambil Rudy landing tepat waktu. Karena waktunya sudah sangat mendesak ia sengaja menemui Dira dan keluarganya malam nanti. Rudy sudah berkomunikasi dengan Ayah Dira tadi pagi. Walau ada sedikit rasa kurang nyaman menganjal hatinya Rudy meyakinkan diri ini yang terbaik. Menyelamatkan harga diri sebuah keluarga, menyenangkan hati ibunya dan kewarasan seseorang. Toh tidak ada yang akan peduli ia bahagia atau tidak.
Rudy bergegas check in ke hotel yang tidak jauh dari rumah Dira. Ia tidak ingin banyak membuang waktu karena terjebak macet. Rudy belum tahu ada sedikit atau banyakkah yang perlu dibicarakan, karena semua persiapan sudah matang.
Menjelang malam Rudy memilih memakai jeans dan kaos berkerah berwarna biru. Ia memesan ojek online, dan bersiap meluncur ke rumah Dira.
Ada rasa deg-degan mendera jantungnya, kenapa ia jadi ga karu-karuan gini ya? Apa ini keputusan yang tepat, Rudy tidak mengerti hati dan pikirannya tidak sejalan.
Rudy tiba di rumah Dira, disambut Ayah dan Ibunya. Rudy meminta izin boleh bertemu Dira. Tak lama setelah dipanggil Ibunya Dira muncul. Baru kali ini Rudy melihat seorang gadis lebih cantik daripada fotonya. Rambutnya lurus, lebat, matanya indah, hidungnya mancung, dan senyumnya nampak hangat. Rudy tidak melihat tanda-tanda jiwa Dira terganggu. Baru kali itu mereka bertemu dan kenalan. Ibu Dira pamit menyiapkan makan malam, Ayah Dira pamit ke ruang kerja karena ada telpon masuk.
"Aku minta maaf ya Ra atas kesalahan Farhan. Aku datang karena tertarik pada dirimu, bukan karena kasihan," ucap Rudy pelan.
"Aku kemarin sudah bertekad melupakannya, aku memutuskan untuk bahagia, sebenarnya semalam aku sudah berdamai dengan hatiku. Aku hendak membatalkan semuanya. Undangan bisa aku batalkan dengan mengirim souvenir dan permintaan maaf mulai besok," jawab Dira pelan.
"Kamu masih mau melanjutkan pernikahan dengan aku kan?" tanya Rudy penasaran.
"Iya kalau ada yang melamar, aku siap, tidak ada pun aku siap. Aku tidak ingin lagi.menyusahkan orang tuaku," jawab Dira sambil memilin ujung kemeja putihnya.
Rudy menatapnya dengan penuh kekaguman. Gadis ini nampaknya sudah berlapang d**a.
"Aku akan menikahimu Andira Basri. Mungkin cinta belum hadir, terlalu premature kita bicara cinta. Setidaknya kita bisa bicara soal tanggung jawab dan komitmen. Kita berdua bisa membuat perjanjian tentang apa yang kita perlukan," ucap Rudy sambil menatap Dira secara intens.
Dira mengangguk setuju. Toh mau berapa lama ia berduka dan patah hati tidak akan merubah apapun. Farhan akan tetap menikahi mantannya. Dira menatap Rudy dengan seksama. Pria dewasa ini jauh lebih tampan, dan nampak tahu dengan apa yang ia inginkan. Kenapa tidak bersepakat saja dan sama-sama berusaha belajar hidup bersama.
Beberapa hari seperti orang gila, Dira seakan ingin menyakiti semua orang termasuk dirinya sendiri. Ia merasa tidak seorang pun tahu betapa hancurnya perasaannya. Ia terus marah, sedih, menangis. Perlahan semua mereda sendiri. Farhan boleh melukainya tapi Farhan tidak bisa mengambil harga dirinya.
Demi orang tuanya Dira merasa sudah cukup terus-terusan bersedih. Doanya sepanjang minggu adalah meminta pengganti Farhan. Dira sendiri sadar sebenarnya tidak ada seorang pun akan mau menjadi mempelai pengganti. Hanya saja Dira ngotot. Ia tidak mau Farhan duluan yang menikah, pasti akan terasa makin sakit. Kalau dia menikah duluan setidaknya jiwanya akan merasa ia yang menang, ia tetap bisa menikah walau bukan dengan Fathan.
Menatap Rudy semalam lewat video call, sebenarnya Dira tidak menyangka pria ini akan sungguh-sungguh dengan ucapannya. Saat ini Rudy ada di depannya, dan Dira heran Rudy tetap pada keputusannya akan menikahi Dira. Sedahsyat itukah kekuatan doa? Padahal Dira sangat tahu permohonannya sangat mustahil.
Ibunya memanggil semua agar ke meja makan dan sementara percakapan Rudy dan Dira harus berhenti.keduanya berjalan beriringan ke meja makan. Obrolan ringan dan santai terasa menghangatkan suasana. Dalam sekejap Rudy merasa kalau orang-orang disekelilingnya saat ini adalah orang yang baik dan hangat. Sungguh ia merasa Farhan seharusnya sadar ia telah membuang berlian berharga tanpa ia sadari.
Rudy memperhatikan Dira dengan seksama. Gadis itu nampak akrab dengan orang tuanya, sesekali wajah cantik itu menatapnya dan tersenyum. Rudy rela berjam-jam duduk di ruang makan karena baru kali ini ia bisa rileks ngobrol dengan orang yang baru ia kenal.
Selesai makan malam, Rudy meminta izin melamar Dira secara resmi hari kamis, Jumat malam pengajian, dan sabtu pagi akad dilanjutkan resepsi sabtu malam. Tak banyak rencana diubah dari ketetapan sebelumnya. Rudy berharap semua lancar dan tidak ada halangan. Ia akan cuti dari hari Rabu. Senin dan Selasa ia bisa menyelesaikan pekerjaan dan melaksanakan beberapa meeting. Ia menatap Dira cukup lama sampai Dira salah tingkah. Rudy akhirnya tersenyum. Menjelang jam sembilan malam akhirnya ia berpamitan, Ayah Dira meminta Dira mengantarnya. Sudah lama Dira tidak pernah keluar rumah. Dira menyetujuinya. Ia berpamitan dan megantar Rudy balik ke hotel.
Keduanya banyak terdiam malah, Dira sungkan membuka percakapan, dan Rudy lebih senang menikmati wajah cantik Dira tanpa banyak kata. Setiba di depan hotel Rudy berpamitan.
"May I kiss you?" pancing Rudy.
Entah mengapa tiba-tiba ia berpikir sudah berapa banyak Dira dan Farhan berciuman. Hah? Memikirkan itu saja Rudy sudah tidak suka.
Dira tertawa lepas.
"Sorry kissing is not on our first date," jawab Dira disela tawanya.
Rudy langsung tersenyum. Setidaknya Dira bukan gadis murahan.
***
Balas
Teruskan