Rudy mempunyai banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum ia mengambil cuti tapi telpon dari Farhan keponakannya sebentar menghentikan konsentrasinya.
"Ada apa Han?" tanya Rudy basa-basi walau ia bisa mengira arah pembicaraan Farhan.
"Om benar mau nikah sama Dira?" tanya Farhan langsung pada intinya.
"Iya, kemarin baru aku menemui keluarganya," jawab Rudy bersikap tenang.
"Kenapa Om melakukan itu? Om tidak mencintai Dira," ujar Farhan gelisah.
"Kamu yakin aku tidak mencintainya?" pancing Rudy.
Farhan terdiam.
"Om kan baru lihat dia dan ketemu dia sekali," jawab Farhan.
"Setidaknya Om bukan orang yang menjanjikannya sesuatu yang tidak bisa Om penuhi," jawab Rudy menyindirnya.
Farhan terdiam lama.
"Jangan sakiti hati Dira Om, dia gadis terbaik yang pernah aku temui. Aku memang bodoh," tutur Farhan lirih.
"Sebaiknya sebelum kamu menikahi Lia, cek dulu latar belakangnya, jangan lupa tes DNA, kamu terlalu hijau Han, kadang mudah tertipu tapi kalau kamu yakin ya lanjutkanlah. Semoga kamu bahagia dengan Lia," jawab Rudy menutup pembicaraan.
Entah mengapa ia ikutan kesal dengan Farhan, bagaimana pun Farhan keponakannya. Mungkin seharusnya ia tidak menimbulkan praduga dalam hati Farhan. Dia bukan lagi anak kecil yang selalu mengikutinya kemana-mana. Dira tidak layak disia-siakan. Rudy malah jadi memikirkan Dira. Dikirimkannya pesan lewat WA.
[Hai Cantik, apa kabar? Ada yang bisa aku lakukan untukmu?]
Rudy mengirimkan pesan. Ia melihat Dira sedang online. Tak lama centang biru muncul dan tulisan mengetik nampak di sudut kiri layar aplikasi hijau itu.
[Semua baik dan sesuai rencana. Terima kasih perhatiannya]
[Ada yang bisa aku bawakan untukmu? Rabu pagi aku sudah sampai sana.]
[Tidak ada. Bawa saja di Mas kemari]
Dira mengirimkan stiker gambar bunga.
[Kabari ya kalau ada perubahan apapun untuk acaranya]
[Noted]
Tulis Dira singkat. Rudy kembali tersenyum. Ia meletakan ponselnya dan kembali konsentrasi dengan tumpukan berkas dihadapannya.
Ia menelpon Pak Ahmad orang kepercayaannya untuk mengurus surat numpang nikah. Berkas yang akan disusulkan untuk mengurus syarat pernikahan di KUA.
***
Selasa, ia meminta sekretaris seniornya untuk membelikan semua kebutuhan untuk seserahan buat Dira. Ia memberikan kartunya dan bersiap memantau pilihan sekretarisnya lewat video call. Rudy tidak punya waktu untuk pergi sendiri. Ibunya tidak mungkin ia minta bantuan, kakak iparnya, Mama Farhan juga wanita karir pasti punya kesibukan. Hanya hari ini yang ia punya untuk menyelesaikan semua urusannya. Rudy tidak tahu pasti apa semua akan selesai tepat waktu. Setidaknya ia mengusahakan yang terbaik.
Ia beberapa kali menelpon Dira menanyakan ukuran sepatu, ukuran baju dan meminta Dira menelpon langsung sekretarisnya dan memilih brand apa.saja yang ia inginkan. Rudy tersenyum nampaknya lebih mudah begitu.
Telpon masuk dari Calista. Mantan kekasihnya terlama Rudy dan sempat dekat sebelum berangkat ke Jepang tapi hanya sebatas teman ngobrol saja. Calista wanita yang cukup santai dan paling tahu Rudy tidak mau berkomitmen. Rudy mengangkat telponnya sambil memeriksa beberapa catatan dari meeting.
"Rud, nanti malam kita jalan yuk?" ajaknya manja.
"Sorry Ta, aku sibuk banget," jawab Rudy tidak mengalihkan konsentrasinya dari kerjaannya.
"Sabtu deh, kita bisa dugem sekalian hang out bareng teman-teman," ajak Calista.
"Ah, aku lupa bilang. Aku mau nikah Ta besok Sabtu," jawab Rudy menghentikan sejenak pekerjaannya.
"Hah? Seriusan? Elu nikah?" jerit Calista.
"Iya," jawab Rudy singkat.
"Kamu bercandakan? Ini cuma prank kan?" tanya Calista masih tidak percaya.
"Well ini fact. It's true," jawab Rudy sambil tersenyum.
Bagaimana mungkin ia tidak tersenyum, dirinya pun mungkin minggu lalu bahkan tidak memikirkan pernikahan apalagi sama calon keponakannya.
"Katakan itu bohong Rud, kamu tahu kan aku selalu mencintai kamu, aku menunggu hati kamu terbuka," isak Calista terdengar sangat sedih.
"Maafkan Ta, kalau pun kamu yang aku nikahi. Kamu juga akan menderita karena kamu sendiri tahu aku tidak punya kapasitas mencintai seperti itu. Kita bertahan hampir setahun juga karena kamu tidak pernah menuntut komitmen," jawab Rudy pelan.
"Malam ini aku ke apartment kamu. Aku minta penjelasan darimu," ucap Calista dengan nada marah.
"Tidak ada yang perlu aku jelaskan Ta, just accept the fact aku akan menikah," tungkas Rudy tegas.
"Aku ke kantor sekarang," cetus Calista tidak sabar.
"No. Sorry. Aku sudah memberikan komitmen pada Dira. Kenapa aku harus menjelaskan padamu? Bahkan kita pun tidak ada ikatan apapun," sahut Rudy mulai sebal.
"Oh jadi gadis itu namanya Dira? Hah? Dira? Dira calon istri Farhan?" tanya Calista terkejut.
"Yes, I'm gonna marry her anyway," kata Rudy.
"Oh, something was happening, right?" tanya Calista tajam.
"Yes, it was," jawab Rudy pelan.
"Pernikahan kontrak?" selidik Calista.
"No. Sudah Ta, aku tidak mau melanjutkan omong kosong ini dan tolong jangan campuri urusanku," ucap Rudy menutup pembicaraan.
Menjelang malam Rudy bisa bernafas lega semua selesai tepat waktu. Ia bisa menelpon Dira sebelum balik. Entah mengapa menghubungi Dira hari ini berkali-kali terasa menyenangkan.
Rudy memilih pulang ke rumah ibunya. Kalau sesuai perkiraan Calista pasti menunggu di dekat apartment. Gadis itu memang menyukai tantangan dan pantang menyerah. Hanya saja kali ini Rudy enggan melayani rencana Calista. Bisa saja gadis itu nekat.
***
Rabu siang, Rudy disampingi Ibunya dan Orang tua Farhan menuju bandara. Malam nanti ia akan melamar Dira secara resmi. Hatinya entah kenapa berdebar tidak karuan. Padahal itu konyol menurut Rudy, bukannya ia pria matang yang harusnya santai menghadapi ini. Ibunya beberapa kali tersenyum lebar menatapnya. Di usianya yang menjelang tujuh puluh delapan Rudy bersyukur ibunya masih sehat dan kuat. Ia memeluk tubuh Ibunya dengan penuh sayang. Akhirnya diumur tiga puluh tiga ini ia akan melepas masa lajang.
Sesampai di hotel, seserahan untuk Dira sudah ditata. Rudy tersenyum melihatnya begitu tidak praktis. Sebenarnya lebih mudah memberikan berupa uang, tapi ibunya langsung ngomel mendengar ide Rudy.
"Bukan semua diukur dengan uang, ini simbol kamu bisa memenuhi kebutuhannya, menafkahinya. Dasar kamu mah ga ada romantisnya," tutur ibunya sambil menepuk bahu Rudy.
Rudy terbahak, ia lupa ibunya adalah seorang yang romantis. Bahkan Bapaknya dulu suka ngomel tapi beliau begitu menuruti kemauan Ibunya. Cinta semacam itu sudah punah sepertinya. Rudy sulit percaya cinta seperti itu ada. Andai masih ada, setengahnya saja, ia rela membayar berapa pun.
***