Part 8
Ibu Rudy memilih, menceritakan hal yang terjadi pada menantunya, Mama Farhan. Farhan sendiri mengantar keluarganya hanya sampai di depan. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Mama Farhan terkejut mendengar penuturan mertuanya.
"Ibu yakin?" tanyanya untuk yang ketiga kalinya.
Ibu mertuanya mengangguk mengiyakan. Wajah Mama Farhan berubah keruh. Ingin sekali ia menghampiri wanita itu. Kalau sampai benar, ini akan sangat menyakitkan bagi banyak orang. Ia hanya bisa menatap gadis itu dengan amarah yang berkobar. Hidup dan kebahagiaan anaknya menjadi taruhan.
Keduanya menatap Lia, Lia langsung nampak salah tingkah. Mama Farhan tidak mungkin menegur Lia sekarang di tempat umum terlebih sebentar lagi mereka akan masuk pesawat. Nampaknya masalah ini harus mereka selesaikan nanti di Surabaya.
***
Rudy memilih pesawat yang terakhir walau seharusnya ia ikut di penerbangan pagi bersama keluarga besarnya, tapi Ia masih ingin bersama Dira. Sikap protektifnya mulai muncul.
Pagi ini setelah sarapan mereka check out. Farhan mengantar ke bandara, Rudy ke rumah Dira. Pertama kali masuk sebagai seorang menantu. Ia mengikuti Dira masuk ke kamarnya. Dira nampak salah tingkah. Rudy mengamati kamar Dira. Cukup luas dan nyaman, ranjangnya juga besar nampak ada gitar dan ukulele.
"Kamu bisa main gitar?" tanya Rudy sambil memegang gitar itu.
"Sekedar bisa saja, dulu lesnya piano, kesini suka sama gitar, tapi tidak mahir," jawab Dira mendekat.
Rudy meletakan gitarnya dan menatap Dira. Besok mau ngapain?" tanya Rudy yang tidak tahu kegiatan Dira sehari-hari.
"Biasanya kerja, bantu di kantor Omku. Mungkin besok kirim surat pengunduran diri. Packing baju, persiapan pindah ke Surabaya," jawab Dira.
Rudy duduk ditepi ranjang dan menarik Dira dalam pelukannya..
"Are you gonna be ok?" tanya Rudy sambil berbisik.
"Iya, I'll be ok, kenapa nanya gitu?" tanya Dira heran.
Entah mengapa Rudy merasa kuatir. Farhan masih satu kota dengan Dira. Bisa saja Farhan akan menemui Dira. Entah mengapa ia cemburu. Padahal biasanya ia cuek saja. Hari ini putus ya besok ganti lagi. Pacarnya mau manas-manasin sama cowok lain juga tidak pernah ia anggap. Tapi meninggalkan Dira lima hari saja rasanya berat, Jumat minggu ini padahal ia pasti balik lagi untuk menjemput Dira.
"Kuatir saja," jawab Rudy pendek.
Dira tersenyum dan mengelus rambut Rudy.
"Bukannya aku yang harus cemas ya?" pancing Dira.
"Cemas kenapa?" tanya Rudy heran.
"Iyalah, berapa banyak mantan Mas di Surabaya? Siapa tahu pada kangen nunggu Mas pulang," kata Dira seraya melepaskan diri dari pelukan suaminya.
Rudy tertawa, istrinya cemburukah? Entahlah senang rasanya dicemburui.
Dira terdiam, ia sendiri cukup kaget mengatakan soal mantan pada suaminya. Mengapa ia begitu peduli?
***
Rudy setiba di rumah, cukup terkejut melihat Ibunya belum tidur. Padahal biasanya jam delapan malam pun sudah terlelap.
"Rud, ke kamar Ibu ya, Ibu mau bicara," kata Ibunya saat Rudy mau masuk kamarnya.
Rudy menatap sesaat lalu mengangguk. Biasa kalau seperti ini ada hal penting yang hendak ia bicarakan.
"Ada apa Bu?" tanyanya saat masuk ke dalam kamar Ibunya.
Ibunya bercerita soal kejadian di kamar mandi di bandara.
"Tadi Mamanya Farhan sudah mengintrogasinya. Dan Lia mengaku tidak hamil, soal Farhan Ibu belum tahu reaksinya bagaimana. Mungkin Lia begitu cinta sama Farhan hingga berbohong atau ada maksud lain. Ibu tidak tahu," terangnya meminta pendapat Rudy.
Rudy terdiam. Ia tidak menyangka akan seperti ini. Andai pernikahan Farhan batal dengan gadis itu, tentu saja ia bersyukur karena Farhan punya waktu untuk memutuskan yang terbaik untuk masa depannya.
"Namanya berbohong mau bermaksud baik atau tidak baik sudah salah Bu dalam hal ini. Lagian kalau misal dia ga hamil, tapi Farhan jatuh cinta mungkin saja keduanya tetap menikah. Kalau aku bilang niatnya tidak baik," ucap Rudy mengeluarkan pendapatnya.
Rudy lalu terdiam. Bagaimana Dira menerima kabar ini? Rudy tahu sekali Dira masih menyimpan rasa untuk Farhan. Tangisan Dira, tatapannya ke Farhan semua menunjukkan hal tersebut. Bagaimana kalau Dira meminta pembatalan pernikahan? Terlebih Rudy belum menyentuhnya. Apakah ia harus melepaskan gadis itu?
"Kok kamu malah termenung gitu, kalau memang penilaian kamu begitu. Kita berdoa untuk Farhan semoga ia membuat keputusan yang terbaik, bagaimanapun ini hidupnya," kata Ibunya seraya menarik nafas panjang.
Rudy mengangguk lalu pamit balik ke kamarnya. Pikirannya dipenuhi tentang Dira. Apa hal ini yang menjadi firasatnya saat merasa tidak ingin jauh dari Dira? Apa Dira akan meninggalkannya? Kenapa lima hari terasa begitu lama. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu lagi. Rudy menyesal pulang sekarang.
Semua hal yang menjadi kecemasannya muncul. Padahal belum ada seminggu ia mengenal Dira. Ia masih teringat wajah cantiknya, senyumnya, sikapnya yang malu-malu. Rudy berharap Dira tidak meminta hal tersebut. Bagaimanapun Dira miliknya. Hanya miliknya tapi bagaimana dengan hati Dira? Bisakah ia mendapatkannya suatu hari nanti?
***
Farhan ribut dengan Lia ditelpon tadi siang. Andai saja Lia jujur kemarin-kemarin maka Dira masih mungkin menjadi miliknya. Farhan marah besar tapi ia menyadari ini salah dia juga. Ia sudah meniduri wanita itu. Bagaimana pun itu salah. Kesalahan yang harus ia bayar dengan sangat mahal.
"Aku begitu percaya pada kamu Li, bahkan aku tidak ada keraguan kamu akan menipuku seperti ini," ucap Farhan dengan nada tinggi.
"Aku sangat mencintaimu, Han. Kamu ingatkan selama SMA kita pacaran? Kamu begitu baik, suka kasih aku kejutan, hadiah. Aku masih terus mencintai kamu," tutur Lia berusaha menaklukan hati Farhan.
"Tapi tidak begini caranya. Berapa banyak orang tersakiti, aku bahkan tidak mencintaimu sedikitpun Li. Kejam kamu," bentak Farhan.
"Aku minta maaf, tapi semua sudah terjadi. Kamu juga menikmati percintaan kita. Kenapa tidak kita lanjutkan saja rencana pernikahan kita," jawab Lia makin ngeyel.
"Aku tidak akan menikahimu Li," putus Farhan.
"Sudahlah sayang, kekasih tololmu itu juga tidak mungkin kembali. Gadis yang hanya bisa menangis seperti itu yang kamu pertahankan. Lembek banget," cetus Lia kesal.
"Itu urusanku, jangan ganggu aku lagi," ucap Farhan menutup telepon.
Entah berapa kali ponselnya berdering setelahnya. Semua kontak Lia langsung ia blokir. Besok ia ingin bertemu Dira. Ah sial, Dira sudah menikah dengan Om Rudy. Farhan menatap foto Dira lama. Farhan menangis. Ia tidak peduli dibilang lemah. Hatinya belum rela melepaskan Dira. Andai masih ada kesempatan ia ingin Dira kembali.
***