Dira keluar dari ruang sidang skripsi dengan wajah berseri. Ia skripsinya diterima dan ia dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan, beberapa revisi kecil jadi catatan. Lega rasanya akhirnya selesai kuliah juga. Ada beban yang terangkat, semoga ini membahagiakan Bapak dan Ibunya. Saat menerima ucapan selamat ia melihat Farhan baru datang membawakan buket bunga mawar merah kesukaannya. Sesuatu hal manis sempat terlintas di benaknya.
Buru-buru rasa itu ia tepiskan. Farhan sekarang adalah keponakannya. Ia harus belajar menerima kenyataan dan bersikap layaknya tante dan keponakan. Dira mencoba tersenyum. Membisikan berulang-ulang dalam hati kalau ia bisa melalui ini.
Farhan menyerahkan buket bunga ke Dira. Andai tidak ada kejadian dengan Lia mungkin akan lain ceritanya. Dira menepis pikiran itu. Dia tidak boleh gede rasa juga, mungkin Farhan hanya murni mengucapkan selamat.
"Congrats ya Ra, kamu akhirnya lulus juga," ucap Farhan sambil tersenyum.
Dira membalasnya dengan senyuman.
"Bolehkah kita bicara berdua?" tanya Farhan.
"Ehm, aku rasa itu kurang baik dilihat orang. Bagaimanapun orang tahu aku sudah menikah dengan Om kamu," jawab Dira menolak.
"Please Ra, I need to talk to you," pinta Farhan memelas.
Dira terdiam. Ia menatap Farhan dengan galau. Disatu sisi hatinya melarang tapi disisi lain, ia ingin mendengar apa perkataan Farhan. Sejak kejadian itu mereka belum pernah bercakap-cakap serius hanya tatapan dan senyuman saat pernikahannya.
"Aku ga punya waktu lama, Mas. Kalau mau ngobrol mending ke kantin... " Dira menghentikan ucapannya.
Dira agak terkejut mengapa mengajak ke kantin tempat Farhan biasa menunggunya pulang kuliah. Tapi tempat itu yang paling dekat dan selalu ramai. Ia tidak ingin ngobrol di tempat makan yang sifatnya private.
"Oke, Ra," jawab Farhan segera melihat keraguan Dira.
Ia tidak ingin Dira berubah pikiran.
Mereka berjalan berdua ke arah kantin yang jaraknya sekitar seratus lima puluh meter dari ruang sidang. Bayangan masa lalu banyak terlintas dalam benak Dira, dan ia melirik Farhan nampak agak tegang.
Keduanya duduk berhadapan. Dira banyak menunduk. Ia tidak ingin kembali terpikat pada Farhan.
"Pertama, aku minta maaf Ra, aku sudah menyakitimu. Tidak pernah terlintas hal itu aku lakukan," tutur Farhan membuka percakapan.
Dira mengangguk.
"Lupakanlah, aku tidak.mendendam," jawab Dira pelan.
"Kenapa kamu tidak mau menatapku?" tanya Farhan.
Dira langsung salah tingkah.
"Hmm, kurang elok saja. Sebaiknya kita segera sudahi obrolan ini," jawab Dira sambil menatap Farhan sesaat.
"Lia berbohong Ra," kata Farhan buru-buru melihat Dira hendak pergi.
Dira berhenti dan menatap Farhan dengan tidak percaya.
"Aku ikut prihatin, Mas," kata Dira pelan.
Farhan mengangguk.
"Ra, kamu sayang ya sama Om Rudy?" tanya Farhan lagi.
"Ya dia suamiku," jawab Dira diplomatis.
"Aku tidak bertanya kapasitas dia sebagai suami kamu. Tapi sebagai lelaki apakah dia begitu mudah membuatmu jatuh cinta?" tanya Farhan dengan tatapan terluka.
"Aku tidak mau membahasnya Mas. Nanti malah timbul prasangka yang aneh-aneh. Posisiku adalah seorang istri dan Mas keponakanku. Kita ngobrol gini sebenarnya tidak perlu," jawab Dira beranjak berdiri.
"Kamu sangat berubah Ra," ucap Farhan dengan kecewa.
"Banyak hal membuat orang berubah Mas, aku pun kadang harus berubah untuk bertahan dengan setitik kewarasan. Maaf ya, next kalau mau ngobrol sebaiknya pas ada Mas Rudy. Aku tidak mau main kucing-kucingan," jawab Dira sambil berpamitan.
Masuk ke dalam mobil. Perlahan air mata Dira menetes. Susah sekali menahan perasaan. Perlahan mobil ia jalankan. Ada rasa sakit terlintas. Ia tidak mau menyakiti Rudy. Pria itu sudah sangat baik. Walaupun cinta tidak pernah ada untuk dirinya, setidaknya ia tidak ingin melanggar apa yang sudah menjadi norma dan nilai yang ia percayai.
Entah bagaimana, Rudy menelponnya. Dira bernafas panjang. Untung bukan video call. Ia menghubungkan telepon itu ke bluetooth di mobil. Jadi ia tidak perlu mengangkatnya karena sudah memakai speaker.
"Halo istriku. Bagaimana sidang hari ini?" tanya Rudy.
"Baik, akhirnya aku jadi juga wisuda Mas," jawab Dira.
"Bagus, jadi Jumat sore, aku sudah di Jakarta, kamu jemput ya," kata Rudy.
"Biasa naik taksi, sekarang aku alih profesi gitu?" goda Dira sambil tertawa.
"Nah kalau supir taksinya secantik kamu mah, aku rela bayar berapa aja," ucap Rudy sambil tertawa renyah.
"Jangan lupa ya, dua hari lagi aku datang," ucap Rudy lagi.
"Siap," ucap Dira pendek.
"I miss you Dira," tutur Rudy menutup pembicaraan.
Hati Dira berdebar. Rindukah suaminya itu? Atau hanya basa-basi? Dira tidak berani menerka, hanya ada rasa hangat dihatinya.
***
Malam menjelang tidur, Rudy video call ke Dira. Ia ingin melihat istrinya sebelum tidur. Entah itu telpon ke berapa hari ini. Rudy seakan tidak bosan menelpon Dira berulang-ulang. Ia tidak peduli berapa banyak tagihan ponselnya bulan ini. Ia hanya ingin terus mendengar suara Dira dan ingin tahu semua tentangnya.
"Ra, kamu ingin dibawakan apa dari Surabaya?" tanya Rudy sambil menatap Dira yang tiduran miring menegakkan ponselnya.
"Tidak ada, pokoknya ke Surabaya ingin makan rawon sama lontong balap, ditaktir ya," ucap Dira sambil tersenyum lebar.
Rudy ingin berada disamping Dira, menatap langsung indah mata Dira dan mencium bibir istrinya yang selalu kemerahan itu.
"Siap Bos. Kamar di rumah Ibu sudah dirapikan, tinggal tunggu penghuninya datang. Ada spesial request?" tanya Rudy sambil tersenyum.
Dari kamera ponselnya nampak buket bunga mawar di vas depan meja rias terlihat.
"Mau bunga mawar?" pancing Rudy.
Dira tertawa dan menggeleng.
"Selalu ada mawar di kamar perasaan Ra," pancing Rudy lagi.
"Itu dari Farhan tadi ketemu di kampus," ucap Dira tidak mau berdusta.
"Oh, lalu kalian ngobrol-ngobrol ga?" tanya Rudy penasaran.
"Sebentar, dia cuma minta maaf dan ngomong Lia berbohong. Aku ga nanya-nanya, jadi ya gitu aja. Aku pulang nah pas telpon tadi di mobil," jelas Dira.
Rudy terdiam. Cepat atau lambat pasti Farhan ketemu sama Dira.
"Kamu ga ingin kembali sama dia?" ujar Rudy pelan.
"Lha aku punya suami," jawab Dira sambil tersenyum.
"Kamu masih sayang dia ya?" tanya Rudy makin penasaran.
Dira terdiam.
"Aku tidak tahu, tapi ya seperti Mas bilang kita ada tanggung jawab dan komitmen jadi itu yang aku pegang," balas Dira sambil menatapnya.
Rudy tersenyum enggan. Iya itu yang ia katakan waktu ketemu Dira. Mungkin terlalu premature ngomong cinta. Tapi entah Rudy berharap Dira ngomong cinta padanya.
"Baiklah istriku yang baik, selamat tidur ya, nanti mimpiin aku ya, kita jajan pecel semanggi," ucap Rudy mencairkan suasana.
Dira tersenyum lebar dan ia mengirimkan ciuman pada Rudy. Rudy menggerakkan tangannya seolah menangkap ciuman Dira dan meletakkannya di dadanya. Dira tertawa lebar. Rudy pun terbawa suasana ia ikut tertawa. Ia sedikit lega, Dira tidak meminta pembatalan nikah sekarang tapi entah kalau besok atau lusa. Senyumannya langsung menghilang.
***
BalasTeruskan