Elwin menatap pendulum yang bergerak ke kanan dan ke kiri di sudut meja Eric. Ingatanya kembali mengingat wajah mungil wanita berbau permen s**u strawberry yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang. Bahkan, dirinya tak mendengarkan diskusi yang Oscar dan Eric lakukan sejak tadi.
"jika kau tidak fokus, lebih baik pulang lebih awal" Ujar Eric dingin tanpa menoleh sedikitpun kearah Elwin.
Dengan senyum tipis Elwin berbalik dan kembali duduk menghadap Eric dan Oscar yang menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Aku mendengarkan" bohong Elwin.
Oscar hendak membantah ucapan Elwin namun Eric dengan cepat memberikan dokumen yang baru saja ia selesai tanda tangani pada Elwin.
"pergilah" Eric menyodorkan dokumen dengan map merah pada Elwin yang masih duduk santai di kursinya.
Dengan enggan Elwin beranjak dan meraih dokumen di tangan Eric. Ia lalu melambaikan tangannya pada Oscar dan keluar dari ruangan Eric tanpa berkata apapun.
Tak...
Tak...
Tak...
Elwin menghentakan kakinya gusar menunggu lift yang entah kenapa tak kunjung terbuka sejak tadi. Entah kenapa Elwin kehilangan minat untuk bekerja hari itu.
Ting...
Pintu lift terbuka, Alison Mayers dan beberapa rekan kerjanya keluar dari lift. Alison tersenyum kaku ke arah Elwin namun Elwin mengabaikannya dan langsung menutup pintu lift bahkan sebelum Alison berjalan menuju ruang kerja Eric.
Menyedihkan...
Gumam Elwin sambil menatap map merah di tangannya.
Ting...
Pintu lift kembali terbuka dan membuat Elwin seketika membatu begitu wanita yang sejak tadi mengganggu pikirannya berdiri di hadapannya. Beberapa orang ikut masuk ke dalam Lift sehingga membuat suasana tidak begitu canggung. Lift kembali terbuka dan orang-orang yang tadi naik bersama mereka keluar dari dalam lift. Begitu terus di lantai selanjutnya dan menyisakan keduanya yang tampaknya menuju lantai yang sama.
Keheningan terasa begitu pekat di antara keduanya. Tak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan bahkan setelah lift kembali terbuka dan menunjukan lantai dasar.
Dengan langkah cepat wanita itu berjalan keluar dari lift, di susul dengan Elwin yang dengan kaki panjangnya berhasil menyusul wanita itu.
Wanita itu mengehentikan langkahnya sebelum tepat menyentuh pintu keluar dan berbalik menoleh ke arah Elwin.
"Penipu" gumam wanita itu sambil menatap sengit Elwin.
Elwin yang tak mendengar dengan jelas melangkah mendekat hingga membuat jarak di antara keduanya semakin tipis.
"Biar ku tebak kau sedang marah padaku" ujar Elwin dengan wajah tak berdosa.
"hah..." Maira menghela nafas panjang tak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Elwin.
Masih memasang wajah kesal Maira berbalik berusaha meninggalkan Elwin yang terlihat semakin kebingungan dengan sikap Maira.
"Hey, just a moment"
Elwin menarik lengan Maira mencoba menghentikan wanita itu. Maira terlihat kaget dan berusaha melepaskan lengannya dari genggaman erat Elwin.
"APA?" bentak Maira membuat Elwin kaget dan langsung melepaskan tangannya.
"Calm sweetheart, let's talk"
"Mai? You Alright?" Rayn yang baru masuk begitu terjebak di antara keduanya langsung menatap khawatir ke arah Maira, terlebih pria itu tau apa yang Maira alami dua tahun lalu.
"Ray, finally you here, ingat tentang naskah yang perlu di edit ulang?"
"Oh ya.." Rayn mengangguk ragu berusaha keras menangkap sinyal dari Maira.
"Mr. Erland, bisa kita bicara lain kali, ada pekerjaan yang perlu kami selesaikan, sampai jumpa" Ucap Maira buru-buru sambil menarik Rayn keluar dari gedung kantor.
Elwin hanya bisa terdiam tanpa bisa mencegah Maira yang sudah berjalan jauh bersama pria yang jauh lebih muda darinya itu.
"apa dia menyukai pria yang lebih muda" gumam Elwin sambil menatap dirinya dari pantulan kaca pintu lobby.
Drrt...
Drt...
...
Dering ponsel miliknya membuyarkan lamunan Elwin. Begitu ia melihat Nama dari si penelpon Elwin hanya bisa mendengus dan dengan malas mengangkat telponnya.
"okay" jawab Elwin singkat seolah malas mendengarkan ocehan dari si penelpon.
* * * * *
The Rexton Club malam itu tampak lebih rame dari biasanya. Elwin berjalan menyusuri puluhan orang yang sejak tadi berjoget sambil minum-minum dengan semangat. Matanya tertuju pada dua orang yang melambaikan tangan ke arahnya sambil menunjuk salah satu sofa di samping mereka.
"Ladies, please welcome Elwin Erland" para wanita yang duduk di sekitar kedua orang itu menoleh ke arah Elwin dengan tatapan terpesona.
Tentu saja siapa yang tak terpesona dengan bola mata biru cerah, rambut pirang dan wajah tampan bak seorang pangeran nakal itu. Semua wanita pasti mengantri agar dapat menjadi salah satu wanitanya.
Dengan malas Elwin duduk di sofa yang berada di samping Lucas. Anthony tertawa lebar melihat mata para wanita yang tak bisa beralih dari Elwin.
"seperti yang di duga, para wanita itu pasti akan langsung menyerahkan diri mereka begitu saja setiap ada Elwin"
"b******n" balas Elwin pada ucapan Anthony yang kelewatan itu.
Lucas hanya tersenyum kecil. Ia lalu memperhatikan Elwin yang terlihat sejak tadi hanya minum tanpa menarik satu wanitapun di sekitarnya.
"sepertinya mereka bukan seleramu? atau selera berubah?" tanya Lucas penasaran.
Tak...
Elwin meletakan gelas yang di pegangnya ke atas meja, Lalu menoleh ke kiri dan kanan. Wanita-wanita cantik berpakaian seksi sedang menatap dirinya menunggu kapan Elwin akan menarik mereka ke dalam pelukannya.
Namun, entah kenapa wajah Maira kembali mengganggu pikirannya. Bahkan entah bagaimana ia melihat wajah semua wanita yang ada di sana menjadi Maira.
"Elwin... sialan..." Seorang wanita berteriak ke arah Elwin dengan wajah kesal ia melemparkan kalung miliknya pada Elwin.
"Aku menghubungi sejak kemarin dan tak satupun pesanku kau balas"
Anthony dan Lucas yang telah terbiasa dengan hal itu duduk menjauhi Elwin mencoba memberikan ruangan untuk pria itu menyelesaikan masalahnya.
"Kau malah berada di tempat seperti ini, dan apa lagi itu pamer ke para wanita itu begitu"
Elwin tak menjawab dan kembali meraih gelas miliknya sambil menuangkan whiskey ke dalam gelasnya.
"jawab aku!!" Kesal wanita itu sambil menarik gelas yang ada di tangan Elwin.
"Kau berisik" jawab Elwin singkat.
"apa?" Wanita itu terpaku tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Jika aku tidak menghubungi itu artinya kita berakhir, jgn mempermalukan dirimu sendiri di tempat ini"
Terdengar tawa mengejek dari wanita-wanita yang ada di sekitar mereka membuat wajah wanita itu merah padam.
Dengan malas Elwin beranjak dari tempat duduknya, lalu mengembalikan kalung yang wanita itu le.par padanya.
"simpanlah, kau bisa menjualnya jika membutuhkan uang nanti" Setelah mengatakan itu Elwin berjalan keluar club sambil mengeluarkan rokok dari mantelnya.
Semua orang tampak tertawa puas melihat wanita yang baru saja di permalukan oleh Elwin. Wanita itu menatap kalung di tangannya dengan wajah kesal dan kemudian meminum whiskey yang tak jadi di minum oleh Elwin.