Malam itu angin bertiup cukup kencang membuat Elwin cukup kesulitan menyalakan rokoknya. Ia beberapa kali bergumam kesal sambil mencoba kembali menyalakan rokoknya.
"Apa Anthony Bay ada di dalam?" Seorang pria berdiri di hadapan Elwin menghalangi angin sehingga ia berhasil menyalakan rokoknya.
Elwin mengangkat kepalanya dan hanya bisa tertawa pahit.
"Jaksa Mark Shopie yang terhormat, ada masalah apa kali ini?"
"Aku sudah bukan seorang jaksa, berkat Tuan Bay yang luar biasa, sekarang aku hanyalah detektif swasta, ngomong-ngomong lama tidak bertemu tuan muda kedua Erland"
"Hahahaha, canggung sekali bahkan setelah kita mengalami kisah yang luar biasa di masa lalu"
Mark berdecak kesal, ia mengabaikan ucapan Elwin dan celingak celinguk mencoba melihat kedalam club.
"jadi, kau datang untuk menyelidiki Rexton atau hanya ingin balas dendam pada Anthony?"
Mark mengeluarkan sebuah disk dari dalam sakunya, berbeda dengan kedua temannya Elwin cukup dapat kepercayaan dari Mark yang skeptis. Keduanya selalu berada dalam hubungan anjing dan kucing setiap saat.
"Seorang pelopor anonim lagi-lagi melaporkan hal-hal di luar nalar tentang Anthony Bay, sayang sekali pemuda itu cukup licik dan memiliki dukungan yang kuat, ku ingatkan padamu sekali saja kau terlibat dengan urusan mereka maka kau juga akan menjadi musuhku" Mark menepuk pundak Elwin sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya.
"Elwin..." Mark membuka kaca jendela mobilnya dan melemparkan sebuah korek api pada Elwin.
"gunakan saja itu, lebih bagus dari yang kau punya sekarang"
Mobil milik Markpun melaju menyusuri jalanan gelap kota London. Elwin hanya tersenyum sinis menatap korek api yang ada di telapak tangannya. Korek api dengan desain klasik itu membuat Elwin tersenyum kecil lalu menyimpannya ke dalam saku celana.
"LEPASKAN..." Teriak seorang wanita berambut brunette mengagetkan Elwin.
Mata keduanya bertemu begitu Elwin menoleh ke arah wanita itu. Dengan acuh wanita itu membuang muka lalu menarik kedua lengannya dari tangan kedua orang pria bertubuh kekar. Elwin tentu saja mengenali kedua pria itu yang merupakan penjaga Club, tampaknya wanita itu tidak bisa menunjukkan ID nya atau tengah membuat masalah sehingga di seret paksa oleh kedua penjaga club.
Mengabaikan kejadian itu, Elwin hendak masuk kembali ke dalam club namun wanita berambut brunette itu mengehentikan langkahnya.
"Kau pria yang bersama Maira 3 tahun lalu kan?" ucap wanita itu dengan nada angkuh.
Elwin mengernyitkan dahinya mendengar cara bicara yang cukup angkuh dari wanita di depannya.
"Ku kira waktu itu dia pergi meninggalkan ku hidupnya akan menjadi jauh lebih baik, ternyata malah lebih buruk dari saat aku menjualnya dulu" tambah wanita itu masih dengan nada angkuh dan tawa mengejek dari mulutnya.
Wanita itu melihat ekspresi Elwin yang tampak kebingungan dengan ucapannya. ia kemudian melanjutkan
"Kau pasti bingung dengan maksudku, wajar saja pria sepertimu mana mungkin mau terlibat lebih jauh dengan wanita seperti Maira Shopie"
Masih dengan gaya angkuhnya wanita itu lagi-lagi tertawa mengejek sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a merasa bahwa Elwin sepertinya sependapat dengannya.
"sudah selesai bicaranya?" tanya Elwin datar.
Ekspresi angkuh dari wanita itu berubah menjadi bingung melihat Elwin yang tak terpengaruh dengan ucapannya sama sekali.
"mulutmu bau, aku tidak suka wanita bermulut bau, terlebih jelek sepertimu" putus Elwin lalu berjalan melewati wanita yang kini berdiri mematung di tempatnya karena tak percaya mendengar hinaan yang belum pernah ia dengar sebelumnya keluar dari mulut seorang Elwin Erland.