Hujan belum juga berhenti sejak malam sebelumnya.
Langit Singapura diselimuti awan kelabu, seolah masih menyimpan sisa-sisa badai yang hampir merenggut nyawa Ethan Lim.
Namun badai yang sebenarnya baru saja dimulai.
Seminggu setelah pertemuan Ethan dengan Claire, keadaan tampak kembali tenang.
Ethan sudah diperbolehkan kembali bertugas di pangkalan, meskipun masih belum diizinkan menerbangkan jet tempur. Ia menghabiskan waktunya membantu latihan simulator dan memberikan pengarahan kepada para pilot muda.
Jessica merasa semuanya mulai membaik.
Claire tidak lagi datang ke apartemen.
Tidak lagi menghubungi Ethan sesering sebelumnya.
Tidak lagi muncul tanpa diundang.
Jessica mengira Claire akhirnya menerima kenyataan.
Ia salah.
Sore itu Jessica baru selesai menghadiri sebuah seminar desain di pusat kota Singapura.
Saat keluar dari gedung, sebuah suara memanggil namanya.
“Jessica.”
Jessica menoleh.
Claire berdiri beberapa meter di depannya.
Perempuan itu mengenakan blazer hitam dan rok pensil berwarna krem. Wajahnya tampak tenang.
Bahkan terlalu tenang.
“Apa kita bisa bicara sebentar?”
Jessica ragu beberapa saat.
Namun akhirnya ia mengangguk.
Mereka berjalan menuju sebuah kafe yang tidak jauh dari sana.
Tak satu pun dari mereka berbicara hingga minuman diletakkan di atas meja.
Claire menatap cangkir kopinya.
“Aku akan bicara langsung.”
Jessica mengangguk pelan.
“Aku mendengarkan.”
Claire mengangkat wajahnya.
“Putuslah dengan Ethan.”
Jessica membeku.
Ruangan di sekelilingnya seolah menghilang.
“Apa?”
Claire mengulanginya tanpa mengubah ekspresi.
“Tinggalkan Ethan.”
Jessica menatap perempuan di depannya, mencoba mencari tanda-tanda bahwa semua ini hanyalah lelucon.
Namun wajah Claire tetap serius.
“Kenapa?”
Claire menarik napas panjang.
“Karena kamu bukan orang yang tepat untuknya.”
Jessica menggenggam cangkir di depannya.
“Siapa yang menentukan itu?”
“Aku.”
Jawaban itu terdengar begitu dingin.
Claire melanjutkan,
“Kamu mengenalnya kurang dari setahun.”
“Aku mengenalnya hampir sepuluh tahun.”
“Aku tahu bagaimana dia ketika gagal.”
“Aku tahu bagaimana dia ketika kehilangan teman.”
“Aku tahu makanan favoritnya, kebiasaan buruknya, bahkan mimpi-mimpinya.”
Jessica tidak berkata apa-apa.
Claire mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Sedangkan kamu?”
“Kamu hanya mengenal Ethan yang sudah menjadi pahlawan.”
Jessica akhirnya tersenyum kecil.
“Tidak.”
Claire mengernyit.
“Aku mengenal Ethan yang menangis diam-diam ketika takut mengecewakan keluarganya.”
“Aku mengenal Ethan yang meminta maaf karena tidak bisa menemuiku akibat tugas.”
“Aku juga mengenal Ethan yang hampir kehilangan nyawanya.”
Tatapan Claire berubah tajam.
“Itu belum cukup.”
Jessica menggeleng.
“Cinta tidak diukur dari siapa yang lebih lama mengenal seseorang.”
“Kamu tidak mengerti.”
Claire mulai kehilangan ketenangannya.
“Aku ada ketika dia membangun hidupnya.”
“Aku berkorban untuk tetap berada di sampingnya.”
“Aku menolak kesempatan pindah ke luar negeri.”
“Aku menolak pria-pria yang mencintaiku.”
“Semuanya karena Ethan.”
Suara Claire mulai bergetar.
“Lalu kamu datang…”
“…dan mengambil semuanya.”
Jessica memandang perempuan itu dengan iba.
“Claire.”
“Kamu tidak pernah kehilangan Ethan.”
“Karena Ethan tidak pernah menjadi milikmu.”
Kalimat itu seperti pisau yang menghantam d**a Claire.
Wajahnya langsung berubah.
“Jangan merasa sudah menang.”
Suara Claire kini jauh lebih dingin.
“Aku belum selesai.”
Malam itu, Ethan sedang menyelesaikan laporan di pangkalan ketika Ryan menghampirinya.
“Ada seseorang mencarimu.”
“Siapa?”
Ryan mengangguk ke arah ruang tamu.
“Claire.”
Ethan langsung berdiri.
Saat memasuki ruang tamu, Claire sedang duduk sendirian.
“Ada apa?”
Claire tersenyum.
“Kamu sibuk?”
“Ada yang ingin kubicarakan.”
Ethan duduk di hadapannya.
Claire memandang wajah pria itu beberapa saat sebelum akhirnya bertanya,
“Kalau aku mengatakan aku masih mencintaimu…”
“…apa jawabanmu akan berubah?”
Ethan langsung terdiam.
Claire tersenyum pahit.
“Lihat.”
“Kamu bahkan tidak perlu berpikir.”
Ethan menarik napas panjang.
“Claire.”
“Aku menghargai semua yang pernah kamu lakukan.”
“Kamu sahabat terbaik yang pernah kumiliki.”
“Tapi…”
Claire mengangkat tangannya.
“Jangan katakan lagi.”
“Aku sudah tahu jawabannya.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Aku hanya ingin mendengarnya langsung.”
Ethan menatapnya penuh rasa bersalah.
“Aku mencintai Jessica.”
Claire tertawa kecil.
Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
“Aku tahu.”
“Tetapi mendengarnya tetap terasa sakit.”
Ia berdiri perlahan.
Sebelum pergi, Claire menatap Ethan untuk terakhir kalinya.
“Kalau suatu hari nanti dia meninggalkanmu…”
“…ingatlah.”
“Aku tidak pernah pergi.”
Claire berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Di apartemennya, Jessica sedang menyiapkan makan malam ketika ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Ia membukanya.
Hanya ada satu foto.
Foto Ethan sedang tertawa bersama Claire ketika masih berada di akademi penerbangan.
Di bawah foto itu tertulis satu kalimat.
“Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan sepuluh tahun kenangan kami.”
Jessica terdiam.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.
“Kalau kamu benar-benar mencintainya… lepaskan dia.”
Jantung Jessica berdetak semakin cepat.
Ia segera menghubungi nomor itu.
Tidak aktif.
Jessica menutup matanya.
Ia tahu siapa pengirimnya.
Tetapi ia tidak menyangka Claire akan sejauh ini.
Saat itulah bel apartemen berbunyi.
Jessica membuka pintu.
Ethan berdiri di sana sambil membawa makanan favoritnya.
Namun senyum di wajah Ethan perlahan menghilang ketika melihat wajah Jessica yang pucat.
“Jessica?”
Tanpa berkata apa-apa, Jessica menyerahkan ponselnya.
Ethan membaca kedua pesan itu.
Rahangnya langsung mengeras.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu…
Tatapan Ethan dipenuhi kemarahan.
Bukan kepada Jessica.
Melainkan kepada seseorang yang selama ini ia anggap sebagai sahabat.
Dan malam itu, Ethan akhirnya menyadari satu kenyataan yang selama ini tidak ingin ia percayai.
Claire Wong tidak lagi sedang memperjuangkan cinta.
Ia mulai menghancurkan kehidupan orang lain demi mendapatkannya.