Malam itu, hujan turun tanpa henti membasahi Singapura.
Jessica duduk sendirian di balkon apartemen sewa yang ditempatinya selama menemani Ethan menjalani masa pemulihan. Cangkir teh di tangannya sudah lama dingin, tetapi pikirannya masih dipenuhi kata-kata Claire.
“Aku mengenalnya ketika dia masih tidak punya apa-apa selain mimpi dan seragam akademi.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Claire benar.
Jessica memang datang ketika Ethan sudah menjadi seorang kapten di Republic of Singapore Air Force. Ia tidak pernah melihat bagaimana Ethan berjuang melewati latihan yang melelahkan, gagal berkali-kali, atau kehilangan teman seperjuangan.
Sementara Claire…
Perempuan itu ada di setiap fase kehidupan Ethan.
Tanpa sadar, air mata Jessica menetes.
Bukan karena ia meragukan cinta Ethan.
Tetapi karena ia mulai meragukan dirinya sendiri.
Apakah ia benar-benar pantas berada di sisi pria itu?
Di tempat lain, Ethan sedang menyelesaikan sesi fisioterapi terakhirnya.
Ryan Tan memperhatikan wajah sahabatnya yang sejak tadi tampak murung.
“Kamu bertengkar dengan Jessica?”
Ethan menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu kenapa wajahmu seperti pilot yang baru kehilangan pesawat?”
Ethan menghela napas.
“Claire.”
Ryan langsung mengusap wajahnya.
“Aku sudah menduga.”
Ethan menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Ryan tertawa hambar.
“Jangan bilang kamu benar-benar tidak sadar.”
“Sadar apa?”
“Kalau Claire mencintaimu.”
Kalimat itu membuat Ethan membeku.
Ryan melanjutkan,
“Selama bertahun-tahun dia selalu menolak pindah ke skuadron lain karena ingin tetap bekerja bersamamu.”
“Dia menolak beberapa pria yang mendekatinya.”
“Dia selalu mencari alasan untuk berada di dekatmu.”
“Kami semua tahu.”
“Kecuali kamu.”
Ethan terdiam.
Semua potongan kejadian selama bertahun-tahun mulai terhubung di kepalanya.
Claire yang selalu mengingat ulang tahunnya.
Claire yang selalu menjadi orang pertama datang ketika ia terluka.
Claire yang selalu berkata bahwa tidak ada perempuan yang akan mengerti kehidupan seorang pilot sebaik dirinya.
Ethan menutup matanya.
“Kenapa kalian tidak pernah memberitahuku?”
Ryan tersenyum pahit.
“Karena kami pikir suatu hari dia akan menyerah.”
“Tapi ternyata…”
Ryan menatap Ethan dalam.
“…dia belum menyerah.”
Malam harinya.
Ethan berdiri di depan apartemen Claire.
Ia menekan bel pintu.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Claire tersenyum begitu melihatnya.
“Ethan?”
“Aku boleh masuk?”
Claire mengangguk cepat.
“Tentu.”
Begitu mereka duduk di ruang tamu, Ethan langsung berbicara.
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
Claire mengangguk.
“Tanya saja.”
“Kamu menyukaiku?”
Keheningan langsung memenuhi ruangan.
Claire tidak tersenyum lagi.
Ia menatap Ethan selama beberapa saat.
Lalu tertawa pelan.
“Akhirnya kamu sadar.”
Jawaban itu membuat d**a Ethan terasa berat.
“Jadi benar?”
Claire mengangguk perlahan.
“Benar.”
“Sejak akademi.”
“Sudah hampir sepuluh tahun.”
Ethan memejamkan mata.
“Aku minta maaf.”
Claire tersenyum, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
“Lucu, ya?”
“Aku selalu berada di sampingmu.”
“Aku melihatmu jatuh.”
“Aku melihatmu bangkit.”
“Aku melihatmu menjadi pilot terbaik.”
“Tapi…”
Suara Claire mulai bergetar.
“…hati kamu malah memilih perempuan yang baru kamu kenal beberapa bulan.”
Bibir Ethan mengatup rapat.
“Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu.”
“Aku tahu.”
Claire mengusap air matanya.
“Itulah masalahnya.”
“Kamu bahkan tidak pernah memberiku harapan.”
“Aku yang terlalu lama berharap.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Beberapa saat kemudian Claire menarik napas panjang.
“Lalu sekarang?”
“Apa kamu datang untuk mengasihaniku?”
Ethan menggeleng.
“Aku datang karena aku tidak ingin kehilangan sahabatku.”
Claire tersenyum pahit.
“Aku sudah kehilanganmu sejak hari kamu memperkenalkan Jessica.”
Di sisi lain, Jessica berjalan sendirian di Marina Bay.
Angin malam bertiup lembut.
Ia tidak memberi tahu Ethan ke mana ia pergi.
Ia hanya ingin menenangkan pikirannya.
Di tengah jembatan pejalan kaki, langkahnya berhenti.
Dari kejauhan, ia melihat Ethan.
Pria itu sedang berjalan cepat mencarinya.
“Jessica!”
Jessica menoleh.
“Ethan?”
Tanpa memedulikan orang-orang di sekitar, Ethan langsung memeluk Jessica erat.
Jessica terkejut.
“Ada apa?”
Ethan mengembuskan napas panjang.
“Aku mencarimu ke mana-mana.”
Jessica perlahan membalas pelukannya.
“Aku hanya ingin sendiri sebentar.”
Ethan melepaskan pelukan itu dan menatap kedua mata Jessica.
“Aku baru bertemu Claire.”
Jessica membeku.
“Oh…”
“Aku sudah mengetahui semuanya.”
Jessica menunduk.
“Kalau begitu… mungkin kamu harus memikirkan kembali hubungan kita.”
Ethan mengernyit.
“Maksudmu?”
“Dia mengenalmu jauh lebih lama.”
“Dia selalu ada untukmu.”
“Dia mungkin lebih pantas…”
Belum sempat Jessica menyelesaikan kalimatnya, Ethan menggenggam kedua tangannya.
“Dengar aku baik-baik.”
Tatapan Ethan begitu serius hingga Jessica tidak mampu mengalihkan pandangan.
“Claire mengenalku selama sepuluh tahun.”
“Itu benar.”
“Dia adalah sahabat yang luar biasa.”
“Aku akan selalu menghargainya.”
Jessica menggigit bibirnya.
“Tapi…”
Ethan tersenyum lembut.
“Orang yang membuatku ingin pulang bukan Claire.”
“Orang yang kutulis setiap malam sebelum tidur bukan Claire.”
“Orang yang tetap percaya ketika semua orang mengira aku sudah mati…”
“…juga bukan Claire.”
Ethan mengusap pipi Jessica yang basah oleh air mata.
“Itu kamu.”
“Jessica Aurellia Pratama.”
Suara Ethan terdengar mantap.
“Aku tidak memilihmu karena siapa yang lebih dulu hadir.”
“Aku memilihmu karena di dalam seluruh hidupku…”
“…hanya kamulah rumah yang selalu ingin kutuju.”
Air mata Jessica akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.
Di bawah langit malam Singapura, ia memeluk Ethan sekuat tenaga.
Sementara di sudut lain kota itu, Claire berdiri di depan jendela apartemennya.
Ponselnya masih menampilkan foto lama ketika ia dan Ethan lulus dari akademi penerbangan.
Air matanya jatuh perlahan.
Dengan jemari gemetar, ia menghapus foto itu.
Namun jauh di dalam hatinya…
Claire belum benar-benar menyerah.
Ia mencintai Ethan terlalu lama untuk melepaskannya begitu saja.
Dan tanpa disadari Jessica maupun Ethan, keputusan Claire malam itu akan menjadi awal dari badai baru yang jauh lebih berbahaya daripada kecelakaan pesawat yang hampir merenggut nyawa Ethan.