Seminggu setelah Ethan keluar dari rumah sakit militer, kehidupannya perlahan kembali berjalan normal.
Atau setidaknya, berusaha terlihat normal.
Dokter masih melarangnya kembali terbang selama beberapa minggu ke depan. Tubuhnya memang sudah membaik, tetapi luka di bahu dan beberapa memar akibat kecelakaan itu masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya.
Bagi Ethan Lim, duduk diam jauh lebih sulit daripada menghadapi turbulensi di langit.
“Aku bosan.”
Jessica yang sedang mengupas buah apel menoleh sambil tertawa kecil.
“Baru lima hari cuti medis.”
“Rasanya seperti lima tahun.”
“Itu karena kamu terlalu mencintai pekerjaanmu.”
Ethan tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Saat itulah suara ketukan terdengar dari pintu apartemen Ethan.
Tok.
Tok.
Tok.
“Aku buka.”
Ethan berdiri sebelum Jessica sempat bergerak.
Begitu pintu terbuka, seorang perempuan berdiri di depan sana sambil mengangkat dua gelas kopi.
Claire Wong.
“Aku membawa kopi favoritmu.”
Claire tersenyum lebar sebelum menyadari keberadaan Jessica di ruang tamu.
“Oh.”
Senyumnya sedikit berubah.
“Aku tidak tahu kamu ada di sini, Jessica.”
Jessica membalas dengan senyum sopan.
“Tidak apa-apa.”
Claire masuk ke dalam apartemen seolah sudah sangat terbiasa dengan tempat itu.
Yang memang benar.
Ia mengenal Ethan jauh lebih lama daripada Jessica.
Claire meletakkan kopi di meja.
“Aku juga membawa makanan.”
“Kamu pasti belum makan dengan benar sejak keluar dari rumah sakit.”
Ethan terkekeh kecil.
“Terima kasih, Claire.”
Jessica memperhatikan bagaimana Claire dengan mudah membuka lemari dapur, mengambil piring, bahkan mengetahui di mana Ethan menyimpan sendok dan garpu.
Seolah-olah ia sudah melakukan semua ini berkali-kali.
Dan mungkin memang begitu.
“Tidak kusangka kamu masih menyimpan mug ini.”
Claire mengangkat sebuah mug biru tua dari rak dapur.
Ethan tersenyum kecil.
“Itu hadiah ulang tahun dari akademi.”
“Aku ingat.”
Claire tertawa pelan.
“Kamu menjatuhkannya dua kali pada hari yang sama.”
Jessica hanya diam sambil memperhatikan percakapan mereka.
Ada begitu banyak cerita yang tidak ia ketahui.
Begitu banyak kenangan yang tidak melibatkan dirinya.
Claire menoleh kepada Jessica.
“Ethan sangat ceroboh waktu muda.”
“Aku pernah melihatnya tertidur di ruang briefing.”
“Itu hanya sekali,” bantah Ethan.
“Dan aku masih mengingatnya sepuluh tahun kemudian.”
Claire tertawa puas.
Jessica ikut tersenyum kecil.
Namun entah mengapa, ada sesuatu dalam sikap Claire yang membuatnya tidak nyaman.
Terlalu akrab.
Terlalu dekat.
Sore itu, Jessica pergi sebentar untuk menerima panggilan dari ibunya.
Ketika kembali, ia mendengar suara Claire dari balkon apartemen.
“…aku benar-benar takut kehilanganmu waktu itu.”
Jessica berhenti melangkah.
“Aku juga takut.”
Suara Ethan terdengar pelan.
Claire tertawa kecil, tetapi kali ini terdengar lebih sedih.
“Kita sudah melewati terlalu banyak hal bersama, Ethan.”
“Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau kamu benar-benar tidak kembali.”
Jessica memandang mereka dari kejauhan.
Claire berdiri sangat dekat dengan Ethan.
Terlalu dekat.
“Claire…”
“Aku serius.”
Claire menatap Ethan.
“Kamu adalah orang terpenting dalam hidupku setelah keluargaku.”
Ethan terdiam beberapa saat.
“Aku tahu.”
Dan jawaban itu entah mengapa terasa seperti batu yang jatuh ke dalam hati Jessica.
Malam harinya, setelah Claire pulang, suasana apartemen menjadi jauh lebih sunyi.
Jessica berdiri di dekat jendela sambil memandang lampu-lampu kota Singapura.
“Kamu diam sejak tadi.”
Jessica tersenyum kecil.
“Tidak.”
“Kamu cemburu.”
Jessica langsung menoleh.
“Aku tidak cemburu.”
Ethan mengangkat sebelah alisnya.
“Jessica.”
Ia menghela napas panjang.
“Sedikit.”
Ethan tertawa pelan.
“Itu baru jujur.”
Jessica memandangnya.
“Kalian sangat dekat.”
“Iya.”
“Kalian punya banyak kenangan bersama.”
Ethan mengangguk.
“Benar.”
Jessica menundukkan pandangannya.
“Dan dia jelas sangat menyayangimu.”
Hening.
Kemudian Ethan berjalan mendekat.
“Claire adalah sahabatku.”
“Hanya itu.”
Jessica mengangkat wajahnya.
“Tapi dia mungkin menginginkan lebih.”
Ethan terdiam.
Karena untuk pertama kalinya…
Ia tidak bisa langsung membantahnya.
Dua hari kemudian, Jessica kembali datang ke pangkalan untuk menjemput Ethan setelah sesi fisioterapi.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat Claire sudah lebih dulu berada di sana.
Claire menyerahkan sebotol air kepada Ethan sambil tersenyum.
Kemudian tanpa ragu, perempuan itu merapikan kerah jaket Ethan.
Gerakan sederhana.
Tetapi cukup intim untuk membuat d**a Jessica terasa sesak.
Claire baru menyadari keberadaan Jessica beberapa detik kemudian.
“Oh, Jessica.”
“Aku tidak tahu kamu datang.”
Jessica memaksakan senyum.
“Tidak apa-apa.”
Claire menoleh kembali kepada Ethan.
“Aku sudah memesan restoran favoritmu malam ini.”
“Kita sudah lama tidak makan bersama.”
Ethan terlihat ragu.
“Aku sebenarnya sudah punya rencana dengan Jessica.”
Senyum Claire sedikit memudar.
“Oh.”
“Baiklah.”
Namun sebelum pergi, ia menoleh kepada Jessica.
“Kamu beruntung.”
Jessica mengernyit.
“Maksudmu?”
Claire tersenyum tipis.
“Kamu mengenal Ethan setelah dia menjadi pria seperti sekarang.”
Tatapannya beralih kepada Ethan.
“Aku mengenalnya ketika dia masih tidak punya apa-apa selain mimpi dan seragam akademi.”
Lalu ia pergi.
Meninggalkan keheningan di antara Jessica dan Ethan.
Jessica memandang punggung perempuan itu menjauh.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.
Musuh terbesar dalam hubungan mereka mungkin bukan lagi jarak.
Bukan lagi perbedaan negara.
Dan bukan pula langit yang hampir merenggut Ethan darinya.
Kadang-kadang…
Ancaman terbesar datang dari seseorang yang telah berada di sana jauh sebelum kita hadir.
Seseorang yang tidak pernah benar-benar pergi.
Seseorang yang masih berharap suatu hari nanti, sahabat terbaiknya akan melihatnya sebagai lebih dari sekadar teman.
Dan Jessica mulai bertanya-tanya…
Seberapa kuat sebuah persahabatan mampu bertahan ketika salah satu pihak diam-diam menginginkan cinta?