Aroma antiseptik memenuhi ruangan rumah sakit militer di Singapura itu.
Jessica duduk di kursi di samping tempat tidur Ethan sambil memandang monitor yang terus menunjukkan detak jantung pria itu secara stabil.
Sudah tiga hari sejak Ethan ditemukan di pulau kecil di tengah lautan.
Tiga hari sejak dunia yang hampir runtuh itu perlahan kembali berdiri.
Ethan sudah sadar sepenuhnya, tetapi dokter masih melarangnya melakukan terlalu banyak aktivitas kerana tubuhnya masih mengalami dehidrasi, kelelahan ekstrem, dan beberapa cedera ringan akibat kecelakaan tersebut.
Jessica menghela napas lega ketika melihat Ethan membuka mata.
“Selamat pagi.”
Ethan tersenyum kecil.
“Sudah pagi?”
Jessica mengangguk.
“Kamu tidur hampir sepuluh jam.”
“Rekor baru.”
Jessica tertawa kecil.
“Kamu membuat seluruh Singapura panik, tahu.”
Ethan memandangnya dengan lembut.
“Maaf.”
Jessica menggeleng.
“Kamu sudah kembali. Itu saja yang penting.”
Tatapan mereka bertemu selama beberapa saat sebelum suara ketukan pintu memecahkan suasana.
Tok.
Tok.
Tok.
“Pintu terbuka.”
Seorang perempuan masuk ke dalam ruangan sambil membawa sejambak bunga lili putih.
Jessica menoleh.
Perempuan itu tampak anggun dengan rambut hitam sebahu dan pakaian formal berwarna biru gelap.
Usianya mungkin sekitar akhir dua puluhan.
Begitu melihat Ethan, wajah perempuan itu berubah lega.
“Kamu benar-benar membuatku hampir membunuhmu sendiri, Ethan Lim.”
Ethan tertawa kecil.
“Aku juga senang bertemu denganmu, Claire.”
Jessica memandang mereka berdua.
Claire?
Perempuan itu meletakkan bunga di atas meja sebelum menyilangkan tangan di d**a.
“Dua minggu tidak ada kabar, lalu tiba-tiba seluruh berita dipenuhi namamu.”
“Aku bahkan sudah menyiapkan pidato untuk memarahimu kalau kamu benar-benar kembali.”
Ethan terkekeh pelan.
“Maaf mengecewakanmu.”
Claire menggeleng sambil tersenyum.
Kemudian pandangannya beralih kepada Jessica.
“Oh.”
Ekspresinya berubah sedikit terkejut.
“Kamu pasti Jessica.”
Jessica mengangguk perlahan.
“Ya.”
Claire mengulurkan tangannya.
“Aku Claire Wong.”
“Sahabat Ethan sejak akademi penerbangan.”
Jessica menyambut tangannya.
“Senang bertemu denganmu.”
“Begitu juga.”
Namun entah mengapa, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dalam d**a Jessica.
Sahabat sejak akademi penerbangan.
Berarti Claire mengenal Ethan jauh sebelum dirinya hadir dalam hidup pria itu.
Claire menoleh ke arah Ethan.
“Jadi ini perempuan yang membuatmu menolak semua ajakan kencan selama bertahun-tahun?”
Ethan menghela napas panjang.
“Claire…”
“Apa? Aku hanya mengatakan fakta.”
Jessica menoleh kepada Ethan dengan terkejut.
“Kamu menolak semua ajakan kencan?”
Claire tertawa kecil.
“Bukan hanya menolak.”
“Dia bahkan pernah meninggalkan acara makan malam karena dipanggil latihan tambahan.”
Ethan memejamkan mata seolah menyerah.
“Aku mulai menyesal membiarkanmu masuk.”
Claire tersenyum puas.
Jessica tidak dapat menahan tawanya.
Untuk pertama kalinya sejak insiden itu terjadi, suasana ruangan terasa ringan.
Setelah beberapa saat berbincang, Ethan dipanggil doktor untuk pemeriksaan lanjutan.
Tinggallah Jessica dan Claire di dalam ruangan.
Suasana tiba-tiba berubah sedikit canggung.
Claire memandang ke arah pintu yang baru ditutup Ethan.
“Kamu sangat berarti baginya.”
Jessica menoleh.
“Apa?”
Claire tersenyum kecil.
“Aku mengenal Ethan hampir sepuluh tahun.”
“Dia selalu hidup untuk pekerjaannya.”
“Untuk skuadronnya.”
“Untuk negaranya.”
“Tetapi tidak pernah untuk dirinya sendiri.”
Jessica terdiam mendengarnya.
Claire memandang bunga lili di atas meja.
“Aku pernah berpikir dia tidak akan pernah jatuh cinta.”
Jessica tersenyum kecil.
“Aku juga sempat berpikir begitu.”
Claire tertawa pelan.
“Lalu tiba-tiba dia mulai menolak ajakan makan malam kerana harus video call.”
“Mulai tersenyum sendiri melihat telefon.”
“Dan mulai meminta cuti.”
Jessica membelalakkan mata.
“Ethan meminta cuti?”
“Percayalah.”
Claire mengangguk yakin.
“Itu jauh lebih mengejutkan daripada pesawat tempur mendarat di jalan raya.”
Jessica tertawa kecil.
Namun beberapa saat kemudian, Claire menjadi serius.
“Jessica.”
“Hm?”
“Terima kasih kerana tidak menyerah.”
Jessica memandangnya dengan bingung.
“Banyak orang sudah mulai menerima kemungkinan terburuk.”
“Ayahnya juga.”
“Aku juga hampir menyerah.”
Claire menarik napas panjang.
“Tetapi kamu tetap bertahan.”
Tatapan Jessica perlahan jatuh ke arah pintu.
“Aku hanya memegang janjinya.”
“Janji?”
Jessica tersenyum kecil.
“Dia bilang dia akan pulang.”
Claire terdiam selama beberapa saat.
Kemudian ia tersenyum.
“Kalau begitu, mungkin dia memang membutuhkan seseorang yang cukup keras kepala untuk mempercayainya.”
Ketika Ethan kembali ke kamar, ia mendapati kedua perempuan itu sedang berbincang sambil tertawa.
Ethan mengangkat sebelah alisnya.
“Aku takut bertanya apa yang sedang kalian bicarakan.”
Claire berdiri sambil mengambil tas tangannya.
“Rahasia perempuan.”
“Itu terdengar berbahaya.”
“Sangat berbahaya.”
Claire menoleh ke arah Jessica sebelum berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak.
“Oh ya, Ethan.”
Ethan memandangnya.
“Jangan hilang lagi.”
Untuk pertama kalinya, senyum Claire terlihat rapuh.
“Aku tidak mau kehilangan sahabat terbaikku.”
Ethan mengangguk perlahan.
“Aku akan berusaha.”
Claire tersenyum kecil sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
Keheningan kembali memenuhi kamar.
Jessica memandang pintu yang baru saja tertutup.
“Kalian sangat dekat.”
Ethan mengangguk.
“Dia seperti keluarga bagiku.”
Jessica menoleh ke arahnya.
“Hanya sahabat?”
Ethan tersenyum kecil.
“Hanya sahabat.”
Ia menggenggam tangan Jessica perlahan.
“Karena orang yang ingin aku pulangi bukan Claire.”
Tatapan mereka bertemu.
“Melainkan kamu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu terjadi, Jessica merasa tidak lagi takut pada masa lalu Ethan.
Karena sekarang ia tahu satu hal.
Mungkin ada banyak orang yang mencintai Ethan Lim dengan cara mereka masing-masing.
Tetapi hanya ada satu orang yang ditunggu Ethan di ujung setiap penerbangannya.
Jessica Aurellia Pratama.