Hari ketiga belas sejak hilangnya Ethan Lim.
Tiga belas hari tanpa kabar.
Tiga belas hari tanpa suara.
Tiga belas hari tanpa kepastian.
Dan setiap hari yang berlalu terasa seperti seumur hidup bagi Jessica Aurellia Pratama.
Pagi itu, ruang operasi di markas RSAF dipenuhi suasana muram. Operasi pencarian masih berlangsung, tetapi jumlah personel dan aset yang terlibat mulai dikurangi.
Realitas mulai berbicara lebih keras daripada harapan.
Jessica berdiri di depan jendela besar yang menghadap landasan udara.
Sebuah jet tempur baru saja lepas landas.
Suara mesinnya menggema di dadanya.
Biasanya suara itu membuatnya takut.
Namun sekarang…
Suara itu justru membuatnya merasa lebih dekat dengan Ethan.
“Miss Jessica.”
Jessica menoleh.
Mayor Adrian Tan berdiri di belakangnya.
“Ada sesuatu yang perlu kami sampaikan.”
Jantung Jessica langsung berdegup lebih cepat.
“Apa mereka menemukannya?”
Mayor Adrian menghela napas panjang.
“Kami menemukan bagian lain dari pesawat Captain Ethan Lim.”
Jessica menunggu kalimat berikutnya.
Namun yang datang hanyalah keheningan.
“Dan Ethan?”
“Kami belum menemukan Captain Lim.”
Jessica menutup matanya perlahan.
Belum ditemukan.
Kalimat itu lagi.
Kalimat yang sekaligus menjadi harapan dan siksaan.
Sore harinya, Jessica memutuskan pergi ke tempat pertama ia bertemu Ethan.
Changi Exhibition Centre.
Tempat semuanya bermula.
Area itu masih sama seperti dulu.
Sepi.
Tenang.
Hanya suara angin dan sesekali suara pesawat dari kejauhan.
Jessica duduk di dekat pagar pembatas landasan sambil menggenggam jam tangan Ethan di tangan kirinya dan gantungan pesawat di tangan kanannya.
“Aku sudah datang lagi.”
Angin sore meniup rambutnya pelan.
“Kamu bilang tempat ini membuatmu mengingat hari kita bertemu.”
Air mata mulai memenuhi matanya.
“Jadi sekarang aku datang untuk mengingatkanmu jalan pulang.”
Langit di atasnya perlahan berubah jingga.
Persis seperti sore ketika Ethan memberikan gantungan pesawat itu kepadanya.
“Sejauh apa pun aku terbang, aku akan selalu mencari jalan untuk pulang kepadamu.”
Jessica memejamkan mata.
“Kalau kamu masih bisa mendengarku…”
“…aku masih menunggumu.”
Malam itu, telepon di rumah keluarga Lim berbunyi.
Wei Khang yang mengangkatnya.
Beberapa detik kemudian, wajah pria itu berubah drastis.
“Apa?”
Semua orang langsung berdiri.
“Ada apa?”
Wei Khang menoleh ke arah Jessica.
“Mereka menemukan sinyal.”
Jessica membeku.
“Sinyal apa?”
“Sinyal darurat.”
Ruangan langsung dipenuhi ketegangan.
Mayor Adrian yang berada di ujung telepon menjelaskan bahwa tim pencarian menerima pancaran sinyal darurat lemah dari sebuah perangkat survival militer di wilayah pencarian sebelah utara.
Perangkat seperti itu hanya aktif jika diaktifkan secara manual.
Artinya…
Ada seseorang yang masih hidup untuk menyalakannya.
Jessica merasakan air matanya jatuh begitu saja.
“Ethan…”
Malam itu juga, operasi pencarian kembali diperbesar.
Helikopter dikerahkan.
Kapal patroli bergerak menuju koordinat terbaru.
Pesawat pengintai kembali diterbangkan.
Seluruh markas yang sebelumnya mulai kehilangan harapan kini kembali hidup.
“Ada kemungkinan dia masih hidup.”
Kalimat itu berulang kali terdengar di setiap ruangan.
Kemungkinan.
Bukan kepastian.
Tetapi bagi Jessica, itu sudah lebih dari cukup.
Pukul tiga pagi.
Tidak ada seorang pun yang tidur.
Jessica duduk di ruang tunggu sambil memegang jam tangan Ethan.
Jarumnya terus bergerak.
Detik demi detik.
Menit demi menit.
Seolah mengingatkannya bahwa di suatu tempat di luar sana, seseorang mungkin sedang berjuang melawan dingin, lapar, dan rasa sakit.
Lalu tiba-tiba…
Pintu ruang operasi terbuka.
Seorang perwira berlari masuk.
“Kami menemukan seseorang!”
Semua orang langsung berdiri.
Jessica bahkan lupa cara bernapas.
“Siapa?”
Perwira itu menatap mereka.
“Tim penyelamat menemukan seorang pilot di pulau kecil sekitar dua ratus kilometer dari lokasi jatuhnya pesawat.”
Jantung Jessica berhenti berdetak.
“Apakah itu Ethan?”
Perwira itu menggeleng pelan.
“Kami belum bisa memastikan identitasnya.”
Harapan yang baru tumbuh kembali digantungkan di antara langit dan bumi.
Dua jam kemudian, sebuah helikopter akhirnya mendarat di pangkalan.
Semua orang berkumpul di area medis.
Jessica berdiri paling belakang.
Tangannya gemetar.
Pintu helikopter terbuka perlahan.
Petugas medis mulai menurunkan tandu.
Sosok itu tertutup selimut termal.
Wajahnya dipenuhi luka dan goresan.
Jessica tidak bisa melihat dengan jelas.
Lalu…
Tangan itu bergerak sedikit.
Petugas medis menurunkan selimut dari wajahnya.
Dan dunia Jessica berhenti.
Ethan.
Wajahnya pucat.
Bibirnya pecah-pecah.
Ada luka di dahinya.
Tetapi itu Ethan.
Jessica menutup mulutnya sambil menangis.
“Ethan…”
Pria itu perlahan membuka matanya.
Pandangannya tampak kabur.
Namun di antara puluhan wajah yang berdiri di sana…
Matanya berhenti pada satu orang.
Jessica.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.
Senyum yang sangat dikenalnya.
Dengan suara yang hampir tidak terdengar, Ethan berbisik pelan,
“…aku bilang aku akan pulang.”
Air mata Jessica jatuh semakin deras.
Ia menggenggam tangan Ethan erat-erat.
“Aku tahu.”
“Aku tahu kamu akan kembali.”
Ethan memejamkan matanya lagi ketika petugas medis mendorong tandunya menuju ruang perawatan.
Namun sebelum pintu tertutup sepenuhnya, jemarinya masih menggenggam tangan Jessica.
Seolah takut jika ia melepaskannya, semua ini hanyalah mimpi.
Di luar bangunan, matahari mulai terbit di langit Singapura.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu dipenuhi badai dan ketakutan…
Langit akhirnya mengantarkan seorang penerbang pulang kepada orang yang menunggunya.
Dan Jessica akhirnya memahami satu hal.
Kadang-kadang, cinta bukan tentang seberapa sering seseorang hadir di samping kita.
Kadang-kadang…
Cinta adalah keberanian untuk tetap menunggu ketika seluruh dunia memilih untuk menyerah.