BAB 9 – Aku Masih Menunggumu
Hujan menyambut kedatangan Jessica di Singapura.
Langit yang biasanya cerah kini dipenuhi awan kelabu yang menggantung rendah seolah turut merasakan kesedihan yang memenuhi d**a setiap orang yang menunggu kabar tentang Ethan Lim.
Jessica berdiri di luar terminal kedatangan Bandara Changi sambil menggenggam erat pegangan kopernya.
Biasanya, setiap kali ia tiba di Singapura, ada seseorang yang akan menunggunya di sana.
Seseorang yang tersenyum sambil berkata, “Selamat datang kembali di Singapura.”
Namun kali ini…
Tidak ada Ethan.
Yang ada hanyalah rasa kosong yang perlahan berubah menjadi ketakutan.
Markas Republic of Singapore Air Force dipenuhi suasana tegang.
Personel keluar masuk ruang operasi tanpa henti.
Peta digital memenuhi layar besar, menunjukkan area pencarian yang semakin diperluas dari jam ke jam.
Jessica duduk di ruang tunggu bersama keluarga Ethan.
Ibunya, Mei Lin, tampak jauh lebih pucat dibandingkan saat Jessica terakhir kali melihatnya beberapa bulan lalu.
Wanita itu memandang Jessica untuk beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.
“Kamu Jessica?”
Jessica mengangguk pelan.
“Iya, Auntie.”
Mei Lin menggenggam kedua tangan Jessica.
“Terima kasih sudah datang.”
Jessica terkejut.
Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana keluarga Ethan tidak pernah benar-benar menerima kehadirannya.
Namun dalam situasi seperti ini, semua perbedaan itu terasa tidak lagi penting.
Yang mereka inginkan hanya satu.
Ethan pulang.
Ayah Ethan, Lim Wei Khang, berdiri di dekat jendela sambil memandang langit yang mulai gelap.
Untuk pertama kalinya sejak Jessica mengenalnya, pria itu terlihat rapuh.
“Sampai sekarang belum ada kabar?”
tanya Jessica pelan.
Wei Khang menggeleng.
“Belum.”
Jawaban singkat itu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hati.
Di ruang operasi, beberapa perwira senior tengah berdiskusi serius.
“Beacon darurat belum terdeteksi.”
“Satelit juga tidak menemukan sinyal baru.”
“Area pencarian diperluas hingga seratus lima puluh nautical miles.”
Setiap kalimat terdengar seperti hukuman bagi keluarga yang menunggu di luar ruangan.
Semakin lama waktu berlalu, kemungkinan menemukan Ethan dalam keadaan selamat semakin kecil.
Namun tidak ada seorang pun yang berani mengatakannya dengan suara keras.
Malam harinya, Jessica berdiri sendirian di luar gedung markas.
Angin malam berhembus dingin.
Matanya menatap langit hitam tanpa bintang.
“Ethan…”
Suara itu nyaris seperti bisikan.
Ia mengeluarkan gantungan kunci berbentuk pesawat dari dalam tasnya.
Benda kecil itu kini terasa jauh lebih berat dari seharusnya.
“Aku akan pulang.”
Pesan terakhir Ethan kembali terngiang di kepalanya.
Air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan.
“Aku ada di sini.”
“Aku datang seperti yang seharusnya.”
“Jadi sekarang giliranmu untuk menepati janjimu.”
Untuk pertama kalinya sejak menerima kabar hilangnya Ethan, Jessica membiarkan dirinya menangis.
Bukan karena ia kehilangan harapan.
Melainkan karena ia terlalu takut untuk membayangkan kemungkinan lainnya.
Keesokan paginya, pencarian memasuki hari kesembilan.
Beberapa media mulai memberitakan insiden tersebut.
Sebagian besar mulai menggunakan kata-kata yang tidak ingin dibaca oleh siapa pun.
“Kemungkinan kecil untuk bertahan hidup.”
“Operasi pencarian memasuki fase kritis.”
“Harapan semakin menipis.”
Jessica mematikan layar ponselnya.
Ia tidak ingin membaca semuanya.
Ia tidak ingin mendengar semuanya.
Karena selama belum ada seseorang yang berdiri di depannya dan mengatakan bahwa Ethan telah pergi…
Ia akan terus percaya.
Menjelang sore, seorang perwira menghampiri keluarga Ethan.
“Mr. dan Mrs. Lim, kami menemukan sesuatu.”
Semua orang langsung berdiri.
Jantung Jessica berdetak begitu keras hingga ia hampir tidak bisa bernapas.
“Apa mereka menemukannya?”
Perwira itu menghela napas pelan.
“Kami menemukan sebagian puing pesawat di wilayah pencarian.”
Ruangan mendadak hening.
Ibunda Ethan langsung menutup mulutnya sambil menangis.
Sementara Wei Khang memejamkan mata untuk beberapa saat.
Jessica merasa lututnya melemah.
“Bagaimana dengan Ethan?”
Perwira itu menatap mereka dengan ekspresi berat.
“Kami belum menemukan Captain Ethan Lim.”
Belum menemukan.
Bukan meninggal.
Bukan tidak selamat.
Belum ditemukan.
Jessica menggenggam kata-kata itu seperti seseorang yang menggenggam pelampung di tengah lautan.
“Kalau begitu dia masih hidup.”
Semua orang menoleh kepadanya.
“Miss Jessica…”
Jessica menggeleng cepat.
“Belum ditemukan bukan berarti sudah tidak ada.”
“Tidak ada yang bisa memastikan apa pun.”
Perwira itu terdiam.
Karena secara teknis…
Jessica benar.
Malam itu, Wei Khang menghampiri Jessica yang sedang duduk sendirian di koridor.
Pria yang dulu menolak hubungannya dengan Ethan itu kini duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa selama beberapa menit.
“Aku pernah berpikir kamu akan menjadi gangguan bagi masa depan Ethan.”
Jessica terdiam.
Wei Khang menatap langit malam melalui jendela besar di depan mereka.
“Tapi sekarang aku sadar…”
Ia berhenti sejenak.
“…tidak ada seorang pun yang menunggu anakku sebesar dirimu menunggunya.”
Air mata kembali memenuhi mata Jessica.
Wei Khang mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah jam tangan milik Ethan.
“Dia meninggalkannya di rumah beberapa hari sebelum berangkat.”
Jessica menerimanya dengan tangan gemetar.
“Dia biasanya tidak pernah lupa membawa jam ini.”
Wei Khang tersenyum pahit.
“Mungkin karena pikirannya sedang dipenuhi seseorang.”
Jessica memegang jam itu erat di dadanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Ayah Ethan tidak lagi melihatnya sebagai perempuan Indonesia yang tidak pantas untuk putranya.
Melainkan sebagai seseorang yang mencintai Ethan sama besarnya dengan keluarga mereka sendiri.
Di luar gedung, langit Singapura masih gelap.
Namun jauh di dalam hatinya, Jessica tetap mempertahankan satu keyakinan yang menolak untuk padam.
Ethan Lim masih di luar sana.
Masih berjuang.
Masih mencari jalan pulang.
Dan selama harapan itu masih ada…
Jessica akan tetap menunggunya.
Karena beberapa janji terlalu berharga untuk dilepaskan begitu saja.
Terutama janji seorang penerbang yang pernah berkata,
“Aku akan pulang.”