Sudah tujuh hari sejak Ethan berangkat menjalankan penugasan.
Tujuh hari.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya waktu yang singkat.
Namun bagi Jessica Aurellia Pratama, tujuh hari terasa seperti tujuh bulan.
Pagi itu, seperti biasa, Jessica membuka matanya dan hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa ponselnya.
Tidak ada pesan baru.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada kabar dari Ethan.
Ia menghela napas pelan.
Sebelum berangkat, Ethan memang sudah mengatakan bahwa mungkin akan ada hari-hari ketika ia tidak bisa menghubunginya.
Tetapi mengetahui dan mengalaminya sendiri ternyata adalah dua hal yang sangat berbeda.
Jessica membuka galeri ponselnya.
Foto terakhir mereka di Marina Bay masih tersimpan di sana.
Ethan tersenyum ke arah kamera sementara dirinya tertawa karena pria itu sengaja mengganggunya saat mengambil gambar.
Jessica mengusap layar ponselnya pelan.
“Aku menunggumu pulang, Ethan.”
Di Jakarta, hari-hari Jessica berjalan seperti biasa.
Ia tetap bekerja.
Tetap menghadiri rapat.
Tetap menyelesaikan desain untuk para klien.
Namun pikirannya selalu berada di tempat lain.
Langit.
Setiap kali mendengar suara pesawat melintas, tanpa sadar ia akan mendongak.
Mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa.
Suatu sore, Nadia menghampirinya di kantor.
“Kamu baik-baik saja?”
Jessica tersenyum kecil.
“Aku baik.”
“Kamu berbohong.”
Jessica terdiam.
Nadia duduk di sampingnya.
“Masih belum ada kabar?”
Jessica menggeleng pelan.
“Tidak.”
“Kapan terakhir kali dia menghubungimu?”
“Hari dia berangkat.”
Nadia terlihat khawatir.
“Jessica…”
“Aku tahu.”
Jessica tersenyum tipis.
“Aku tahu pekerjaannya seperti ini.”
“Tapi tetap saja sulit.”
Nadia menggenggam tangannya.
“Dia akan kembali.”
Jessica berharap begitu.
Dengan seluruh hatinya.
Sementara itu, ribuan kilometer dari Jakarta dan Singapura, langit di atas lautan dipenuhi suara gemuruh mesin jet tempur.
“Falcon One, posisi aman.”
“Falcon Two, copy.”
Suara komunikasi radio terdengar singkat dan profesional.
Di dalam kokpitnya, Ethan memeriksa instrumen penerbangan sekali lagi.
Misi mereka belum selesai.
Cuaca buruk mulai bergerak mendekati wilayah operasi.
Awan gelap memenuhi cakrawala.
“Visibility decreasing.”
Ethan mengerutkan dahinya.
Situasi seperti ini bukan hal baru.
Tetapi tidak pernah bisa dianggap remeh.
Di dunia penerbangan militer, satu kesalahan kecil dapat mengubah segalanya.
Malam itu, Jessica duduk di balkon apartemennya.
Jakarta baru saja diguyur hujan.
Udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Ia kembali melihat pesan terakhir dari Ethan.
“Aku akan pulang.”
Hanya tiga kata.
Namun tiga kata itu menjadi alasan mengapa ia masih bisa tersenyum setiap hari.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Jantung Jessica langsung berdegup cepat.
Namun senyum yang sempat muncul perlahan memudar.
Bukan Ethan.
Nomor tidak dikenal dari Singapura.
Dengan tangan sedikit gemetar, Jessica mengangkat telepon itu.
“Halo?”
“Apakah saya berbicara dengan Miss Jessica Aurellia Pratama?”
Jessica langsung duduk tegak.
“Ya, saya sendiri.”
“Saya Mayor Adrian Tan dari Republic of Singapore Air Force.”
Jessica merasakan dadanya tiba-tiba sesak.
“Ada apa?”
Beberapa detik keheningan terasa seperti bertahun-tahun.
“Kami ingin menginformasikan bahwa Captain Ethan Lim terlibat dalam sebuah insiden selama menjalankan operasi.”
Dunia Jessica berhenti.
“Apa maksud Anda?”
“Pesawat yang dipiloti Captain Ethan Lim mengalami kehilangan komunikasi sementara selama cuaca buruk.”
Jessica menggenggam ponselnya erat.
“Kehilangan komunikasi?”
“Kami masih melakukan pencarian dan investigasi.”
“Namun saat ini kami belum dapat memberikan informasi lebih lanjut.”
Jessica tidak mendengar apa pun lagi setelah itu.
Suara di sekelilingnya menghilang.
Yang tersisa hanyalah detak jantungnya sendiri.
“Ethan…”
Keesokan paginya, berita itu mulai menyebar di kalangan keluarga militer.
Operasi pencarian sedang berlangsung.
Namun belum ada hasil.
Belum ada puing.
Belum ada sinyal darurat.
Belum ada konfirmasi apa pun.
Dan justru itulah yang paling menakutkan.
Tidak ada jawaban.
Di Singapura, keluarga Ethan berkumpul di rumah mereka dalam keheningan.
Ibunya menangis pelan.
Sementara ayahnya duduk diam menatap lantai.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lim Wei Khang terlihat begitu tua.
Sore harinya, Jessica berdiri di Bandara Soekarno-Hatta dengan sebuah koper kecil di sampingnya.
Nadia memandangnya khawatir.
“Kamu yakin ingin pergi sekarang?”
Jessica mengangguk.
“Aku harus ke sana.”
“Tapi mereka bahkan belum menemukan apa pun.”
“Itulah sebabnya aku harus pergi.”
Nadia memeluknya erat.
“Hati-hati.”
Jessica mengangguk pelan.
Beberapa menit kemudian, suara pengumuman keberangkatan menuju Singapura terdengar di seluruh terminal.
Jessica menggenggam erat gantungan kunci berbentuk pesawat pemberian Ethan.
“Kalau semua orang mengatakan aku tidak akan kembali?”
“Selama aku belum mendengar langsung darimu, aku akan tetap percaya.”
Jessica memejamkan matanya.
Ia pernah mengucapkan janji itu.
Dan ia tidak berniat melanggarnya.
Pesawat menuju Singapura perlahan meninggalkan landasan.
Jessica memandang langit dari balik jendela.
Di suatu tempat di luar sana, mungkin di atas lautan yang luas dan tak berujung…
Ada seseorang yang sedang berusaha menemukan jalan pulang.
Dan selama belum ada seorang pun yang mampu membuktikan sebaliknya…
Jessica akan tetap menunggu.
Karena cinta tidak selalu berarti memiliki seseorang di sisi kita.
Terkadang cinta berarti tetap percaya pada kepulangan seseorang, bahkan ketika seluruh dunia sudah berhenti berharap.