Hujan turun perlahan di Singapura malam itu.
Jessica berdiri di depan jendela kamar hotelnya, memandangi tetesan air yang mengalir di kaca. Di tangannya masih tergenggam gantungan kunci berbentuk pesawat yang pernah diberikan Ethan beberapa bulan lalu.
“Sejauh apa pun aku terbang, aku akan selalu mencari jalan untuk pulang kepadamu.”
Entah mengapa, malam ini kalimat itu terasa berbeda.
Ponselnya bergetar.
Ethan Calling…
Jessica segera mengangkatnya.
“Halo?”
“Maaf mengganggu waktumu.”
Suara Ethan terdengar lebih berat dari biasanya.
“Kamu baik-baik saja?”
“Aku baik.”
Namun Jessica tahu itu bohong.
“Ada apa, Ethan?”
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
“Aku mendapat penugasan.”
Jessica menegakkan tubuhnya.
“Penugasan?”
“Iya.”
“Latihan gabungan di luar negeri.”
Jessica mencoba tersenyum meski Ethan tidak bisa melihatnya.
“Itu kabar baik, kan?”
“Seharusnya begitu.”
Jawaban itu membuat Jessica terdiam.
“Berapa lama?”
“Aku belum tahu.”
“Bisa dua minggu.”
“Bisa juga lebih lama.”
Jessica menggigit bibir bawahnya.
Selama ini Ethan memang sering sibuk, tetapi tidak pernah sekalipun pergi tanpa kepastian kapan akan kembali.
“Kapan berangkat?”
“Besok pagi.”
“Apa?”
Suara Jessica nyaris berbisik.
“Kenapa baru memberitahuku sekarang?”
Ethan menghela napas panjang.
“Karena aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu tanpa memikirkan perpisahan.”
Jessica menutup matanya sesaat.
Dadanya terasa sesak.
“Aku ingin bertemu.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
“Aku di bawah hotelmu.”
Jessica membeku.
“Apa?”
“Aku menunggu di lobby.”
Kurang dari lima menit kemudian, Jessica berlari keluar dari lift.
Dan di sana…
Ethan berdiri mengenakan jaket hitam sederhana dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku.
Saat melihat Jessica, senyum kecil muncul di wajahnya.
Namun kali ini, senyum itu tidak berhasil menyembunyikan kelelahan di matanya.
“Kamu benar-benar datang.”
Ethan mengangguk pelan.
“Aku tidak ingin pergi tanpa melihatmu.”
Mereka berjalan keluar menuju taman kecil di depan hotel.
Langit masih menurunkan gerimis tipis.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tidak ada candaan.
Tidak ada gurauan.
Hanya ada keheningan yang terasa semakin berat setiap detiknya.
“Ethan.”
“Hm?”
“Hati-hati di sana.”
Ethan tersenyum kecil.
“Aku selalu hati-hati.”
“Bukan itu maksudku.”
Jessica menatapnya.
“Aku ingin kamu kembali.”
Tatapan Ethan melembut.
“Aku tahu.”
Jessica menundukkan pandangannya.
“Aku tidak suka perasaan ini.”
“Perasaan apa?”
“Takut.”
Hening.
“Aku tahu pekerjaanmu berbahaya.”
“Aku tahu sejak awal.”
“Tapi semakin aku mengenalmu…”
Suara Jessica mulai bergetar.
“…semakin aku takut kehilanganmu.”
Ethan terdiam.
Untuk seorang pilot tempur, rasa takut bukan sesuatu yang asing.
Setiap kali memasuki kokpit, mereka tahu ada kemungkinan kecil untuk tidak kembali.
Namun, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang takut kehilangan dirinya lebih dari dirinya sendiri.
Perlahan, Ethan menggenggam tangan Jessica.
Hangat.
Dan menenangkan.
“Dengarkan aku.”
Jessica mengangkat wajahnya.
“Aku mungkin tidak bisa menjanjikan hidup yang mudah.”
“Aku mungkin akan sering pergi.”
“Mungkin juga akan ada hari-hari ketika aku tidak bisa menghubungimu.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi ada satu hal yang bisa kujanjikan.”
“Apa?”
Ethan menatap langsung ke matanya.
“Aku akan melakukan apa pun agar bisa kembali kepadamu.”
Jantung Jessica berdetak keras.
Dan sebelum ia sempat mengatakan apa pun, suara gemuruh pesawat terdengar melintas di atas mereka.
Keduanya mendongak.
Sebuah jet tempur melesat membelah langit malam.
Lampu navigasinya terlihat seperti bintang yang bergerak di antara awan.
“Itu salah satu pesawat dari skuadron kami.”
Jessica memandang jet itu hingga menghilang dari pandangan.
“Lalu besok…”
“Iya.”
“Mungkin aku yang berada di sana.”
Jessica menggenggam tangan Ethan lebih erat.
“Kalau begitu aku akan menunggumu.”
Ethan tersenyum kecil.
“Meski lama?”
“Meski lama.”
“Meski tanpa kabar?”
Jessica mengangguk.
“Meski tanpa kabar.”
Tatapan Ethan berubah lembut.
“Jessica…”
“Hm?”
“Aku mencintaimu.”
Dunia seakan berhenti berputar.
Suara hujan.
Suara kendaraan.
Bahkan suara angin malam.
Semuanya menghilang.
Yang tersisa hanyalah kalimat itu.
Kalimat yang selama ini tidak pernah mereka ucapkan.
Jessica menatap pria di depannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku juga mencintaimu.”
Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi keraguan di antara mereka.
Tidak ada lagi jarak Jakarta dan Singapura.
Tidak ada lagi perbedaan kewarganegaraan.
Yang ada hanyalah dua orang yang memilih untuk saling mencintai meski mengetahui risiko yang menanti di depan.
Keesokan paginya.
Pangkalan Udara Paya Lebar dipenuhi aktivitas sejak matahari belum terbit.
Para teknisi memeriksa pesawat.
Personel darat sibuk menyiapkan perlengkapan.
Dan di tengah semua kesibukan itu, Ethan berdiri di samping jet tempurnya sambil mengenakan helmet penerbangan.
Ryan menghampirinya.
“Gadis Indonesia itu datang mengantarmu?”
Ethan menggeleng.
“Aku tidak ingin dia melihat bagian ini.”
Ryan memandang landasan.
“Takut dia khawatir?”
Ethan tersenyum tipis.
“Aku takut dia melihat kemungkinan yang selalu kami hindari.”
Beberapa menit kemudian, suara komandan terdengar melalui radio.
“All pilots, prepare for departure.”
Ethan menaiki tangga menuju kokpit.
Sebelum menutup kanopi, ia mengeluarkan ponselnya untuk terakhir kali.
Satu pesan terkirim kepada Jessica.
“Aku akan pulang.”
Jessica membaca pesan itu beberapa menit kemudian.
Ia tersenyum sambil memegang gantungan pesawat kecil di tangannya.
Namun pada saat yang sama, jauh di langit yang belum sepenuhnya terang…
Empat jet tempur mulai meninggalkan landasan satu per satu.
Mesin mereka menggelegar membelah udara pagi Singapura.
Dan tanpa diketahui siapa pun…
Penerbangan pagi itu adalah awal dari badai yang akan menguji setiap janji yang pernah mereka ucapkan.
Karena terkadang…
Langit tidak mengambil seseorang dengan suara petir atau hujan.
Langit hanya meminjam mereka sedikit lebih lama daripada yang seharusnya.