Sudah enam bulan sejak Jessica dan Ethan saling mengenal.
Meski dipisahkan oleh negara dan jadwal yang tidak menentu, hubungan mereka justru semakin dekat. Video call sebelum tidur, pesan singkat di pagi hari, hingga foto langit yang dikirim Ethan dari pangkalan udara telah menjadi bagian dari kehidupan Jessica.
Namun, tidak semua orang menyambut hubungan mereka dengan baik.
Malam itu, Jessica sedang melakukan panggilan video dengan ibunya di Bandung.
“Jadi, kamu benar-benar dekat dengan pilot dari Singapura itu?” tanya sang ibu.
Jessica mengangguk pelan.
“Iya, Bu.”
Ibunya terdiam beberapa saat.
“Dia orang baik?”
Jessica tersenyum.
“Sangat baik.”
“Lalu kenapa Ibu merasa kamu terdengar ragu?”
Jessica menundukkan pandangannya.
“Bukan aku yang ragu.”
“Lalu siapa?”
Jessica menghela napas panjang.
“Keluarganya.”
Seminggu sebelumnya, Ethan akhirnya memberanikan diri menceritakan tentang Jessica kepada keluarganya.
Awalnya semuanya berjalan baik.
Sampai ibunya mengajukan satu pertanyaan sederhana.
“Dari mana asalnya?”
“Indonesia.”
Ruangan langsung menjadi sunyi.
Ayah Ethan, Lim Wei Khang, meletakkan cangkir tehnya perlahan.
“Singapura tidak kekurangan perempuan baik.”
Ethan mengerutkan kening.
“Apa maksud Ayah?”
“Kalian berasal dari negara yang berbeda.”
Ibunya menambahkan dengan hati-hati.
“Perbedaan budaya tidak selalu mudah dijalani.”
“Itu bukan masalah.”
Ayahnya menggeleng.
“Kamu seorang perwira RSAF.”
“Kariermu masih panjang.”
“Hubungan seperti ini hanya akan menyulitkan masa depanmu.”
Ethan menatap kedua orang tuanya dengan tidak percaya.
“Aku tidak meminta izin untuk meninggalkan pekerjaanku.”
“Aku hanya memberitahu bahwa aku mencintainya.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Namun, jawaban ayahnya jauh lebih menyakitkan.
“Kamu bahkan belum mengenalnya cukup lama untuk menyebut itu cinta.”
Sejak percakapan itu, Ethan menjadi lebih pendiam.
Jessica menyadarinya.
Malam itu, saat video call berlangsung, Jessica akhirnya bertanya.
“Ethan.”
“Hm?”
“Ada apa?”
Ethan mencoba tersenyum.
“Tidak ada.”
“Kamu buruk dalam berbohong.”
Ethan tertawa kecil.
Jessica mengenalnya cukup baik sekarang.
Ia tahu kapan pria itu menyembunyikan sesuatu.
Setelah beberapa saat terdiam, Ethan akhirnya berbicara.
“Keluargaku tidak setuju.”
Jessica terdiam.
“Mereka tidak mengenalku.”
“Aku tahu.”
“Mereka hanya khawatir.”
Jessica mencoba tersenyum meski dadanya terasa sesak.
“Karena aku orang Indonesia?”
Ethan tidak langsung menjawab.
Keheningan itu sudah menjadi jawaban.
Jessica menundukkan pandangannya.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan jarak di antara mereka.
Bukan jarak Jakarta dan Singapura.
Melainkan jarak yang tercipta karena perbedaan kewarganegaraan, budaya, dan harapan keluarga.
“Apa kamu menyesal mengenalku?” tanya Jessica pelan.
Ethan langsung mengangkat wajahnya.
“Tidak pernah.”
“Sedikit pun tidak.”
Jessica memandang layar ponselnya.
“Lalu bagaimana kalau mereka terus menolak?”
Ethan menarik napas panjang.
“Aku tidak tahu.”
“Tapi aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aku tidak akan menyerah begitu saja.”
Beberapa hari kemudian, Jessica mendapat kabar bahwa perusahaan tempatnya bekerja akan mengirimnya ke Singapura untuk menghadiri sebuah konferensi desain selama tiga hari.
Hal pertama yang ia lakukan adalah memberi tahu Ethan.
Balasan pria itu datang hanya beberapa detik kemudian.
“Benarkah?”
“Aku akan menjemputmu lagi.”
Jessica tersenyum.
Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Ada beban yang tidak terlihat di antara mereka.
Hari pertama di Singapura berjalan dengan lancar.
Setelah konferensi selesai, Ethan menjemput Jessica dan mengajaknya makan malam.
Namun, di tengah perjalanan, Ethan menerima telepon.
Ekspresinya langsung berubah serius.
“Aku harus ke rumah.”
Jessica mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Ethan terlihat ragu.
“Maaf.”
“Tidak perlu minta maaf.”
“Ini tentang keluargaku.”
Jessica tersenyum kecil.
“Aku mengerti.”
Malam itu, suasana di rumah keluarga Lim terasa tegang.
“Kamu masih bertemu dengannya?” tanya ayah Ethan.
“Iya.”
Ayahnya menghela napas panjang.
“Ethan, kamu pewaris satu-satunya keluarga ini.”
“Ayah ingin yang terbaik untukmu.”
“Aku juga ingin yang terbaik untuk diriku sendiri.”
Ayahnya menatapnya tajam.
“Dan menurutmu dia adalah yang terbaik?”
Ethan tidak ragu sedikit pun.
“Iya.”
Jawaban itu membuat ibunya terdiam.
Untuk pertama kalinya, mereka melihat kesungguhan di mata putra mereka.
Di hotelnya, Jessica berdiri di depan jendela sambil memandangi gemerlap kota Singapura.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Ethan.
“Maaf karena membuatmu menunggu.”
Jessica tersenyum kecil.
“Aku sudah terbiasa menunggu seorang pilot.”
Balasan Ethan datang beberapa saat kemudian.
“Aku harap kamu tidak pernah lelah menunggu.”
Jessica membaca pesan itu berulang kali.
Kemudian ia mengetik perlahan.
“Aku tidak takut menunggu.”
“Aku hanya takut jika suatu hari nanti kamu berhenti kembali.”
Beberapa menit berlalu sebelum Ethan membalas.
“Aku pernah berjanji padamu.”
“Sejauh apa pun aku terbang, aku akan selalu mencari jalan pulang.”
Jessica memejamkan mata sambil tersenyum.
Ia ingin mempercayai janji itu.
Dengan seluruh hatinya.
Namun, entah mengapa, malam itu langit Singapura terlihat berbeda.
Lebih gelap.
Lebih sunyi.
Seolah menyimpan sesuatu yang belum siap untuk mereka hadapi.
Dan tanpa mereka sadari, ujian terbesar dalam hubungan mereka bukanlah keluarga Ethan, bukan pula perbedaan negara.
Melainkan sebuah misi yang akan mengubah hidup mereka untuk selamanya.