Pagi itu, Jessica terbangun lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela apartemen di Singapura membuatnya tersenyum mengingat pertemuannya dengan Ethan sehari sebelumnya.
Namun, senyum itu perlahan memudar saat mengingat alasan Ethan harus meninggalkannya lebih cepat.
Tugas.
Bagi Ethan, tugas selalu menjadi prioritas.
Jessica mengambil ponselnya. Belum ada pesan dari Ethan sejak mereka berpisah semalam.
“Mungkin dia sedang sibuk,” pikirnya mencoba menenangkan diri.
Ia memutuskan menikmati hari terakhirnya di Singapura dengan berjalan-jalan sebelum kembali ke Jakarta keesokan harinya.
⸻
Sementara itu, di Pangkalan Udara Paya Lebar, suasana jauh berbeda.
Seluruh pilot berkumpul di ruang briefing dengan wajah serius.
Di layar besar terpampang peta wilayah udara beserta jalur latihan gabungan yang akan dilakukan selama beberapa hari ke depan.
Komandan skuadron berdiri di depan ruangan.
“Latihan ini melibatkan beberapa negara. Tidak boleh ada kesalahan komunikasi maupun prosedur.”
“Yes, Sir.”
Suara para pilot bergema serempak.
Ethan memperhatikan setiap penjelasan dengan fokus.
Sebagai salah satu pilot senior di skuadronnya, ia memahami bahwa latihan seperti ini sama pentingnya dengan operasi nyata.
Setelah briefing selesai, Ryan Tan menghampirinya.
“Pacarmu sudah pulang?”
Ethan langsung menggeleng.
“Dia bukan pacarku.”
Ryan tertawa.
“Belum.”
Ethan hanya tersenyum tipis.
“Memangnya ada bedanya?”
“Tentu.”
Ryan menyilangkan tangan.
“Kalau bukan pacarmu, kenapa kemarin kamu langsung meminta cuti begitu tahu dia datang?”
Ethan terdiam.
Ia memang tidak bisa membantah.
Sejak mengenal Jessica, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Biasanya ia tidak pernah memikirkan kehidupan di luar pangkalan.
Kini, setiap kali pesawat mendarat, orang pertama yang ingin ia hubungi adalah Jessica.
⸻
Sore harinya, Jessica mengirim pesan.
“Aku akan pulang besok pagi.”
Beberapa menit kemudian Ethan membalas.
“Aku tahu.”
“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu ke bandara.”
Jessica sudah menduga jawaban itu.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti.”
Balasan berikutnya datang lebih cepat.
“Tapi… kalau malam ini kamu masih punya waktu, mau bertemu sebentar?”
Jessica tersenyum.
“Di mana?”
“Tempat pertama kita bertemu.”
⸻
Menjelang matahari terbenam, Jessica kembali menginjakkan kaki di Changi Exhibition Centre.
Pameran dirgantara memang sudah lama berakhir.
Area itu kini jauh lebih sepi.
Hanya terdengar suara angin dan sesekali pesawat yang melintas tinggi di langit.
Jessica berdiri sambil memandangi landasan dari kejauhan.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter darinya.
Ethan keluar sambil membawa dua cangkir kopi hangat.
“Maaf membuatmu menunggu.”
Jessica menerima kopi itu.
“Terima kasih.”
Mereka berjalan perlahan menyusuri pagar pembatas landasan.
Suasana terasa begitu tenang.
“Ternyata tempat ini jauh lebih sunyi.”
Jessica memecah keheningan.
Ethan mengangguk.
“Makanya aku suka datang ke sini.”
“Kenapa?”
“Karena di sini aku selalu ingat hari ketika kita bertemu.”
Jessica tersenyum kecil.
“Aku juga.”
Beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh dari kejauhan.
Sebuah jet tempur melintas di langit.
Jessica mengikuti arah pesawat itu hingga menghilang di balik awan.
“Ethan.”
“Hm?”
“Setiap kali melihat pesawat, apa yang kamu pikirkan?”
Ethan terdiam cukup lama.
“Lepas landas itu mudah.”
Jessica menatapnya.
“Yang sulit adalah memastikan bisa kembali.”
Kalimat itu membuat Jessica menggenggam cangkir kopinya lebih erat.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari besarnya risiko yang dihadapi Ethan setiap hari.
“Apa… pernah ada temanmu yang tidak kembali?”
Pertanyaan itu membuat Ethan menarik napas panjang.
“Ada.”
Jessica membeku.
“Beberapa tahun lalu.”
“Saat latihan.”
“Mereka tidak sempat pulang.”
Suasana mendadak sunyi.
Jessica tidak tahu harus berkata apa.
Ia hanya bisa menatap wajah Ethan yang kini terlihat lebih muram.
“Itulah alasan keluargaku selalu khawatir setiap kali aku bertugas.”
Ethan tersenyum tipis.
“Tapi kalau semua orang takut, siapa yang akan menjaga langit kami?”
Jessica perlahan mengangguk.
Kini ia mengerti.
Di balik senyum tenang Ethan, tersimpan beban yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
⸻
Hari mulai gelap.
Lampu-lampu di sekitar pangkalan mulai menyala.
Ethan berhenti melangkah.
“Jessica.”
“Iya?”
“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”
Jessica memandangnya penuh penasaran.
“Kalau suatu hari nanti…”
Ethan menghela napas pelan.
“…aku harus menghilang selama berminggu-minggu karena tugas, apakah kamu akan menungguku?”
Pertanyaan itu membuat Jessica terdiam.
Ia tidak pernah membayangkan akan ditanya hal seperti itu.
Namun, jawaban di hatinya sudah sangat jelas.
“Aku akan menunggu.”
Ethan menatap matanya.
“Bagaimana kalau aku tidak bisa memberi kabar?”
“Aku tetap menunggu.”
“Bagaimana kalau semua orang mengatakan aku tidak akan kembali?”
Jessica tersenyum lembut.
“Selama aku belum mendengar langsung darimu, aku akan tetap percaya.”
Untuk pertama kalinya sejak menjadi pilot tempur, Ethan merasakan dadanya menghangat.
Tanpa sadar, ia menggenggam tangan Jessica.
Sentuhan itu lembut, tetapi cukup untuk membuat jantung Jessica berdegup lebih cepat.
Mereka saling menatap tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Langit senja perlahan berubah menjadi malam.
Suara pesawat yang melintas seolah menjadi saksi bisu atas janji yang baru saja terucap.
Sebelum Jessica pulang, Ethan melepaskan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk pesawat dari ritsleting tasnya.
“Aku ingin kamu menyimpannya.”
Jessica menerimanya dengan hati-hati.
“Kenapa memberikannya kepadaku?”
Ethan tersenyum.
“Supaya saat kamu merindukanku, kamu ingat satu hal.”
“Apa itu?”
Ia menatap Jessica dengan penuh ketulusan.
“Sejauh apa pun aku terbang, aku akan selalu berusaha mencari jalan untuk pulang kepadamu.”
Malam itu, Jessica memeluk gantungan kunci kecil itu erat di dalam genggamannya.
Ia belum menyadari bahwa janji sederhana tersebut kelak akan menjadi satu-satunya harapan yang terus ia pegang ketika langit benar-benar membawa Ethan pergi tanpa kabar.