Sudah hampir tiga bulan sejak pertemuan pertama Jessica Aurellia Pratama dan Ethan Lim di Singapore Airshow. Waktu berlalu begitu cepat, tetapi hubungan mereka justru semakin dekat. Meski dipisahkan oleh laut dan dua negara, tidak ada satu hari pun yang berlalu tanpa pesan atau panggilan telepon.
Jessica mulai terbiasa mengawali pagi dengan ucapan selamat pagi dari Ethan.
Begitu pula Ethan, yang selalu menyempatkan diri mengirim foto langit sebelum memulai tugas.
Hari itu, ponsel Jessica kembali bergetar.
“Aku mendapat cuti tiga hari minggu depan.”
Jessica yang sedang menikmati kopi langsung tersenyum.
“Wah, akhirnya! Mau istirahat di rumah?”
Balasan Ethan datang beberapa detik kemudian.
“Tidak.”
“Aku ingin bertemu seseorang.”
Jantung Jessica berdetak lebih cepat.
“Siapa?”
Beberapa saat layar ponselnya kembali menyala.
“Seorang perempuan yang sangat menyukai langit.”
Jessica menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Pipinya memanas.
“Jadi… kamu mau datang ke Jakarta?”
“Bukan.”
“Kalau begitu?”
“Bagaimana kalau kamu datang ke Singapura?”
Jessica terdiam.
Ia memang sudah beberapa kali ingin kembali ke Singapura, tetapi selalu menunda karena pekerjaan.
“Aku akan menjemputmu di bandara.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, berhasil membuat Jessica mengangguk sendiri tanpa berpikir panjang.
“Baik.”
⸻
Seminggu kemudian.
Pesawat yang membawa Jessica mendarat dengan mulus di Bandara Changi.
Begitu keluar dari area kedatangan, matanya langsung mencari sosok yang sudah dikenalnya.
Tidak butuh waktu lama.
Di antara kerumunan penjemput, Ethan berdiri mengenakan kemeja putih sederhana dan celana hitam. Penampilannya jauh berbeda dari saat mengenakan flight suit.
Namun, senyum hangat itu tetap sama.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar.
Ethan melangkah lebih dulu.
“Selamat datang kembali di Singapura.”
Jessica tersenyum lebar.
“Terima kasih sudah menjemput.”
“Mana mungkin aku membiarkan tamu istimewa naik taksi sendirian.”
Jessica terkekeh pelan.
“Kamu suka sekali menggoda.”
“Hanya kepada orang tertentu.”
Kalimat itu kembali membuat pipi Jessica memerah.
⸻
Hari itu Ethan mengajak Jessica berjalan-jalan mengelilingi Marina Bay.
Mereka menikmati angin sore sambil berbincang tentang banyak hal.
Jessica baru menyadari bahwa Ethan ternyata cukup humoris.
Ia sering melontarkan candaan ringan yang membuat Jessica tertawa.
“Jadi selama ini kamu sengaja terlihat serius?”
Ethan mengangkat bahu.
“Kalau sedang bertugas, tentu harus serius.”
“Kalau tidak bertugas?”
“Aku juga manusia biasa.”
Jessica mengangguk sambil tersenyum.
Ia merasa semakin mengenal sisi lain Ethan.
Bukan hanya seorang pilot tempur.
Tetapi juga pria yang sederhana, perhatian, dan tidak pernah lupa menanyakan apakah Jessica sudah makan atau belum.
Menjelang sore, mereka duduk di tepi Marina Bay sambil menikmati es krim.
Langit perlahan berubah jingga.
Jessica memandang pantulan cahaya matahari di permukaan air.
“Indah sekali.”
Ethan ikut memandang ke arah yang sama.
“Iya.”
“Tapi menurutku masih kalah indah.”
Jessica menoleh.
“Kalah dari apa?”
Ethan tersenyum kecil.
“Dari senyummu.”
Jessica langsung tertawa malu.
“Kamu ini…”
“Aku serius.”
Jessica menggeleng sambil tertawa.
“Pilot ternyata pandai merayu.”
“Bukan merayu.”
Ethan menatapnya lembut.
“Hanya mengatakan yang sebenarnya.”
Suasana mendadak menjadi hening.
Jessica menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
⸻
Malam harinya, Ethan mengajak Jessica makan malam di sebuah restoran dengan pemandangan kota Singapura.
Lampu-lampu gedung mulai menyala, menciptakan suasana yang hangat.
Di tengah makan malam, ponsel Ethan tiba-tiba berdering.
Ekspresi wajahnya berubah serius.
Ia meminta izin untuk mengangkat telepon.
Jessica memperhatikan dari kejauhan.
Percakapan itu berlangsung singkat.
Namun, wajah Ethan terlihat jauh lebih tegang ketika kembali ke meja.
“Ada apa?” tanya Jessica pelan.
Ethan menghela napas.
“Aku harus kembali ke pangkalan malam ini.”
Jessica terdiam.
“Bukannya cutimu masih besok?”
Ethan mengangguk.
“Tetapi ada perubahan jadwal.”
Jessica mencoba tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Meski begitu, ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
Ethan memandang wajah Jessica beberapa saat.
“Aku benar-benar minta maaf.”
Jessica menggeleng.
“Kamu tidak perlu meminta maaf.”
“Itu pekerjaanmu.”
Ethan tersenyum tipis.
“Terima kasih sudah mengerti.”
⸻
Dalam perjalanan menuju apartemen Jessica, suasana mobil dipenuhi keheningan.
Bukan karena mereka kehabisan topik.
Melainkan karena keduanya sama-sama enggan mengakhiri hari itu.
Sesampainya di depan apartemen, Ethan mematikan mesin mobil.
“Jessica.”
“Iya?”
“Aku senang kamu datang.”
Jessica tersenyum.
“Aku juga.”
Ethan terdiam beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan keberanian.
“Aku tidak tahu hubungan ini akan membawa kita ke mana.”
“Tapi setiap kali berbicara denganmu, aku selalu merasa ingin pulang lebih cepat.”
Jessica menatap Ethan.
Kalimat itu terdengar begitu tulus.
Ia menggenggam tali tasnya erat.
“Aku juga merasa begitu.”
Senyum Ethan mengembang.
Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, tidak ada lagi keraguan di antara keduanya.
Mereka mungkin belum mengucapkan kata cinta.
Namun, hati mereka perlahan mulai memilih arah yang sama.
Saat Jessica melangkah memasuki apartemen, ia menoleh sekali lagi.
Ethan masih berdiri di samping mobilnya, memperhatikannya hingga pintu tertutup.
Beberapa menit kemudian, mobil itu perlahan melaju menuju pangkalan udara.
Jessica memandang langit malam dari balik jendela.
Entah mengapa, ada firasat yang sulit dijelaskan.
Ia baru saja menikmati hari paling membahagiakan bersama Ethan.
Namun, ia juga merasakan bahwa pertemuan kedua mereka hanyalah awal dari ujian yang jauh lebih besar.
Karena mencintai seorang penerbang berarti harus belajar menerima bahwa setiap panggilan tugas bisa mengubah segalanya dalam sekejap.