Sampai matahari tenggelam, nama itu masih menempel di kepala Ethan.
Kolonel Adrian Koh.
Ia duduk sendirian di ruang istirahat pilot di Pangkalan Udara Paya Lebar. Di luar jendela, deretan jet tempur berbaris diam di bawah lampu hanggar. Seorang teknisi lewat sambil mendorong troli perkakas.
Ethan memperhatikan orang itu sampai menghilang.
Sejak melihat rekaman CCTV, ia tidak lagi bisa memandang seragam teknisi dengan cara yang sama.
Ryan masuk membawa dua kaleng kopi dari mesin di lorong.
“Kamu belum pulang.”
“Belum.”
Ryan meletakkan satu kaleng di depannya.
“Aku sudah memeriksa sekali lagi. Koh memimpin unit itu tiga tahun sebelum dibubarkan. Setelah itu kariernya justru naik.”
“Aneh.”
“Sangat aneh.”
Ethan memutar kaleng kopi di tangannya tanpa membukanya.
“Dia orang pertama yang datang ke rumah sakit, Ryan.”
“Aku ingat.”
“Dia menepuk bahuku. Dia bilang anggap saja ini takdir.”
Ryan tidak menjawab. Ia hanya duduk di seberang Ethan, memandangi lantai.
“Claire bilang ada atasan yang menyuruhnya menghancurkan berkas itu,” kata Ethan pelan.
Ryan mengangkat kepala.
“Kamu pikir…”
“Aku tidak tahu. Tapi aku harus bertanya kepadanya.”
Ethan mengeluarkan ponsel.
Jarinya sempat berhenti di atas nama Claire. Sudah lama ia tidak menghubungi perempuan itu lebih dulu. Terakhir kali, di taman yang sama, ia datang membawa amarah.
Ia mengetik.
“Kita perlu bicara malam ini. Taman dekat pangkalan. Jam sembilan.”
Balasan datang kurang dari satu menit.
“Aku datang.”
Taman kecil dekat Pangkalan Udara Paya Lebar masih sama seperti ketika mereka masih kadet.
Bangku kayu di bawah pohon trembesi.
Lampu jalan berwarna kuning.
Bau rumput basah setelah hujan sore.
Dulu mereka sering duduk di sini sambil mengeluhkan instruktur yang galak dan menertawakan kesalahan masing-masing saat latihan terbang. Sekarang tempat itu terasa terlalu sunyi.
Claire sudah menunggu di bangku paling ujung.
Ia masih mengenakan blazer kantornya. Kedua tangannya meremas tali tas begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat.
Ketika melihat Ethan, ia berdiri.
“Ada apa?”
Ethan tidak duduk.
“Ryan menemukan siapa teknisi di rekaman itu.”
Wajah Claire langsung menegang.
“Siapa?”
“Anggota pasukan khusus intelijen udara. Unit yang dibubarkan lima tahun lalu.”
Claire menelan ludah.
“Dan salah satu komandannya sekarang menjadi penasihat pertahanan,” lanjut Ethan. “Kolonel Adrian Koh.”
Claire memejamkan mata.
Hanya sebentar.
Namun bagi Ethan, gerakan kecil itu sudah lebih jelas daripada jawaban apa pun.
“Claire.”
Perempuan itu kembali duduk. Bahunya turun seolah seluruh tenaganya baru saja habis.
“Kamu bilang ada atasan yang menyuruhmu menghancurkan berkas investigasi itu,” kata Ethan. “Siapa dia?”
Claire menatap jalan setapak yang kosong.
“Kamu sudah tahu jawabannya.”
“Aku ingin mendengarnya darimu.”
Sebuah mobil melintas di jalan di belakang taman. Lampunya menyapu wajah Claire sebentar, lalu lenyap.
“Kolonel Adrian Koh,” bisiknya.
Ethan akhirnya duduk di sisi lain bangku.
Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.
“Aku bekerja di bawahnya sejak tahun lalu,” kata Claire. “Waktu kamu hilang, dia yang menempatkanku di bagian administrasi investigasi. Katanya karena aku mengenalmu, aku akan bekerja lebih teliti.”
Ia tertawa kecil. Tawa yang pahit.
“Ternyata dia hanya ingin tahu seberapa banyak yang aku lihat.”
“Kapan dia menyuruhmu menghancurkannya?”
“Sehari setelah berkas itu ditutup. Dia memanggilku ke ruangannya, menutup pintu, lalu bilang dokumen itu bisa membuat panik seluruh angkatan udara.”
“Dan kamu menyimpan salinan.”
“Ya.”
“Dia tahu?”
Claire menggeleng pelan.
“Kemarin pagi dia bertanya lagi. Apakah semuanya sudah kumusnahkan.”
Ethan menunggu.
“Aku bilang sudah.”
Suara Claire bergetar.
“Lalu dia tersenyum, Ethan. Dia bilang kalau aku berbohong, bukan hanya karierku yang hancur.”
Ia berhenti.
Tangannya kembali meremas tali tas.
“Keluargaku juga.”
Ethan merasakan rahangnya mengeras.
“Ibumu?”
“Ibu dan Emily.”
Emily. Adik perempuan Claire. Ethan masih ingat gadis kecil berkacamata yang dulu datang ke upacara kelulusan akademi membawa balon perak dan menangis karena balonnya terlepas.
Sekarang gadis itu pasti sudah kuliah.
“Dia tahu alamat rumah mereka,” lanjut Claire. “Dia menyebut nama jalan, Ethan. Nama jalan rumah ibuku. Aku tidak pernah memberitahunya.”
Air mata Claire jatuh. Ia buru-buru menghapusnya dengan punggung tangan, seolah malu menangis di depan Ethan.
“Sejak itu aku merasa ada yang mengikutiku. Di parkiran. Di stasiun MRT. Mungkin aku hanya paranoid.”
“Kamu tidak paranoid.”
Claire menoleh.
“Mereka juga mengincar Jessica,” kata Ethan.
Wajah Claire memucat.
“Apa maksudmu?”
“Malam setelah kamu memberikan amplop itu, seseorang meneleponku. Suaranya dibuat serak. Dia bilang kalau aku masih ingin Jessica tetap hidup, aku harus berhenti mencari tahu.”
Claire menunduk lama sekali.
“Maaf,” katanya akhirnya. “Kalau aku tidak menyerahkan flash drive itu…”
“Kalau kamu tidak menyerahkannya, aku tidak akan pernah tahu siapa yang mencoba membunuhku.”
Kalimat itu membuat Claire terdiam.
Ethan menarik napas panjang.
“Aku akan menjaga ibumu dan Emily. Aku belum tahu caranya, tapi aku akan menemukan jalannya.”
“Kamu tidak bisa melawan seorang kolonel, Ethan.”
“Aku tidak sendirian.”
Claire menatapnya lama. Lalu ia membuka tas dan mengeluarkan secarik kertas yang dilipat kecil.
“Ini.”
Ethan menerimanya.
“Apa ini?”
“Kode akses arsip lama di pangkalan. Aku melihatnya di catatan kerja saat masih di bagian administrasi. Kode itu membuka indeks unit-unit yang sudah dibubarkan.”
“Termasuk unit Koh?”
“Seharusnya.”
Ethan membuka lipatan kertas itu. Deretan huruf dan angka tertulis dengan tinta biru, tulisan tangan Claire yang rapi seperti dulu saat mereka menyalin catatan navigasi bersama.
“Kenapa kamu memberikannya kepadaku?”
Claire berdiri. Angin malam menggerakkan rambut sebahunya.
“Karena aku sudah lelah takut.”
Ia menatap Ethan.
“Dan karena aku pernah menyakiti Jessica. Aku tidak mau dia terluka lagi karena orang lain.”
Ethan ikut berdiri.
“Claire…”
“Jangan menghubungiku lewat ponsel kantor,” potong Claire. “Kalau perlu, lewat Ryan.”
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan taman dengan langkah cepat. Ethan memperhatikannya sampai sosok itu hilang di balik deretan pohon.
Kertas kecil itu ia simpan di saku dalam jaketnya.
Di mobil, Ethan duduk tanpa menyalakan mesin.
Kata-kata Claire terus berputar.
Dia menyebut nama jalan rumah ibuku.
Kalau Koh bisa menemukan rumah ibu Claire, ia juga bisa menemukan apartemen sewa Jessica. Bahkan mungkin sudah.
Ethan menatap ponselnya.
Ada satu pesan baru.
“Kamu sudah makan?”
Pesan dari Jessica, dikirim satu jam yang lalu.
Ethan menutup mata sebentar.
Jessica masih menanyakan hal yang sama setiap malam, seolah dunia mereka belum berubah. Seolah tidak pernah ada suara serak yang menyebut namanya di telepon.
Ia mengetik balasan.
“Belum. Aku ke tempatmu sekarang. Ada yang harus kuceritakan.”
Ia menyalakan mesin.
Di atas pangkalan, sebuah jet melintas dengan lampu navigasi berkedip merah dan hijau. Dulu, suara itu selalu membuatnya ingin cepat kembali ke kokpit.
Malam ini, suara itu hanya mengingatkannya pada satu hal.
Seseorang pernah mencoba memastikan ia tidak pernah pulang.
Dan orang itu kini mengincar perempuan yang paling ia cintai.