Jessica membuka pintu sebelum Ethan sempat mengetuk.
Ia sudah menunggu di balik jendela sejak membaca pesan itu.
“Kamu pucat sekali.”
“Aku baik.”
“Kamu buruk dalam berbohong, Ethan. Sudah kubilang dari dulu.”
Ethan tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya.
Jessica menariknya masuk, mendudukkannya di sofa kecil, lalu meletakkan sepiring nasi goreng yang sudah dua kali ia hangatkan.
“Makan dulu.”
“Jessica…”
“Makan dulu. Setelah itu baru cerita.”
Ethan menurut.
Jessica duduk di lantai, bersandar pada kaki sofa, menunggu. Di meja kecil di depannya tergeletak kamera, jam tangan Ethan, dan gantungan kunci pesawat yang selalu ia letakkan di sana setiap malam sebelum tidur.
Setelah piring itu kosong, Ethan mulai bercerita.
Tentang telepon Ryan.
Tentang Kolonel Adrian Koh.
Tentang Claire di bangku taman, tentang ibunya dan Emily, tentang nama jalan yang disebut tanpa pernah diberitahu.
Lalu ia mengeluarkan kertas kecil dari saku jaket dan meletakkannya di meja.
“Kode akses arsip lama.”
Jessica tidak menyentuh kertas itu. Ia hanya menatapnya.
“Jadi Claire yang memberikannya?”
“Ya.”
“Kamu percaya padanya?”
Ethan diam sebentar.
“Aku percaya dia ketakutan. Dan orang yang ketakutan biasanya tidak sedang bersandiwara.”
Jessica memeluk lututnya.
Dua minggu lalu, ia tidak ingin mendengar nama Claire sama sekali. Sekarang perempuan itu justru menjadi satu-satunya orang di dalam kantor Koh yang berpihak kepada mereka.
“Kolonel itu,” kata Jessica pelan. “Dia orang yang menjengukmu di rumah sakit, kan? Yang membawa buah dan bicara soal takdir?”
“Ya.”
“Aku bahkan sempat berterima kasih kepadanya.”
Suaranya bergetar di ujung kalimat.
Ethan turun dari sofa dan duduk di lantai di sampingnya.
“Ada satu hal lagi.”
Jessica menoleh.
“Kalau Koh bisa menemukan rumah ibu Claire, dia juga bisa menemukan tempat ini.”
Jessica tidak langsung menjawab. Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan menyibak tirai sedikit.
Jalan di bawah sepi.
Hanya ada deretan mobil yang diparkir di sisi seberang.
Salah satunya, sedan gelap dengan kaca hitam, mesinnya menyala. Asap tipis keluar dari knalpotnya.
“Ethan.”
Ethan sudah berdiri di belakangnya.
“Mobil itu sudah ada di sana sejak sore,” bisik Jessica. “Kupikir menunggu seseorang.”
Mereka berdua memperhatikan sedan itu.
Beberapa detik kemudian lampunya menyala. Mobil itu meluncur pelan meninggalkan jalan, berbelok di tikungan, lalu lenyap.
Jessica melepaskan tirai.
Tangannya dingin.
“Mungkin bukan apa-apa,” katanya.
“Mungkin.”
Tak satu pun dari mereka percaya.
Malam itu Ethan tidak pulang.
Ia tidur di sofa yang terlalu pendek untuk tubuhnya, dengan kaki menjuntai di sandaran. Jessica beberapa kali terbangun dan melihatnya masih terjaga, menatap langit-langit.
Menjelang pukul dua, Jessica keluar kamar membawa selimut.
“Kamu tidak tidur.”
“Sebentar lagi.”
Jessica menyelimutinya, lalu duduk di ujung sofa.
“Kamu pernah bilang yang paling kamu takutkan adalah meninggalkanku sendirian,” katanya.
“Iya.”
“Sekarang aku yang takut. Aku takut kamu menanggung semuanya sendiri.”
Ethan meraih tangannya. Ibu jarinya menyentuh cincin sayap kecil di jari manis kanan Jessica.
“Aku tidak akan menyembunyikan apa pun lagi darimu.”
“Janji?”
“Janji.”
Keesokan paginya, bel apartemen berbunyi pukul delapan.
Jessica membuka pintu dan terkejut.
Mei Lin berdiri di sana dengan tas tangan dan sekotak kue lapis yang masih hangat.
“Auntie?”
“Selamat pagi, Jessica.”
Mei Lin melirik ke dalam. Ethan sedang melipat selimut di sofa dengan rambut berantakan.
“Ethan meneleponku semalam,” kata Mei Lin. “Dia tidak menjelaskan semuanya. Tapi dari suaranya, aku tahu ini bukan urusan kecil.”
Jessica mempersilakannya masuk.
Mei Lin duduk di kursi makan, memandangi apartemen sewa yang kecil itu. Dapur yang sempit. Jendela yang menghadap jalan. Pintu dengan satu kunci yang sudah longgar.
“Kamu tinggal sendiri di sini,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Iya, Auntie.”
“Aku ingin kamu tinggal bersama kami untuk sementara.”
Jessica terdiam.
Ia menoleh kepada Ethan. Pria itu mengangkat kedua tangan.
“Aku belum bilang apa-apa.”
Mei Lin tersenyum kecil.
“Memang bukan Ethan yang meminta. Aku yang meminta.”
Ia meraih tangan Jessica di atas meja.
“Waktu Ethan hilang, kamu datang dari Jakarta dan duduk bersama kami di ruang tunggu itu sampai dia ditemukan. Kamu tidak pergi.”
Matanya berkaca-kaca.
“Sekarang giliran kami. Rumah kami punya kamar tamu yang selalu kosong. Ada pagar. Ada orang di rumah sepanjang hari. Aku tidak bisa tidur kalau membayangkan kamu di sini sendirian.”
Jessica menunduk.
Ia memikirkan sedan gelap semalam. Kunci pintu yang longgar. Pekerjaannya yang bisa ia kerjakan dari mana saja asal ada laptop.
Ia juga memikirkan ibunya di Bandung. Kalau ibunya tahu ia tinggal sendiri sementara seseorang mengawasinya, wanita itu pasti sudah membeli tiket pesawat hari itu juga.
“Baik, Auntie,” katanya akhirnya. “Aku ikut.”
Mei Lin mengembuskan napas lega.
“Terima kasih.”
“Seharusnya aku yang berterima kasih.”
Jessica mengemas barang secukupnya.
Pakaian untuk seminggu. Laptop. Kamera.
Jam tangan Ethan ia masukkan ke saku dalam tas, dibungkus sapu tangan. Gantungan kunci pesawat ia pindahkan ke ritsleting tas, tempatnya dulu tergantung di tas Ethan.
Ethan memperhatikannya.
“Kamu masih menyimpannya.”
“Tentu saja.”
Rumah keluarga Lim berada di kawasan perumahan yang tenang, dengan pagar besi hitam dan pohon kemboja di halaman depan.
Wei Khang sedang duduk di ruang tengah ketika mereka tiba. Kacamata bacanya bertengger di ujung hidung, koran terbuka di pangkuan.
Ia melihat koper kecil di tangan Jessica, lalu menatap istrinya.
“Jessica akan tinggal di sini sementara,” kata Mei Lin.
Wei Khang melipat korannya perlahan.
“Duduklah,” katanya. “Semuanya. Ethan, ceritakan dari awal.”
Ethan bercerita untuk kedua kalinya dalam dua belas jam.
Wei Khang mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya tidak berubah, kecuali ketika nama Kolonel Adrian Koh disebut. Saat itu tangannya yang memegang cangkir teh berhenti di udara.
Setelah Ethan selesai, ruangan itu sunyi lama sekali.
“Kenapa baru sekarang kamu cerita kepada Ayah?” tanya Wei Khang akhirnya.
“Karena Ayah akan menyuruhku berhenti.”
Wei Khang meletakkan cangkirnya.
“Kamu benar. Beberapa bulan lalu, Ayah pasti menyuruhmu berhenti.”
Ia berdiri, berjalan ke lemari kayu di sudut ruangan, dan mengeluarkan buku alamat tua bersampul kulit.
“Tapi beberapa bulan lalu Ayah juga belum pernah duduk tiga belas hari menunggu kabar apakah anak Ayah masih hidup.”
Ia membolak-balik halaman.
“Orang yang mencoba membunuh anakku masih memakai seragam dan duduk di kantor pusat pertahanan. Ayah tidak akan diam.”
Jarinya berhenti di satu nama.
“Samuel Ong.”
“Siapa dia, Ayah?”
“Teman sekolah Ayah. Dulu Brigadier Jenderal. Sekarang pensiun, tapi dia penasihat hukum militer selama dua puluh tahun. Kalau ada orang yang tahu cara menghadapi seorang kolonel tanpa membuat kalian semua dipenjara, orangnya dia.”
Wei Khang mengangkat telepon rumah dan memutar nomor itu.
Semua orang menunggu.
“Samuel. Ini Wei Khang.”
Jeda.
“Ya, sudah lama sekali.”
Jeda lagi. Wajah Wei Khang mengeras.
“Aku butuh bantuanmu. Tentang anakku. Bukan untuk dibicarakan lewat telepon.”
Ia mendengarkan sebentar, lalu mengangguk walaupun lawan bicaranya tidak bisa melihat.
“Baik. Terima kasih, kawan.”
Ia menutup telepon.
“Dia mau bertemu. Lusa, di rumahnya.”
Jessica menatap pria tua itu. Pria yang dulu berkata Singapura tidak kekurangan perempuan baik.
Wei Khang menangkap tatapannya. Ia berdeham, lalu mengalihkan pandangan ke jendela.
“Kamar tamunya di atas,” katanya. “Seprainya baru diganti minggu lalu.”
Malam itu Jessica berdiri di jendela kamar tamu.
Dari sana, ia bisa melihat sebagian langit Singapura di antara atap-atap rumah.
Ponselnya bergetar.
Ethan Lim
“Kamarku tepat di sebelahmu. Kalau takut, ketuk dinding dua kali.”
Jessica tertawa pelan untuk pertama kalinya hari itu.
“Kamu pikir aku anak kecil?”
“Aku pikir kamu perempuan paling berani yang pernah kukenal. Tapi perempuan berani juga boleh mengetuk dinding.”
Jessica menyimpan ponselnya, lalu mengetuk dinding dua kali.
Dari balik dinding, terdengar dua ketukan balasan.