Pesan dari Claire datang lewat Ryan pada sore hari kedua.
Ryan membacakannya di teras belakang rumah keluarga Lim, suaranya pelan supaya tidak terdengar sampai dapur.
“Koh meminta daftar semua akses ke arsip lama selama sebulan terakhir. Dia juga bertanya kapan kode-kode lama terakhir diganti.”
Ethan menatap halaman belakang. Seekor burung gereja melompat di antara pot-pot anggrek milik ibunya.
“Kalau kodenya diganti, kita kehilangan satu-satunya jalan masuk.”
“Dan kalau kita masuk, namanya tercatat,” jawab Ryan. “Nama Claire, maksudku. Kode itu terdaftar di bagian administrasi tempat dia pernah bertugas.”
“Claire sudah tahu risikonya.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin kamu ingat.”
Ethan diam lama.
“Malam ini,” katanya akhirnya.
Ryan mengangguk seolah sudah menduga jawaban itu.
“Jam sebelas. Pergantian jaga di gedung administrasi jam sebelas lewat lima belas. Ada sela sekitar sepuluh menit.”
“Dari mana kamu tahu?”
Ryan menyeringai.
“Lima tahun aku pulang larut dari simulator. Aku hafal kapan penjaga itu pergi membeli kopi.”
Jessica mendengar semuanya dari balik pintu kaca.
Ia tidak bermaksud menguping. Ia hanya ingin membawakan teh. Namun ketika Ethan masuk dan melihat wajahnya, pria itu tahu tidak perlu menjelaskan apa-apa.
“Kamu akan pergi malam ini.”
“Iya.”
Jessica meletakkan nampan di meja.
Ia ingin berkata jangan. Ia ingin berkata biarkan saja Samuel Ong yang mengurus semuanya besok. Tapi ia ingat wajah Claire yang ia bayangkan dari cerita Ethan, ingat nama jalan rumah ibu Claire yang disebut seorang kolonel dengan senyum.
Kalau kode itu diganti malam ini, mereka mungkin tidak akan pernah tahu siapa teknisi berpin elang perak itu.
“Kirim pesan kepadaku begitu kalian keluar,” katanya. “Apa pun yang terjadi.”
“Aku janji.”
“Dan jangan jadi pahlawan.”
Ethan tersenyum kecil.
“Itu bagian yang paling sulit.”
Pangkalan Udara Paya Lebar pada malam hari terasa seperti kota yang tertidur.
Lampu-lampu landasan menyala redup. Sesekali suara mesin generator terdengar dari arah hanggar. Udara lembap membuat kemeja Ethan menempel di punggungnya.
Mereka masuk lewat gerbang personel dengan kartu identitas masing-masing, seperti malam-malam biasa ketika ada jadwal simulator. Penjaga di pos hanya melirik dan mengangguk.
Gedung administrasi berada di sisi timur, jauh dari hanggar.
Ryan melirik jam tangannya.
“Sebelas lewat dua belas.”
Mereka menunggu di balik tembok parkiran.
Pukul sebelas lewat lima belas, pintu samping gedung terbuka. Seorang penjaga berbadan gemuk keluar, merenggangkan punggung, lalu berjalan santai menuju kantin dua puluh empat jam di ujung jalan.
“Sekarang.”
Lorong lantai dua gelap, hanya diterangi lampu darurat hijau di atas pintu-pintu.
Ruang arsip berada di ujung lorong. Pintunya berat, dengan papan tombol kecil di sampingnya.
Ethan mengeluarkan kertas Claire.
Jarinya sedikit gemetar ketika menekan huruf dan angka satu per satu.
Lampu kecil di papan itu berkedip merah.
Ethan menahan napas.
Lalu berubah hijau.
Klik.
Pintu terbuka.
Ruangan itu dingin dan berbau kertas tua. Rak-rak besi menjulang sampai langit-langit, penuh kotak berkas bernomor. Di sudut, sebuah komputer tua menyala dengan layar biru pucat.
Ryan langsung duduk di depannya.
“Indeksnya di sini. Claire bilang kode yang sama berlaku.”
Ia mengetik. Ethan berdiri di dekat pintu, memperhatikan lorong lewat celah sempit.
Sepi.
Hanya dengung pendingin ruangan.
“Dapat,” bisik Ryan.
Ethan mendekat.
Di layar, sebuah daftar muncul. Di bagian atasnya ada lambang yang sangat ia kenal.
Elang perak dengan sayap terbentang.
Di bawahnya tertulis nama unit itu, tanggal pembentukan, dan tanggal pembubaran lima tahun lalu. Lalu deretan nama anggota, masing-masing dengan pas foto kecil berwarna pudar.
Komandan: Kolonel Adrian Koh.
Ethan merasakan perutnya mengencang.
Ryan menggulir daftar itu pelan. Dua puluh tiga nama. Sebagian besar tidak mereka kenal.
Lalu Ryan berhenti.
Satu baris berbeda dari yang lain.
Nama itu dicoret dengan garis merah tebal, seolah seseorang ingin menghapusnya tetapi tidak berani benar-benar menghilangkannya.
Darren Soh.
Pas fotonya menunjukkan seorang pria muda berwajah tirus dengan rambut cepak.
Ethan mendekatkan wajahnya ke layar.
“Ryan.”
“Aku melihatnya.”
“Itu dia.”
Wajah yang sama dengan pria berpakaian teknisi di rekaman CCTV. Wajah yang menoleh ke kamera sebelum layar menjadi hitam.
Ryan mengeluarkan ponsel dan memotret layar. Sekali. Dua kali. Ia menggulir ke halaman berikutnya dan memotret lagi.
Saat itulah bunyi itu terdengar.
Bukan keras.
Hanya bunyi bip pendek dari papan tombol di samping pintu.
Lalu lampu merah di langit-langit lorong mulai berputar.
Dan alarm meraung memenuhi seluruh gedung.
“Keluar!”
Ryan mencabut kabel monitor, membuat layar padam. Ethan sudah membuka pintu.
Dari ujung lorong, terdengar langkah berlari. Lalu suara laki-laki berteriak.
“Siapa di sana?”
Cahaya senter menyapu dinding.
Ethan menarik Ryan ke arah berlawanan, menuju pintu tangga darurat yang setengah terbuka.
Mereka berlari menuruni tangga, melompati dua anak tangga sekaligus. Bunyi alarm memantul di dinding beton, membuat telinga berdengung.
Di lantai dasar, pintu darurat terkunci.
Ryan menendang palang besinya.
Sekali.
Tidak bergerak.
Dari atas, langkah kaki semakin dekat.
“Berhenti!”
Ethan mendorong palang itu dengan bahunya yang belum benar-benar pulih. Rasa nyeri menjalar sampai ke leher.
Pintu terbuka dengan bunyi derit keras.
Udara malam menyambut mereka.
Mereka berlari menyusuri dinding gedung, melewati deretan tong sampah, lalu berjongkok di balik pagar tanaman tepat ketika dua penjaga keluar dari pintu yang sama.
Senter menyapu rumput.
Ethan bisa mendengar napasnya sendiri. Ryan di sebelahnya menempelkan ponsel ke dada, seolah benda itu bisa ikut bersuara.
“Lihat sisi parkiran!”
Salah satu penjaga berlari menjauh.
Penjaga lainnya berdiri hanya beberapa meter dari pagar tanaman. Ethan bisa melihat sepatunya yang mengilap di bawah cahaya lampu.
Satu detik.
Dua detik.
Radio di bahu penjaga itu berbunyi. Seseorang memanggil dari pos depan.
Penjaga itu mengumpat pelan, lalu berlari ke arah gerbang.
Ethan dan Ryan tidak bergerak sampai langkahnya tak lagi terdengar.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah berada di mobil Ryan di luar pagar pangkalan.
Tak satu pun bicara.
Ryan memegang kemudi dengan kedua tangan, menatap lurus ke depan. Ethan memijat bahunya.
Akhirnya Ryan tertawa. Tawa pendek dan gugup.
“Aku tidak pernah lari secepat itu sejak tes kebugaran tahunan.”
“Kamu hampir gagal tes kebugaran tahun lalu.”
“Justru itu.”
Ethan ikut tertawa, lalu tawanya berhenti.
Ryan membuka galeri ponselnya. Foto daftar itu ada di sana. Sedikit miring, sedikit buram di tepinya.
Tapi nama itu terbaca jelas.
Darren Soh.
Dengan garis merah melintang.
Ethan mengeluarkan ponselnya sendiri dan mengetik.
“Kami sudah keluar. Kami baik-baik saja. Kami menemukannya.”
Balasan Jessica datang bahkan sebelum ia sempat meletakkan ponsel.
“Pulanglah. Aku menunggu di teras.”
Ethan menyandarkan kepalanya ke jendela mobil.
Di langit, awan menutupi bulan. Di belakang mereka, lampu merah di atap gedung administrasi masih berputar.
Siapa pun yang memeriksa alarm itu besok pagi akan menemukan satu hal.
Kode milik bagian administrasi investigasi telah dipakai pukul sebelas lewat delapan belas malam.
Dan Ethan tahu, kode itu akan membawa seseorang langsung ke nama Claire.