Rumah Samuel Ong berada di ujung jalan kecil di kawasan Bukit Timah, tersembunyi di balik pohon-pohon mangga yang rimbun.
Rumahnya tua. Catnya putih kusam, jendelanya berkisi kayu, dan di teras depan tergantung sangkar burung kosong yang berayun pelan tertiup angin.
Wei Khang menekan bel.
Pintu dibuka oleh seorang pria berambut putih seluruhnya, bertubuh kurus tetapi tegak, dengan tongkat kayu di tangan kiri. Matanya kecil dan tajam, seperti mata orang yang sudah terlalu sering mendengar kebohongan.
“Wei Khang.”
“Samuel.”
Kedua pria tua itu saling menatap sebentar, lalu berjabat tangan lama sekali.
“Kamu tambah gemuk,” kata Samuel.
“Kamu tambah kurus.”
“Itu namanya pensiun yang sehat.”
Samuel menoleh kepada Ethan dan Ryan.
“Jadi ini anakmu yang jatuh dari langit.”
“Ethan Lim, Sir.”
“Jangan panggil aku Sir. Aku sudah lama tidak memakai seragam. Panggil Samuel, atau Uncle, terserah.”
Ia menatap Ryan.
“Dan kamu?”
“Ryan Tan. Rekan satu skuadron Ethan.”
“Yang ikut masuk ke arsip semalam?”
Ryan dan Ethan saling berpandangan.
Samuel tertawa kering.
“Wajah kalian berdua seperti kadet yang ketahuan memanjat pagar asrama. Masuk.”
Ruang baca Samuel dipenuhi buku sampai ke langit-langit. Buku hukum militer, sejarah perang, kumpulan putusan pengadilan yang sampulnya sudah pudar. Di meja kayu besar di tengah ruangan, sebuah teko teh mengepul.
Samuel duduk di kursi berlengan dan menyandarkan tongkatnya.
“Ceritakan.”
Ethan bercerita sejak awal.
Kecelakaan.
Pulau kecil.
Amplop dari Claire.
Rekaman teknisi berpin elang perak.
Telepon bersuara serak.
Pengakuan Claire di taman.
Lalu Ryan menyerahkan ponselnya.
Samuel memakai kacamata dan memperbesar foto daftar itu dengan dua jari. Lama ia memandanginya tanpa berkata apa-apa.
Jam dinding berdetak.
Di luar, burung-burung berkicau di pohon mangga.
“Aku kenal lambang ini,” kata Samuel akhirnya.
Ia meletakkan ponsel di meja.
“Lima tahun lalu, aku duduk di panel yang memeriksa unit ini. Waktu itu aku masih menjadi penasihat hukum di kantor pusat.”
Ethan mencondongkan tubuh.
“Kenapa unit itu dibubarkan?”
Samuel menuang teh ke empat cangkir dengan tangan yang tidak gemetar sedikit pun.
“Karena mereka menjalankan operasi yang tidak pernah diperintahkan siapa pun. Di perairan lepas, di luar jalur latihan resmi. Kami menemukan jam terbang yang tidak tercatat, bahan bakar yang hilang, catatan radio yang kosong pada jam-jam tertentu.”
“Siapa yang memerintahkannya?”
“Komandan unit.”
Samuel mengetuk foto di layar ponsel tepat di atas nama itu.
“Adrian Koh.”
Wei Khang mengepalkan tangan di pangkuannya.
“Kalau begitu kenapa dia tidak dipecat?”
“Karena tidak ada satu pun anggota unit yang mau bersaksi,” jawab Samuel. “Semua mengaku hanya menjalankan latihan rutin. Berkas operasinya hilang dari arsip pada malam sebelum panel memintanya. Kami tidak bisa membuktikan apa pun. Unit dibubarkan, anggotanya dipencar ke bagian lain, dan Koh dipindahkan ke kantor pusat.”
Ia tersenyum pahit.
“Dua tahun kemudian dia menjadi penasihat pertahanan. Kadang sistem memberi hadiah kepada orang yang paling pandai membersihkan jejaknya sendiri.”
Ryan menunjuk nama yang dicoret.
“Bagaimana dengan Darren Soh?”
Samuel memandang garis merah itu.
“Coretan merah di daftar personel berarti dikeluarkan dengan tidak hormat. Aku ingat nama ini samar-samar. Teknisi elektronik, paling muda di unit itu. Dia dikeluarkan beberapa minggu sebelum unit dibubarkan. Alasannya tercatat sebagai pelanggaran disiplin.”
“Pelanggaran apa?”
“Itu yang tidak pernah dijelaskan.”
Ethan menatap foto pria muda berwajah tirus itu.
“Dia teknisi di rekaman CCTV. Aku yakin.”
“Keyakinanmu tidak bisa diserahkan kepada dewan militer, Captain.”
Nada suara Samuel tidak keras, tetapi tegas seperti ketukan palu.
“Lalu kita harus bagaimana?” tanya Wei Khang. “Menunggu sampai dia mencoba membunuh anakku lagi?”
Samuel melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidung.
“Dengarkan aku baik-baik. Kalian bertiga.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Kalau aku membawa ini ke atas sekarang, apa yang akan terjadi? Koh akan bilang foto ini diambil oleh dua pilot yang masuk arsip tanpa hak pada tengah malam. Dia akan bilang Ethan masih trauma setelah kecelakaan dan sedang mencari kambing hitam. Lalu kalian berdua yang diperiksa, bukan dia.”
Ryan menunduk.
“Seorang kolonel tidak jatuh karena foto layar komputer yang diambil sambil kabur dari alarm,” lanjut Samuel. “Dia jatuh karena benda yang bisa dipegang. Saksi yang mau bicara. Rekaman suaranya sendiri.”
“Darren,” kata Ethan pelan.
Samuel mengangguk.
“Darren Soh. Kalau benar dia yang masuk ke dekat pesawatmu, dia tahu siapa yang menyuruhnya. Orang yang dikeluarkan dengan tidak hormat lalu dipakai lagi oleh mantan komandannya biasanya menyimpan sesuatu untuk melindungi dirinya.”
Ia mendorong ponsel itu kembali kepada Ryan.
“Temukan dia. Di mana dia tinggal, di mana dia bekerja, siapa yang membayarnya sekarang. Jangan dekati dia sendirian. Kalau sudah ketemu, kabari aku.”
“Bagaimana dengan Claire?” tanya Ethan. “Kodenya dipakai semalam.”
Wajah Samuel menjadi muram.
“Itu yang paling aku khawatirkan. Suruh dia tenang. Kalau dia dipanggil, dia harus tetap pada ceritanya. Dan berikan dia nomorku.”
Ia menulis sederet angka di secarik kertas dan menyerahkannya kepada Ryan.
Sebelum mereka pergi, Samuel menahan lengan Wei Khang di ambang pintu.
“Anakmu keras kepala.”
“Seperti ayahnya.”
“Seperti ayahnya waktu muda,” koreksi Samuel. “Sebelum ayahnya menjadi orang tua yang terlalu berhati-hati.”
Wei Khang tidak membalas. Namun Ethan melihat sesuatu yang jarang ia lihat di wajah ayahnya.
Senyum kecil yang malu.
Di rumah, Jessica sudah menunggu di teras bersama Mei Lin.
Ia berdiri begitu mobil masuk ke halaman.
“Bagaimana?”
Ethan duduk di anak tangga teras dan menceritakan semuanya. Jessica mendengarkan sambil memegang secangkir teh yang tidak diminumnya.
“Darren Soh,” ulangnya.
“Kamu kenal nama itu?”
“Tidak. Aku hanya ingin mengingatnya.”
Ia memandang langit sore yang mulai jingga.
“Orang yang mungkin memasang sesuatu di pesawatmu ternyata punya nama. Punya wajah. Rasanya aneh. Selama ini dia hanya bayangan di rekaman.”
Ethan meraih tangannya.
“Bayangan itu sekarang bisa dicari.”
Di kantor pusat pertahanan, Kolonel Adrian Koh sedang berdiri di depan jendela ketika pintu ruangannya diketuk.
Pria yang sama yang dulu membawa foto Ethan dan Jessica masuk sambil membawa map tipis.
“Sir. Ada alarm di arsip lama Paya Lebar semalam. Pukul sebelas lewat delapan belas.”
Koh tidak menoleh.
“Siapa?”
“Tidak ada rekaman kamera. Kamera lorong itu sedang diperbaiki. Tapi kode yang dipakai terdaftar di bagian administrasi investigasi.”
Koh akhirnya berbalik.
“Bagian administrasi investigasi,” ulangnya pelan.
“Dan dari catatan gerbang, malam itu Captain Ethan Lim dan Ryan Tan masuk pangkalan pukul sepuluh lewat lima puluh. Keduanya keluar pukul sebelas lewat empat puluh.”
Koh membuka laci mejanya.
Di dalamnya tersimpan potongan foto seorang perempuan berambut panjang yang sedang berpelukan dengan seseorang yang separuh tubuhnya sudah dirobek.
Ia memandang foto itu lama.
“Panggil Claire Wong ke bagian keamanan,” katanya. “Jangan besok. Tiga hari lagi, saat dia mulai merasa tenang. Biar mereka yang bertanya. Aku ingin tahu seberapa pandai dia berbohong.”
“Dan Captain Lim, Sir?”
Koh menutup laci.
“Captain Lim akan kuundang minum teh.”