“Kamu sudah tiga hari tidak keluar rumah,” kata Mei Lin di meja sarapan. “Wajahmu mulai sepucat dinding.”
Jessica tertawa kecil.
“Aku bekerja, Auntie.”
“Bekerja di depan laptop dari pagi sampai malam. Itu bukan hidup. Itu hukuman.”
Mei Lin menuang kopi ke cangkir Jessica.
“Keponakanku menikah bulan depan. Aku butuh baju baru, dan aku butuh seseorang yang punya mata bagus untuk warna. Ethan sama sekali tidak bisa membedakan krem dan putih tulang.”
Ethan, yang sedang mengoles roti, mengangkat kepala.
“Itu fitnah.”
“Kemeja yang kamu pakai ke pesta ulang tahun Ayah warnanya apa?”
“Putih.”
“Krem,” kata Mei Lin dan Wei Khang bersamaan.
Jessica tertawa sampai menutup mulut.
Ethan meletakkan pisau rotinya. Tawanya hilang perlahan.
“Orchard Road ramai di siang hari,” katanya kepada Jessica. “Tapi aku tetap ingin kalian tidak berpisah. Dan kabari aku setiap jam.”
“Setiap jam?”
“Setiap dua jam.”
Jessica menatapnya lama, lalu mengangguk.
“Setiap dua jam.”
Butik yang dituju Mei Lin berada di lantai dasar sebuah pusat perbelanjaan di Orchard Road. Etalasenya dihiasi kain-kain sutra berwarna lembut, dan pramuniaganya menyapa Mei Lin dengan nama.
Jessica membawa kameranya seperti biasa, tergantung di leher dengan lensa panjang yang jarang ia lepas.
“Kamu mau memotret baju?” tanya Mei Lin.
“Kebiasaan, Auntie. Rasanya aneh kalau keluar tanpa kamera.”
Mereka menghabiskan hampir satu jam di dalam butik. Mei Lin mencoba lima kebaya modern, dan Jessica dengan jujur menolak tiga di antaranya.
“Yang hijau zamrud,” katanya akhirnya. “Warnanya membuat wajah Auntie lebih segar.”
Mei Lin memandangi dirinya di cermin.
“Kamu benar.”
Saat Mei Lin masuk ke kamar pas untuk berganti pakaian, Jessica berdiri di dekat etalase.
Di kaca etalase itu, bayangan jalan di luar terpantul samar.
Orang-orang lalu lalang.
Turis dengan tas belanja.
Pekerja kantor yang buru-buru.
Dan seorang pria berdiri di seberang jalan, di dekat halte bus.
Kemeja abu-abu. Kacamata hitam.
Ia tidak menunggu bus. Bus sudah datang dan pergi dua kali, tetapi pria itu tetap di sana, menatap ke arah butik.
Jessica merasakan tengkuknya dingin.
Ia mengingat-ingat.
Tadi, saat mereka turun dari taksi, ada seorang pria berkacamata hitam yang berdiri di dekat pintu masuk pusat perbelanjaan.
Kemeja abu-abu.
Jessica tidak menoleh langsung. Ia mengangkat kameranya seolah memotret manekin di etalase. Lalu, perlahan, ia memutar lensa panjangnya ke arah pantulan kaca.
Terlalu buram.
Ia butuh sudut yang lebih baik.
Mei Lin keluar dari kamar pas membawa kebaya hijau.
“Kita bayar sekarang?”
“Iya, Auntie.”
Suara Jessica terdengar lebih tenang daripada perasaannya.
Saat Mei Lin sibuk di kasir, Jessica berjalan ke pintu butik. Di samping pintu ada pajangan bunga anggrek dalam pot tinggi. Ia berjongkok di sana, memotret anggrek itu dari dekat, seperti turis yang terpesona pada bunga.
Lalu ia mengangkat kamera sedikit lebih tinggi.
Melewati daun-daun anggrek, lensa panjangnya mengarah lurus ke halte bus.
Ia memutar cincin fokus.
Wajah pria itu muncul di jendela bidik, tajam dan jelas.
Rahang persegi. Bekas luka kecil di dagu. Rambut yang dicukur tipis di bagian samping.
Klik.
Di lehernya tergantung seutas tali pengenal berwarna biru tua, dengan tulisan kecil berwarna putih berulang di sepanjang talinya. Kartunya sendiri terselip ke dalam kemeja.
Klik.
Klik.
Pria itu menggerakkan kepala. Kacamatanya kini mengarah tepat ke pintu butik.
Jessica menurunkan kamera, berpura-pura memeriksa hasil foto anggrek.
Ketika ia melirik lagi, pria itu sudah tidak berada di halte.
Ia sedang menyeberang jalan.
Menuju butik.
Jessica berdiri dengan jantung berdegup kencang. Ia berjalan cepat ke kasir dan menggandeng lengan Mei Lin.
“Auntie, kita ke dalam mal sekarang.”
Mei Lin menoleh, terkejut.
“Kenapa?”
“Nanti aku jelaskan. Jangan menoleh ke belakang.”
Mei Lin, entah karena nada suara Jessica atau karena wajahnya yang pucat, tidak bertanya lagi. Ia mengambil tas belanjaan dan mengikuti.
Mereka keluar lewat pintu belakang butik yang langsung terhubung ke koridor pusat perbelanjaan.
Ramai. Musik lembut dari pengeras suara. Bau roti dari toko di ujung koridor.
Jessica berjalan cepat sambil menggenggam tangan Mei Lin. Di pantulan kaca toko-toko yang mereka lewati, ia melihat kemeja abu-abu itu masuk ke koridor yang sama, sekitar dua puluh meter di belakang mereka.
“Dia mengikuti kita, ya?” bisik Mei Lin.
Jadi Mei Lin juga melihatnya.
“Iya.”
Tangan Mei Lin menggenggam lebih erat.
Di depan mereka ada sebuah toko serba ada yang besar, dengan petugas keamanan berseragam di pintu masuk. Jessica menarik Mei Lin ke sana, lalu terus berjalan sampai ke deretan rak paling dalam, di dekat konter layanan pelanggan.
Di sana ia berhenti dan mengeluarkan ponsel.
Tangannya gemetar sampai hampir salah menekan nama.
Ethan menjawab pada dering pertama.
“Jessica?”
“Ada yang mengikuti kami.”
Hening sepersekian detik.
“Di mana kalian?”
“Toko serba ada di lantai dasar, dekat konter layanan pelanggan. Ada petugas keamanan di sini. Auntie bersamaku.”
“Tetap di sana. Jangan keluar. Jangan ke parkiran. Aku dan Ryan berangkat sekarang.”
Suara Ethan terdengar tenang, terlalu tenang. Jessica tahu itu nada yang sama dengan yang ia dengar dari radio pilot di film-film, saat sesuatu benar-benar salah.
“Ethan.”
“Ya?”
“Aku memotretnya.”
Jeda.
“Apa?”
“Wajahnya. Aku memotretnya dengan lensa panjang. Jelas sekali.”
Ethan mengembuskan napas panjang di seberang telepon. Jessica tidak tahu apakah itu napas lega atau ngeri.
“Simpan kameranya baik-baik. Aku dua puluh menit lagi sampai.”
Jessica berdiri di samping konter layanan pelanggan, memeluk kamera di dada.
Mei Lin berdiri di sampingnya, berpura-pura memilih sabun cuci. Tangannya masih memegang lengan Jessica.
“Kamu memotretnya,” bisik Mei Lin. “Di depan butik tadi?”
“Iya.”
“Dia bisa saja melihatmu.”
“Aku tahu.”
Mei Lin memandanginya dengan campuran ngeri dan kagum.
“Ethan akan memarahimu.”
“Mungkin.”
Di ujung lorong, di dekat pintu masuk, kemeja abu-abu itu muncul sebentar.
Pria berkacamata hitam itu memandang ke dalam toko. Kepalanya bergerak pelan dari satu lorong ke lorong lain.
Jessica tidak bergerak.
Petugas keamanan di pintu masuk menoleh ke arah pria itu, lalu bertanya sesuatu.
Pria itu menggeleng, tersenyum tipis, lalu berbalik pergi.
Jessica baru sadar ia menahan napas sejak tadi.
Dua puluh tiga menit kemudian, Ethan muncul di ujung lorong dengan napas terengah, Ryan tepat di belakangnya.
Ethan tidak bicara. Ia langsung memeluk Jessica, kamera dan semuanya, di depan rak sabun cuci.
Lalu ia memeluk ibunya.
“Kalian baik-baik saja?”
“Kami baik,” jawab Mei Lin. “Dan kebayanya sudah dibayar.”
Ryan, yang berdiri di samping mereka, tertawa terkejut.
Jessica melepaskan kamera dari lehernya dan menyerahkannya kepada Ethan.
“Fotonya di sana. Tiga.”
Ethan memandangi kamera itu, lalu memandangi Jessica.
“Kamu memotret orang yang sedang mengikutimu.”
“Iya.”
“Kamu tahu itu berbahaya.”
“Aku tahu.”
Ethan menggeleng pelan. Lalu, di luar dugaan Jessica, ia tersenyum.
“Kamu memang keras kepala.”
“Itu pujian?”
“Hari ini, iya.”