Ruang kerja Wei Khang malam itu berubah menjadi markas kecil.
Laptop Ryan terbuka di meja jati yang biasanya hanya dipakai untuk membaca koran. Kamera Jessica tersambung lewat kabel. Ethan berdiri di belakang kursi Ryan dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran.
Jessica duduk di lengan sofa, memeluk bantal.
“Siap?” tanya Ryan.
“Buka saja.”
Foto pertama muncul di layar.
Pria berkacamata hitam itu berdiri di dekat halte, separuh tubuhnya tertutup bayangan daun anggrek yang buram di tepi bingkai.
“Astaga,” gumam Ryan. “Ini tajam sekali.”
“Lensa panjang,” kata Jessica. “Hadiah ulang tahun dari Ayah, waktu aku masih kuliah. Aku selalu bilang lensa ini terlalu berat. Ternyata hari ini berguna.”
Ryan memperbesar bagian wajah.
Rahang persegi.
Bekas luka kecil di dagu, seperti goresan lama yang sudah memutih.
Rambut tipis di sisi kepala.
Ethan memandangi wajah itu.
“Aku tidak mengenalnya.”
“Aku juga tidak,” kata Ryan. “Tapi tunggu.”
Ia membuka galeri ponselnya, lalu menampilkan foto daftar arsip di layar laptop, berdampingan dengan foto Jessica.
Dua puluh tiga pas foto kecil.
Ryan menggulir pelan, membandingkan satu per satu.
Baris ketujuh.
Ia berhenti.
Pas foto itu menunjukkan seorang pria yang lebih muda, rambutnya lebih panjang, tanpa kacamata. Tapi rahang persegi itu sama. Dan di dagunya, samar di foto yang kecil, ada garis pucat yang sama.
Raymond Goh.
“Dia anggota unit itu,” bisik Jessica.
Ethan tidak berkata apa-apa. Tangannya mencengkeram sandaran kursi lebih keras.
Pria yang mengikuti Jessica dan ibunya di Orchard Road siang tadi pernah berdiri di bawah lambang elang perak yang sama dengan Darren Soh. Di bawah komando orang yang sama.
Ryan membuka foto kedua.
Kali ini fokusnya ada pada leher pria itu. Tali pengenal biru tua dengan tulisan putih kecil yang berulang.
Ryan memperbesar.
Tulisan itu pecah. Ia menyesuaikan ketajaman, memperbesar lagi.
Perlahan huruf-huruf itu terbentuk.
A-E-R-O.
“Aero…” Ryan menyipitkan mata. “Aero-Sentra Services.”
“Apa itu?” tanya Jessica.
Ryan sudah mengetik di mesin pencari.
“Perusahaan swasta. Jasa perawatan dan suku cadang pesawat. Kantornya di kawasan industri dekat Changi.” Ia menggulir. “Situsnya sederhana sekali. Tidak ada nama direktur. Tidak ada daftar klien.”
“Perusahaan perawatan pesawat,” ulang Ethan pelan.
Mereka bertiga saling berpandangan.
Perusahaan yang punya alasan untuk berada di dekat pesawat. Yang punya teknisi. Yang punya akses ke hanggar sebagai kontraktor.
“Jangan simpulkan dulu,” kata Ryan, walaupun wajahnya sendiri sudah pucat. “Aku telepon Samuel.”
Sementara Ryan menelepon di teras, Jessica turun ke dapur.
Mei Lin sedang mengaduk sup di panci besar. Uap jahe dan daun bawang memenuhi ruangan.
“Sudah selesai di atas?”
“Ryan sedang menelepon Uncle Samuel.”
Jessica mengambil pisau dan mulai memotong wortel tanpa diminta. Mei Lin membiarkannya.
Untuk beberapa saat, hanya ada bunyi pisau di talenan dan sup yang mendidih pelan.
“Tadi siang aku takut sekali,” kata Mei Lin tiba-tiba.
Jessica menoleh.
“Tapi kamu tidak terlihat takut. Kamu menggandeng tanganku dan berjalan seperti sudah tahu harus ke mana.”
“Aku juga takut, Auntie. Aku hanya tidak mau Auntie melihatnya.”
Mei Lin tersenyum.
“Kamu sama seperti Ethan.”
Ia mematikan api kompor.
“Dari mana kamu belajar setenang itu?”
Jessica meletakkan pisau.
“Dari Ayah, mungkin. Dulu, kalau ada pesawat lewat di atas rumah, Ayah selalu mengajakku duduk di halaman. Dia bilang setiap pesawat membawa seseorang pulang kepada orang yang menunggu.”
Ia tersenyum kecil.
“Waktu Ayah sakit, aku yang menemaninya ke rumah sakit setiap minggu. Ibu terlalu sedih untuk menyetir. Aku belajar bahwa kalau aku panik, tidak ada yang akan menyetir.”
Mei Lin tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyentuh punggung tangan Jessica sebentar.
Lalu ia memindahkan sup ke mangkuk besar.
“Bawa ini ke meja. Hati-hati, panas.”
Makan malam berlangsung lebih ramai dari biasanya.
Ryan ikut makan, setelah Mei Lin menolak mendengar alasan apa pun untuk pulang dengan perut kosong. Samuel sudah berjanji memeriksa Aero-Sentra Services lewat kenalannya besok pagi.
Di tengah makan malam, Mei Lin menceritakan kejadian siang tadi kepada Wei Khang. Ia menceritakannya dengan cara yang membuat Ryan tertawa dan Wei Khang menghentikan sumpitnya di udara.
“Dan dia berjongkok di samping pot anggrek seperti turis yang baru pertama kali melihat bunga,” kata Mei Lin, “lalu memotret orang itu dari balik daun.”
Wei Khang menatap Jessica.
“Benar?”
“Iya, Uncle.”
“Kalau orang itu melihatmu?”
“Dia mungkin melihat, Uncle. Tapi saat itu aku sudah mendapatkan wajahnya.”
Ethan meletakkan sumpitnya.
“Ayah.”
Semua orang menoleh kepadanya.
“Aku sudah berminggu-minggu mencari wajah orang-orang ini. Aku masuk ke arsip tengah malam dan lari dari alarm seperti pencuri.” Ia tersenyum kecil. “Jessica mendapatkan satu wajah dan satu nama perusahaan hanya dengan pergi membeli kebaya.”
Ryan tertawa sampai hampir tersedak sup.
Ethan menoleh kepada Jessica.
“Aku belum pernah melihat orang seberani dia. Dan aku sudah bertugas dengan pilot-pilot terbaik di negara ini.”
Pipi Jessica memanas. Ia menunduk menatap mangkuknya.
“Kamu berlebihan.”
“Tidak.”
Meja makan menjadi sunyi sebentar.
Wei Khang meletakkan sumpitnya dengan rapi di samping mangkuk. Ia memandang Jessica cukup lama, seolah sedang melihat sesuatu yang selama ini luput dari matanya.
“Terima kasih sudah menjaga istriku hari ini, nak.”
Jessica mengangkat kepala.
Nak.
Kata itu sederhana. Diucapkan dengan suara serak dan agak kaku, seperti seseorang yang belum terbiasa.
Tapi Jessica merasa dadanya penuh.
Ia melihat Mei Lin menahan senyum, dan Ethan memandangi ayahnya dengan wajah yang tidak bisa ia tebak.
“Sama-sama, Uncle,” jawab Jessica pelan.
Wei Khang berdeham dan kembali mengambil sumpitnya.
“Supnya mulai dingin. Makan.”
Malam itu, ketika rumah sudah sepi, Ethan menemukan Jessica duduk di anak tangga teras.
Ia duduk di sampingnya.
“Ayah tidak pernah memanggil siapa pun ‘nak’ selain aku,” katanya. “Bahkan sepupuku.”
“Benarkah?”
“Aku hampir menjatuhkan sumpit.”
Jessica tertawa pelan, lalu menyandarkan kepala di bahu Ethan. Bahu yang sehat, bukan yang masih nyeri.
Di atas mereka, sebuah pesawat komersial melintas tinggi, lampunya berkedip pelan di antara bintang.
“Setiap pesawat membawa seseorang pulang kepada orang yang menunggu,” bisik Jessica.
“Ayahmu yang bilang?”
“Iya.”
Ethan menggenggam tangannya.
“Kalau begitu, aku ingin jadi salah satunya.”