Undangan itu datang lewat surel resmi pukul tujuh pagi.
Singkat dan sopan.
Kolonel Adrian Koh mengundang Captain Ethan Lim untuk berbincang di kantornya pukul sepuluh. Ada hal yang ingin dibicarakan tentang masa depan kariernya.
Ethan membacanya dua kali di meja sarapan, lalu menyerahkan ponselnya kepada Wei Khang.
Ayahnya membaca tanpa ekspresi.
“Minum teh dengan ular,” gumamnya.
Jessica meletakkan cangkir kopinya.
“Kamu harus datang?”
“Kalau aku menolak, dia akan tahu aku curiga.”
“Dia mungkin sudah tahu.”
“Mungkin. Tapi dia belum yakin. Kalau dia sudah yakin, dia tidak akan mengundangku minum teh.”
Ethan menelepon Samuel sebelum berangkat.
Suara pria tua itu terdengar jernih di seberang, seolah ia sudah bangun berjam-jam.
“Dengarkan saja,” kata Samuel. “Jangan membantah. Jangan menuduh. Jangan menyebut nama Darren, Claire, atau arsip. Kalau dia menawarkan sesuatu, jangan tolak dan jangan terima. Bilang kamu perlu berpikir.”
“Kalau dia bertanya soal malam itu?”
“Kamu ke pangkalan untuk simulator. Itu memang kebiasaanmu. Biarkan dia yang bertanya lebih jauh. Semakin banyak dia bertanya, semakin banyak yang dia tunjukkan kepada kita.”
Kantor pusat pertahanan berdiri megah di antara pepohonan, dengan bendera Singapura berkibar di halaman depan.
Seorang ajudan muda mengantar Ethan ke lantai empat.
Ruangan Kolonel Adrian Koh lebih luas daripada yang Ethan bayangkan. Lantainya kayu mengilap. Satu dinding penuh foto: Koh berjabat tangan dengan menteri, Koh di depan jet tempur, Koh dalam upacara kelulusan.
Di rak buku, di antara deretan piala dan plakat, berdiri sebuah patung kecil.
Elang perak dengan sayap terbentang.
Ethan memaksa matanya berpindah.
“Captain Lim.”
Koh berdiri dari balik meja dan menghampirinya dengan tangan terulur. Senyumnya hangat. Genggamannya kuat.
“Silakan duduk. Kamu minum teh atau kopi?”
“Teh, Kolonel. Terima kasih.”
Koh menuang sendiri teh dari teko porselen putih. Gerakannya pelan dan teratur, seperti seseorang yang punya waktu tak terbatas.
“Bagaimana bahumu?”
“Membaik, Kolonel.”
“Bagus. Bagus sekali.”
Koh duduk di kursi di seberangnya, bukan di balik meja. Seolah mereka dua teman lama.
“Aku masih ingat hari mereka membawamu dari pulau itu,” katanya. “Seluruh angkatan udara menahan napas. Tiga belas hari, Captain. Tidak banyak orang yang bisa bertahan selama itu.”
“Saya beruntung.”
“Bukan beruntung. Kuat.”
Koh menyesap tehnya.
“Dan orang kuat tidak boleh disia-siakan.”
Ia mengambil sebuah map biru dari meja dan meletakkannya di depan Ethan.
“Bukalah.”
Ethan membuka map itu.
Surat penugasan. Promosi menjadi Mayor. Penempatan sebagai instruktur penerbangan senior selama satu tahun di pangkalan pelatihan di Amerika Serikat. Rumah dinas. Tunjangan keluarga.
Di bagian bawah, ada ruang kosong untuk tanda tangan.
“Ini kesempatan langka,” kata Koh. “Biasanya butuh lima tahun lagi untuk sampai ke sana. Tapi aku sudah bicara dengan beberapa orang. Mereka setuju pengalamanmu terlalu berharga untuk dihabiskan di simulator.”
Ethan menatap surat itu.
Setahun lalu, ia akan menandatanganinya tanpa membaca dua kali.
“Ini sangat murah hati, Kolonel.”
“Kamu pantas mendapatkannya.”
Koh meletakkan cangkirnya.
Lalu, dengan nada yang sama ramahnya, ia berkata.
“Tentu saja, seorang instruktur senior harus fokus ke depan. Bukan ke belakang.”
Ethan mengangkat kepala.
“Maksud Kolonel?”
“Aku dengar kamu masih sering memikirkan kecelakaan itu.” Koh tersenyum. “Itu wajar. Siapa pun akan begitu. Tapi kadang, terlalu lama menggali masa lalu justru membuat kita jatuh ke lubang yang kita gali sendiri.”
Udara di ruangan itu seperti mendadak lebih dingin.
“Berkas kecelakaanmu sudah ditutup,” lanjut Koh. “Kesimpulannya jelas. Cuaca buruk dan gangguan teknis. Orang-orang di atas ingin semua ini selesai. Media juga sudah lupa. Aku hanya ingin kamu juga bisa melupakannya dan melanjutkan hidup.”
Ethan memegang map itu lebih erat.
Ia teringat kata-kata Samuel. Jangan membantah. Jangan menuduh.
“Saya mengerti, Kolonel.”
“Bagus.”
Koh bersandar.
“Satu hal lagi. Aku dengar kamu punya kekasih dari Indonesia.”
Jantung Ethan berdetak satu kali lebih keras.
“Ya, Kolonel.”
“Perempuan yang setia. Dia menunggumu berhari-hari di markas, bukan? Semua orang membicarakannya.” Koh tersenyum lebih lebar. “Bawa dia ke Amerika. Udara di sana bersih. Jauh dari segala kerumitan di sini. Aku yakin dia ingin kamu aman.”
Kalimat itu diucapkan seperti nasihat seorang paman.
Tapi Ethan mendengar sesuatu yang lain di baliknya.
Aku tahu siapa dia.
Ethan menurunkan pandangan ke surat di tangannya, membiarkan Koh melihat keraguan di wajahnya. Keraguan yang tidak sepenuhnya pura-pura.
“Ini keputusan besar, Kolonel. Saya perlu membicarakannya dengan keluarga.”
“Tentu saja.”
“Boleh saya meminta waktu tiga hari?”
Koh memandanginya beberapa detik. Matanya tidak ikut tersenyum.
“Tiga hari,” katanya akhirnya. “Kesempatan seperti ini tidak menunggu lama, Captain.”
“Saya mengerti.”
Koh berdiri dan mengulurkan tangan lagi.
Ethan menjabatnya.
Saat itu, Koh menepuk bahu kirinya. Bahu yang terluka.
Tepukan ringan, hampir ramah.
Persis seperti di rumah sakit.
“Pikirkan baik-baik. Kadang takdir memberi kita kesempatan kedua. Jangan sampai kesempatan itu terbuang.”
Ethan berjalan keluar dari gedung itu dengan langkah teratur.
Ia tidak berhenti di lobi. Tidak berhenti di tangga. Tidak berhenti di parkiran.
Baru setelah masuk ke mobil dan menutup pintu, ia membiarkan kedua tangannya gemetar.
Map biru itu tergeletak di kursi penumpang.
Ia menelepon Samuel.
“Dia menawariku promosi. Mayor. Instruktur di Amerika selama setahun.”
“Syaratnya?”
“Berhenti menggali masa lalu.”
Samuel diam sebentar.
“Dan kamu menjawab apa?”
“Aku minta tiga hari.”
“Bagus.” Suara Samuel terdengar puas. “Biarkan dia percaya kamu bisa dibeli. Orang yang merasa sudah membeli sesuatu biasanya berhenti mengawasinya terlalu ketat.”
“Dia juga menyebut Jessica.”
Kali ini Samuel diam lebih lama.
“Apa katanya?”
“Bawa dia ke Amerika. Dia pasti ingin kamu aman.”
“Itu bukan tawaran, Captain.”
“Aku tahu.”
Ethan menyalakan mesin mobil.
Di kaca spion, gedung kantor pusat pertahanan semakin kecil. Di salah satu jendela lantai empat, ia membayangkan Koh berdiri memandanginya pergi sambil memegang cangkir teh.
Tiga hari.
Ia memutar kemudi menuju rumah. Ke tempat Jessica sedang menunggunya.
Satu hal kini sangat jelas baginya.
Koh tidak sedang menawarkan jalan keluar.
Ia sedang menghitung mundur.